Pertaruhan Ada di Kuartal III-2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Meski kontraksi yang terjadi sangat dalam, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan, secara teknikal, Indonesia belum masuk zona resesi. Karena, pertumbuhan ekonomi minus baru terjadi sekali dalam hitungan satu tahun belakangan. “Kalau dilihat secara year on year (yoy), Indonesia belum resesi secara teknikal, karena baru sekali mengalami kontraksi,” ujar wanita yang akrab disapa Ani itu.

Sementara yang disebut resesi adalah jika pertumbuhan di dua kuartal berturut-turut tercatat negatif. Ani menerangkan, pertumbuhan ekonomi negatif ini memang telah diprediksi oleh pemerintah, Bank Indonesia (BI) bahkan lembaga moneter dan keuangan luar negeri. Namun, angka -5,32 persen yang diumumkan BPS jauh lebih tinggi dari ekspektasi banyak pihak. “Kita ekspektasi kuartal II itu kontraksi, tapi rentang kontraksi antara minus 3,5 persen sampai minus 5,1 persen. Titik poin (nilai tengah) minus 4,3 persen,” ungkap Ani.

Ia menyebut, kontraksi pertumbuhan ekonomi yang melampaui proyeksi pemerintah ini harus dijadikan pemicu agar seluruh pemangku kebijakan berupaya lebih keras. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya tak negatif. “Kami harapkan masyarakat dan stakeholder juga bersama-sama dalam memulihkan perekonomian kita. Insya Allah kita tidak secara teknikal mengalami resesi,” ucapnya.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, meski terkontraksi, namun yang dialami Indonesia tidak separah negara-negara lain dunia. Negara-negara yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif lebih dalam. Antara lain Amerika Serikat -9,5 persen di kuartal I-2020, Tiongkok -6,8 persen di kuartal I- 2020, dan negaranegara kawasan Eropa -11,9 persen di kuartal II-2020.

Selanjutnya, negara tetangga RI, yakni Singapura terkontraksi 12 persen, dan Meksiko terkontraksi -18,9 persen. “Namun ada pertaruhan di kuartal III-2020 agar kita tidak masuk jurang resesi. Kuncinya, bagaimana kita melakukan recovery ataupun pembalikan,” kata Airlangga.

Ia juga memastikan pemerintah berupaya keras membawa Indonesia terbebas dari pertumbuhan ekonomi negatif di kuartal III-2020 untuk mencegah resesi. “Kami melakukan langkah extraordinary untuk mendorong ekonomi dapat bertahan di kuartal III dan IV tahun 2020. Strategi utama dalam mempercepat pemulihan ekonomi adalah melalui peningkatan belanja pemerintah,” ujar Airlangga.

Optimalisasi belanja pemerintah ini melalui implementasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang sedang digenjot pemerintah. “Peningkatan daya beli masyarakat dan dukungan di berbagai sektor diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi di triwulan III dan IV,” tegasnya.

Namun begitu, Sekretaris Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Raden Pardede mengatakan, proyeksi angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV hingga tahun 2021 akan lebih sulit dilakukan, mengingat ketidakpastian yang masih tinggi di belahan dunia manapun.

“Kita sulit sekali memastikan proyeksi. Kita lihat IMF, World Bank, OECD, dan lembaga pemeringkat lainnya merevisi kebawah terus menerus. Saya katakan sulit membuat proyeksi tahun depan, bahkan kuartal III dan IV. Oleh karenanya berbagai langkah dalam rangka program PEN harus gencar dilakukan untuk mengantisipasi resesi,” tegasnya.

Diketahui, BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi atau minus 5,32 persen di kuartal II tahun ini merupakan yang terdalam sejak kontraksi yang terjadi kuartal I-1999. Saat itu, pertumbuhan ekonomi RI mengalami kontraksi minus 6,13 persen. (jpg)

  • Dipublish : 10 Agustus 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami