Polri Buru Penyebar Hoaks Rasis Papua

Ilustrasi
Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Dua kerusuhan terjadi lagi di Bumi Cendrawasih. Kali ini terjadi di Wamena, Jayawijaya dan di Expo Waena, Jayapura, Papua, Senin (23/9). Akibat kerusuhan itu tercata7 21 orang tewas, 17 di Wamena dan empat di Waena, Abepura, salah Praka Zulkifli, anggota TNI Yonif 751 Raider.

Karopenmas Divisi humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, kasus kerusuhan di Wamena, Jayapura, Senin (23/9) pagi, telah berhasil ditangani aparat TNI-Polri. Aksi bisa diredam agar tak meluas.

“Alhamdulillah sampai hari ini, berdasarkan informasi situasi sudah dikendalikan oleh aparat TNI dan Polri, dan selalu kita imbau dengan melakukan pendekatan sosial dengan menggunakan tokoh gereja, tokoh agama, kemudian para tokoh adat disana termasuk pemerintah daerah untuk tidak terprovokasi dengan sebaran berita hoaks,” kata Dedi di Mabes Polri, Senin (23/9).

Menurut Dedi, kasus kerusuhan ini akibat adanya penyebaran hoaks rasis.
“Ya, informasi penyebaran hoaksnya masih sama tentang rasis tetap, tapi yang dikembangkan dengan isu lebih sensitif. Terkait hal itu, saat ini juga langsung didalami akun-akunnya oleh tim Direktorat Siber Bareskrim Mabes Polri,” tuturnya.

Dampak dari kerusuhan yang terjadi, Dedi menyebut belum bisa memberikan secarai detail.

“Informasi yang saya dapat belum bisa diupdate secara full ya, karena Kapolres belum bisa kami hubungi, karena masih melakukan negosiasi dengan massa agar kejadian tersebut tidak meluas,” ungkap Dedi.

“Sementara kerusakan juga belum bisa terklarifikasi, seperti ada beberapa fasilitas publik yang dirusak dan dibakar. Tapi yang terklarifikasi hanya beberapa ruko-ruko, untuk kantor pemerintahan ada juga yang terserang namun belum bisa terklarifikasi yang rusak milik siapa, masih harus kita konfirmasi lebih lanjut,” sambungnya.

Selain itu, Dedi juga mengatakan pihaknya tengah mendalami keterkaitan massa demonstrasi di depan Kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) Abepura, Kota Jayapura dengan massa unjuk rasa berakhir anarkis di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

“Yang Universitas Cenderawasih dan Wamena beda, tetapi indikasi keterkaitan didalami aparat,” ujarnya.

Aparat sesuai permintaan Rektor Uncen meredam kericuhan dengan melakukan negosiasi dengan massa mahasiswa yang menduduki auditorium dan mengganggu kegiatan belajar-mengajar di universitas itu.

Massa yang melakukan demo di depan Auditorium Uncen Abepura menuntut pendirian posko untuk mahasiswa Papua yang pulang dari belajar di luar Papua.

Namun, aksi tersebut tidak mendapat izin, baik dari Polda Papua maupun dari Rektorat Uncen. Massa kemudian difasilitasi petugas untuk kembali ke daerah Expo Waena menggunakan truk dan bus umum dengan dikawal aparat keamanan.

Satu aparat TNI, Praka Zulkifli, sebagai pengemudi truk dinas yang mengangkut pasukan dibacok oleh massa pendemo yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) itu sehingga gugur.

Terpisah, Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal memaparkan, kerusuhan yang terjadi di Wamena, Jayawijaya, Papua, pada sekitar pukul 07.25 WIT, berawal dari bentrokan pelajar dan juga masyarakat yang melakukan penyerangan ke Sekolah Yapis Wamena.

“Telah terjadi penyerangan ke Sekolah Yapis Wamena oleh anak SMA PGRI yang tergabung dengan masyarakat kurang-lebih sekitar 200 orang,” jelas Kamal dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Senin (23/9).

Menurut Kamal, penyerangan terjadi saat pelajar SMA PGRI hendak berdemonstrasi di halaman sekolah dengan mengajak sekolah Yayasan Yapis. Namun, Sekolah Yapis tidak mau ikut, dengan melakukan perlawanan terhadap massa tersebut.

“Dari sini, aksi massa dengan membakar sejumlah fasilitas pemerintah, umum, dan milik warga terjadi terjadi. Sedangkan, Polisi dan TNI pun langsung berupaya mengendalikan situasi,” ucapnya.

Terkait dengan isu ucapan rasisme, diakui Kamal, itu tidak benar. Sebab, pihaknya juga sudah menanyakan kepada pihak sekolah dan guru dan terjadi bisa dipastikan tidak ada kata-kata rasis.

“Kami harap masyarakat di Wamena dan di tanah Papua tidak mudah terprovokasi isu yang belum tentu kebenarannya,” tutur Kamal.

Lebih jauh, Kamal menyampaikan, kerusuhan tidak hanya terjadi di sana, ada juga di kawasan Expo Waena, Jayapura. Dimana kerusuhan itu terjadi saat pemulangan para pendemo ke arah kawasan Expo Waena.

Menurutnya, pemulangan para pendemo ke kawasan Expo, sesuai kesepakatan dengan Kapolres Kota Jayapura. Hingga kemudian, petugas pun membantu pemulangan pendemo yang sebelumnya berada di halaman depan auditorium menggunakan 15 truk.

Saat kendaraan yang mengangkut mereka berada di Jembatan Waena, para pendemo minta diturunkan dari truk. Dan dari situ, tiba-tiba pendemo menyerang anggota TNI yang beristirahat di warung.

Sementara Kapolres Jayawijaya AKBP Tonny Ananda Swadaya menyebut aksi pelajar PGRI disusupi massa dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Dan mereka ikut menggunakan seragam SMA.

“Itu (aksi pelajar) dari PGRI yang disusupi KNPB dan mahasiswa. Mereka pakai baju seragam SMA. Jadi bukan pelajar semuanya, tapi aksi itu sudah disusupi,” ujar Tonny.

(Mhf/gw/fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 24 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami