Polisi Tangkap Lima Peserta Aksi Tolak PPKM, Bawa Bom Molotov

Polisi mengamankan 150 pemuda dari massa aksi tolak PPKM di Bandung. (Bagus Ahmad Rizaldi/Antara)
Polisi mengamankan 150 pemuda dari massa aksi tolak PPKM di Bandung. (Bagus Ahmad Rizaldi/Antara)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id –Kapolrestabes Bandung Kombespol Ulung Sampurna Jaya mengatakan, pihaknya menangkap lima orang oknum massa aksi unjuk rasa tolak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) karena membawa sejumlah bom molotov.

”Ada lima orang yang bawa molotov. Nanti silakan bisa dilihat barang buktinya,” kata Ulung seperti dilansir dari Antara di Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat.

Ulung bersyukur karena bom molotov itu belum sempat dinyalakan dan dilemparkan. ”Belum sempat (meledak) ya. Jadi sudah keduluan kita tangkap,” ujar Ulung.

Adapun lima orang tersebut kini sudah ditangani Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung. Selain lima orang itu, polisi juga mengamankan 150 orang dari massa aksi tersebut. Seratusan orang itu, kata kapolrestabes, terdiri atas pemuda mulai dari mahasiswa, siswa SMA, siswa SMP, dan pemuda putus sekolah. Mereka diduga terlibat aksi yang membuat gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

”Selama kita melaksanakan pembubaran, ditemukan bom molotov, yang dipersiapkan kelompok mereka. Sehingga, kami berkesimpulan mereka ingin membuat Kota Bandung tidak kondusif,” tutur Ulung.

Aksi unjuk rasa itu bermula Rabu (21/7) sekitar pukul 12.00 WIB di Balai Kota Bandung. Kemudian massa aksi bergerak menuju Gedung Sate melalui Jalan Ir Djuanda. Namun belum sempat sampai Gedung Sate, massa justru melakukan aksi penutupan jalan di Simpang Jalan Sulanjana-Jalan Diponegoro. Diduga massa melakukan perusakan sejumlah fasilitas umum di sepanjang jalan itu.

Kapolrestabes juga mengatakan, tiga orang dari massa aksi unjuk rasa menolak PPKM di Bandung reaktif Covid-19. Mereka dinyatakan reaktif setelah polisi melakukan tes usap antigen.

”Jumlahnya bisa bertambah karena pengetesan baru dimulai. Artinya memang kerawanan dalam kerumunan itu sangat tinggi,” terang Ulung.

Polisi sejauh ini mengamankan 150 orang pemuda dari massa aksi unjuk rasa yang sempat menyebabkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Polisi melakukan pendataan dan melakukan tes usap kepada peserta aksi yang diamankan itu.

Menurut Ulung, massa aksi unjuk rasa itu banyak yang mengabaikan protokol kesehatan. Mulai dari tidak menjaga jarak dan tidak menggunakan masker. ”Mereka seolah-olah tidak ada Covid-19 dan tidak pakai masker. Oleh karena itu kami lakukan pembubaran dan pukul mundur, agar Covid-19 tidak meluas lagi,” papar Ulung. (jpc/jm)
  • Dipublish : 22 Juli 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami