Pertumbuhan Pasar Tekstil Berjalan Stagnan

Foto: Dok. Seskab
Foto: Dok. Seskab
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Setelah bulan lalu mengalami defisit sebesar 60 juta dollar AS, neraca perdagangan Indonesia pada bulan Agustus 2019 mengalami surplus 85,1 juta dollar AS. Angka ini didapat dari realisasi ekspor Agustus sebesar 14,28 miliar dollar AS. Sayang kondisi ini tidak dibarengi dengan pertumbuhan pasar tekstil masih berjalan stagnan.

Sementara realisasi impor pada bulan yang sama mencapai 14,20 miliar dollar AS. Neraca perdagangan Agustus 2019 itu juga merupakan peningkatan yang cukup drastis dibanding periode yang sama tahun 2018, yang mencapai 1,02 miliar dollar AS. “Alhamdulillah, neraca dagang kita surplus,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam keterangannya di kantor BPS Pusat, Jakarta.

Ditambahkannya, ekspor Indonesia pada Agustus 2019 menurun 7,60 persen dibanding Juli 2019, yaitu dari 15.454,2 juta dollas AS menjadi 14.280,3 juta dollar AS. Sementara jika dibanding Agustus 2018, ekspor menurun 9,99 persen.

Penurunan ekspor Agustus 2019 dibanding Juli 2019, menurut Suhariyanto, disebabkan oleh menurunnya ekspor nonmigas 3,20 persen, yaitu dari 13.848,6 juta dollar AS menjadi 13.404,9 juta dollar AS, demikian juga ekspor migas turun 45,48 persen dari 1.605,6 juta dollar AS menjadi 875,4 juta dollar AS.

“Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia periode Januari-Agustus 2019 mencapai 110,07 miliar dollar AS atau turun 8,28 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor kumulatif nonmigas mencapai 101,48 miliar dollar AS atau menurun 6,66 persen,” ungkap Suhariyanto.

FOTO: SESKABPASAR TEKSTIL DIBEDAH: Presiden Jokowi didampingi sejumlah pejabat menerima pengurus API dan APSyFI, di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin (16/9). Pertemuan ini mencari jalan keluar terhadap pertumbuhan pasar tekstil yang berjalan stagnan.

Impor Mengenai realisasi impor, Kepala BPS Suhariyanto mengemukakan, nilai impor Indonesia Agustus 2019 mencapai 14,20 miliar dollar AS atau turun 8,53 persen dibanding Juli 2019, demikian pula jika dibandingkan Agustus 2018 turun 15,60 persen.

“Impor nonmigas Agustus 2019 mencapai 12,56 miliar dollar AS atau turun 8,76 persen dibanding Juli 2019, demikian pula jika dibandingkan Agustus 2018 turun 8,77 persen. Sementara impor migas Agustus 2019 mencapai 1,63 miliar dollar AS atau turun 6,73 persen dibanding Juli 2019, dan turun 46,47 persen dibandingkan Agustus 2018,” kata Suhariyanto.

Nilai impor kumulatif JanuariAgustus 2019, menurut Suhariyanto, adalah 111.883,4 juta dollar AS atau turun 9,89 persen (12.283,5 juta dollar AS) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada impor migas dan nonmigas masing-masing 5.498,9 juta dollar AS (27,82 persen) dan 6.784,6 juta dolar (6,50 persen).

Lebih lanjut penurunan impor migas disebabkan oleh turunnya impor seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah 2.621,3 juta dollar AS (41,98 persen), hasil minyak 2.566,3 juta dollar AS (22,26 persen), dan gas 311,3 juta dollar AS (15,61 persen).

BPS mencatat, selama tiga belas bulan terakhir, nilai impor migas tertinggi tercatat pada Agustus 2018 dengan nilai mencapai 3.045,7 juta dollar AS dan terendah terjadi di Maret 2019, yaitu 1.520,8 juta dollar AS. Sementara itu, nilai impor nonmigas tertinggi tercatat di Oktober 2018, yaitu 4.750,7 juta dollar AS dan terendah di Juni 2019 dengan nilai 9.782,4 juta dollar AS.

Ditambahkan Kepala BPS, penurunan nilai impor non migas disebabkan oleh turunnya nilai impor beberapa negara utama seperti Tiongkok 358,7 juta dollar AS (8,75 persen), Italia 156,5 juta dollar AS (48,20 persen), dan Jerman 116,5 juta dollar AS (29,90 persen).

Demikian jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, impor JanuariAgustus 2019 dari tiga belas negara utama turun 7,84 persen (6.577,9 juta dollar AS ). Penurunan ini terutama disumbang oleh Jepang 1.488,2 juta dollar AS (12,42 persen), Thailand 1.010,9 juta dollar AS (13,88 persen), dan Singapura 889,6 juta dollar AS (13,37 persen).

“Dari sisi peranan terhadap total impor nonmigas JanuariAgustus 2019, sumbangan tertinggi diberikan oleh kelompok negara ASEAN sebesar 19,54 persen, diikuti oleh Uni Eropa 8,47 persen. Sementara itu, tiga belas negara utama memberikan peranan 79,20 persen, dan Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar dengan peran 29,17 persen,” ungkap Suhariyanto.

Terpisah, Presiden Joko Widodo mengemukakan, gejolak ekonomi dunia seperti perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat bisa menjadi tantangan tapi sekaligus bisa menjadi peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor, termasuk produk tekstil, serat sintetis, dan benang filamen.

“Apalagi industri tekstil dan pakaian jadi menjadi industri dengan pertumbuhan tertinggi di Triwulan II 2019 tahun ini, yaitu sebesar 20,71 persen. Ini adalah pertumbuhan yang yang sangat tinggi, dan masuk lima besar sebagai industri dengan kontribusi tertinggi terhadap PDB di Triwulan II 2019 yaitu 1,30 persen,” kata Presiden saat menerima Pengurus dan Anggota Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat Sintetis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), di Istana Merdeka, Jakarta.

Namun, lanjut Presiden, pertumbuhan pangsa pasar tekstil dan produk tekstil Indonesia di pasar global cenderung stagnan, yaitu di sekitar 1,6 persen. Ia juga menambahkan bahwa posisi Indonesia tertinggal jauh misalnya kalau dibandingkan dengan Cina itu 31,8 persen dan dua pesaing utama, yaitu Vietnam 4,59 persen dan Bangladesh 4,72 persen di tahun 2018.

Presiden mensinyalir, rendahnya pertumbuhan ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia itu karena tingginya biaya produksi lokal, fasilitas dan kebijakan dagang yang berpihak pada impor, dan kurangnya perencanaan jangka panjang yang berdampak pada minimnya investasi. Untuk itu, Presiden meminta masukan masukan baik dari API maupun APSyFI mengenai apa yang bisa dikerjakan bersama-sama.

“Saya ingin tahu betul apa yang diinginkan oleh pelaku usaha, saya kira jangan banyak-banyak usulannya, tiga pokok saja tapi kita rumuskan, kita putuskan, kemudian pemerintah akan lakukan kebijakannya sehingga betul-betul bermanfaat bagi semuanya,” kata Presiden.

Ia pun berharap gejolak ekonomi dunia itu justru menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperbaiki hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Sehingga kesempatan ini harus digunakan agar terjadi titik balik bagi industrialisasi yang ada di negara kita, pungkasnya.

(ful/fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 18 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami