Polri Bongkar Pabrik Rumahan Mie Mengandung Formalin dan Boraks

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA,- Direktorat Tindak Pidana Terpadu (Ditpidter) Bareskrim Polri mengungkap 3 pabrik rumahan pembuat mie yang mengandung borak dan formalin. Tiga orang diamankan dalam kasus ini. Mereka ditangkap di tempat yang berbeda, pada Kamis (5/9).

Lokasi pertama yakni di Jalan Pelda Suryanta, RT 003/RW 011, Kelurahan Naggeleng, Kecamatan Citamiang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di sini ditangkap tersangka berinisial M, 57. Lokasi Kedua yakni di Kampung Cikolotok RT02 RW 01 Desa Sukamulya, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di sini ditangkap tersangka berinisial, AS, 53.

“TKP ketiga yakni Kampung Cijendil RT01 RW 01 Desa Cijendil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dengan tersangka berinisial RH, 39,” kata Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Bareskrim Polri Jakarta Selatan, Senin (16/9).

Dalam menjalankan bisnis nakalnya, para tersangka mencampur formalin dalam air rebusan mie sebagai zat pengawet. Dan mencampurkan borak dalam adonan mie dengan bertujuan agar mie yang dihasilkan memiliki tekstur kenyal.

“Kemudian pelaku menjual hasil produksi nya yang dibeli oleh pedagang dan sebagian besar diperjual belikan di wilayah DKI Jakarta, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi dan kabupaten Sukabumi,” tambah Dedi.

Dedi menjelaskan, bahan baku pembuatan mie diperoleh para tersangka dari pasar dekat lokasi pabrik. Sementara itu, formalin dan boraks diperoleh dari Kota Bandung, Parung, Kabupaten Bogor dan wilayah Sukabumi, serta Cianjur.

Adonan mie yang telah jadi kemudian direbus dengan air yang telah dicampur boraks. Selanjutnya didinginkan sembari diberi pewarna makanan. Dan dibungkus dalam plastik transparan per 5 kilogram yang dibungkus menjadi 1 ball. Di mana per ball berisi 40 kilogram mie siap edar.

Para tersangka memasarkan mie produksi mereka secara langsung ke pasar – pasar tradisional. Adapula yang diambil langsung oleh pemesan di rumah produksi. “Para tersangka mampu memproduksi mie 5 ton per harinya. Omset tersangka dalam melakukan perbuatan sebesar Rp 50 juta sampai dengan Rp 100 juta per bulan,” jelas Dedi.

Mie hasil produksi para tersangka dijual seharga Rp 4.500 per kilogram, lebih murah dari harga mie sejenis pada umumnya seharga Rp 5 ribu per kilogram.

Dari tangan tersangka turut disita senumlah barang bukti. Diantaranya 4 mesin pencetak mie, 4 mesin pengaduk adonan mie, 4 timbangan, 5 kipas angin, 1 mesin kompresor, 2 tabung pompa solar, dan 85 ball mie berformalin siap edar setara dengan 3,5 ton.

Para tersangka dijerat Pasal 136 huruf b Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp10 miliar, dan Pasal 8 ayat (1) huruf a Jo Pasal 62 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2 miliar. (jp)

  • Dipublish : 17 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami