Polisi Bekuk Pengedar Uang Palsu dari Taruhan Pemilihan Kepala Desa

UNGKAP: Kapolres Rembang AKBP Dolly A Primanto didampingi Kasatrekrim, AKP Bambang Sugito beserta jajarannya dengan perwakilan BI Wilayah Jateng saat tunjukan sitaan UPAL, kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)
UNGKAP: Kapolres Rembang AKBP Dolly A Primanto didampingi Kasatrekrim, AKP Bambang Sugito beserta jajarannya dengan perwakilan BI Wilayah Jateng saat tunjukan sitaan UPAL, kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

REMBANG, Radar Kudus – SP, 40, warga Grobogan harus berurusan dengan polisi. Ini karena bersangkutan kedapatan menyimpan dan mengedarkan uang palsu (Upal). Aksinya terungkap saat taruhan pada momen Pilkades serentak di Rembang November lalu.

            Ada 656 lembar yang berhasil disita. Pecahannya paling besar Rp 100 ribu sampai kecil 10 ribuan. Terinci 56 lembar uang palsu pecahan Rp 100 ribuan tahun emisi 2014, 57 lembar uang palsu pecahan Rp 50 ribu tahun emisi 2016.

Lalu 79 lembar uang palsu pecahan Rp 50 ribu tahun emisi 2005. Kemudian 433 lembar uang palusu pecahan Rp 20 ribu tahun emisi 2004. Selanjutnya 1 lembar uang palsu pecahan Rp 10 ribu tahun emisi 2005.

Saat ditunjukkan barang sitaan lembarannya sekilas mirip. Bagi orang awal bakal terkecoh. Utamanya pecahan lembaran Rp 100 ribuan. Karena tekniknya sudah bagus. Beda yang pecahan 20 ribuan dari sisi ukuranya sudah beda.

Untuk yang Upal pecahan Rp 20 ribuan, mencolok lebih besar. Lalu pencetakan yang dilakukan  kasar dan blur. Supaya tidak tertipu Kapolres Rembang, AKPB Dolly A Primanto didamping Kasatrekrim AKP Bambang Sugito dan perwakilan Bank Jateng Cabang Semarang tunjukan perbedaan. Agar masyarakat dapat terhindar.

Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah, Bank Indonesia Jateng, Rini Asih Wijihartanti tidak memungkiri ada pencetakan yang mirip. Utamanya lembaran Rp 100 ribuan. Bedanya hanya dari sisi bahan.

”Kalau asli gunakan kertas kapas. Lalu warna di masing-masing jelas dan terang. Lalu benang pengaman selalu ada dan ditanam. Dalam bentuk model anyaman, ada timbul dan tebal,” keterangannya secara gamblang.

Kemudian uang asli ada watermark. Misalnya gambar pahlawan. Untuk yang asli jelas. Kemudian teknik cetak menggunakan offset. Lalu unsur pengaman lain color safeting. Apabila dilihat dari sisi lain akan berubah.

Lalu ada integrio dan micro text. Misalnya uang Rp 100 ribuan yang dikeluarkan BI. Ada ditanam di titik-titik tertentu. Beda dengan palsu tidak akan terbaca. Sementara dari lembaran yang disita sudah jelas buram dan kertas yang digunakan HVS.

”Untuk benang yang digunakan uang palsu di sablon. Kalau asli teknik ditanam dan ada nominalnya. Lalu nomor serinya yang palsu dicetak laser printer,” paparannya.

Termasuk dari sisi logo tidak presisi. Dari segi warna kabur, aslinya terang. Makanya harus diperhatikan mendetail. Misalnya diraba mana yang kasar. Lalu diterawang untuk melihat rectoverso atau gambar saling isi dan watermark. Supaya masyarakat tidak tertipu.

Kapolres Rembang, AKBP Dolly A Primanto didampingi Kasatrekrim Polres Rembang, AKP Bambang Sugito beserta jajarannya mengamini Polres Rembang melalui Satreskrim berhasil mengungkap kasus UPAL. Sesuai UU RI No 7 tahun 2011 terkait UPAL. TKP di wilayah kecamatan Sumber.

”Moment yang dimanfaatkan pelaku berinisial SP. Pada saat kegiatan Pilkades beberapa waktu lalu. Menjanjikan untuk menukar uang. Dengan cara mencari lawan atau taruhan,” keterangannya.

Akhirnya SP menemui SR. Seorang SR merupakan korban UPAL. Ternyata SR sudah gantikan uang asli sebesar Rp 5 juta (asli). Menerima pecahan bervariatif. Mulai Rp 20 ribu, Rp 50 ribuan sampai Rp 100 ribuan.

SP menghilang. Akhirnya SR mencari rekannya. Dengan inisial SJ korban. Lalu SJ merasa curiga saat ingin ditukarkan. Karena bentuk uang dan segala macam berbeda. Tebal atau tidak sesuai aslinya. Sehingga SJ melaporkan Polres setempat.

”Kita himbau masyarakat untuk berhati-hati dan teliti. Apalagi sebentar lagi ada Pilkada dan kegiatan lainnya yang sifatnya transaksional,” pesannya.

Sementara pelaku SP mengaku UPAL yang dicari saat Pilkades tahun 2017. Tepatnya diperoleh di wilayah Sragen. Dirinya mengaku kali pertama tidak mengetahui status uang. Apakah asli atau palsu uang yang dipegangnya.

”Dulu saya mendapatkan Upal juga taruhan. Saat itu menang. Lalu saya gunakan lagi taruhan. Lembarannya pecahan bervariatif. Uang pernah saya gunakan, tapi tidak laku,” pengakuannya.

(jp)

  • Dipublish : 3 Desember 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami