Polri Harus Ungkap Jenderal dan Aktor Intelektual Kasus Novel

Dok. Foto: Faisal R Syam / FAJAR INDONESIA NETWORK.
Dok. Foto: Faisal R Syam / FAJAR INDONESIA NETWORK.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Bareskrim Mabes Polri berhasil menangkap dua terduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Keduanya disebut merupakan anggota Polri aktif berinisial RM dan RB.

Terkait hal ini, Anggota Tim Advokasi Novel Baswedan Alghiffari Aqsa berpendapat, penangkapan tersebut menjadi bukti adanya dugaan keterlibatan oknum polisi dalam kasus kliennya. Dugaan tersebut, kata dia, telah muncul sejak awal peristiwa penyiraman air keras terjadi.

“Sejak awal jejak-jejak keterlibatan anggota Polri dalam kasus ini sangat jelas, salah satunya adalah penggunaan sepeda motor anggota kepolisian,” ujar Alghiffari kepada wartawan, Jumat (27/12).

Maka dari itu, Alghiffari meminta Polri untuk turut mengungkap dugaan adanya aktor intelektual dan jenderal yang terlibat dalam kasus ini. Dirinya juga mengingatkan kepolisian jangan hanya berfokus mengusut pelaku lapangan.

Karena, menurut dia, berdasarkan hasil temuan tim pencari fakta (TPF) bentukan Polri, serangan terhadap Novel memiliki keterkaitan dengan beberapa kasus besar yang ditangani kliennya sebagai penyidik KPK.

“Sehingga tidak mungkin pelaku hanya berhenti di dua orang ini. Oleh karena itu perlu penyidikan lebih lanjut hubungan dua orang yang saat ini ditangkap dengan kasus yang ditangani Novel atau KPK,” ucap Alghiffari.

Lebih lanjut, Alghiffari pun mendesak kepolisian untuk memastikan apakah kedua terduga pelaku menyerahkan diri atau ditangkap. Karena, kata dia, terdapat kesimpangsiuran mengenai kabar tersebut.

Apabila menyerahkan diri, Polri didesak mengungkap motif terduga pelaku yang tiba-tiba melakukan hal tersebut. Selain itu, kata dia, Polri juga harus bisa memastikan kedua terduga pelaku tersebut menyerahkan diri bukan atas dasar pasang badan guna menutupi keterlibatan pelaku lain yang memiliki peran lebih besar dalam kasus ini.

“Polri harus membuktikan pengakuan yang bersangkutan bersesuaian dengan keterangan saksi-saksi kunci di lapangan,” ungkapnya.

Hal ini, menurutnya, diperlukan lantaran terdapat sejumlah kejanggalan. Seperti, Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) tertanggal 23 Desember 2019 yang menyatakan pelakunya belum diketahui. Selain itu, dibeberkannya, terdapat perbedaan informasi yang menyebut kedua pelaku menyerahkan diri atau ditangkap.

“Temuan polisi seolah-olah baru sama sekali. Misal apakah orang yang menyerahkan diri mirip dengan sketsa-sketsa wajah yang pernah beberapa kali dikeluarkan Polri. Polri harus menjelaskan keterkaitan antara sketsa wajah yang pernah dirilis dengan tersangka yang baru saja ditetapkan,” tuturnya.

Tak lupa, Alghiffari juga mendesak Polri untuk turut mengusut teror lainnya yang menimpa pegawai dan mantan pimpinan KPK seperti teror bom di kediaman Agus Rahardjo dan Laode M Syarif.

“Presiden perlu memberikan perhatian khusus atas perkembangan teror yang menimpa Novel. Jika ditemukan kejanggalan maka Presiden harus memberikan sanksi tegas kepada Kapolri,” tegasnya.

Anggota Komisi III DPR Trimedya Pandjaitan meminta Polri mengungkap motif kasus tersebut. Politisi PDI Perjuangan itu berharap semoga kedua pelaku yang ditangkap ini memang benar-benar pelaku penyiraman terhadap Novel.

“Dengan menangkap pelaku yang sesungguhnya maka bakal terungkap apa motif di balik penyiraman terhadap Novel,” katanya.

Dia menilai dengan menangkap pelaku yang sesungguhnya akan terungkap motif penyerangan tersebut apakah disuruh orang, kalau disuruh siapa yang menyuruh.

Apakah terkait dengan perkara yang ditangani oleh Novel sehingga semua terang benderang sehingga tidak ada salah sangka dan menuduh pemerintah melindungi pelakunya.

Trimedya mengatakan terkait kemungkinan kasus penyiraman tersebut digerakan petinggi Polri, itu menjadi wewenang Kepolisian untuk mengungkapnya sehingga kasusnya benar-benar bisa terbuka secara gamblang.

“Ya kita minta polisi untuk mengungkapnya. Kalau, misalnya, ada yang menyuruh, siapa yang menyuruh? Dan itu terkait penanganan perkara oleh Novel atau tidak? Atau ada dendam pribadi kepada Novel? Mengungkap motif ini sangat penting,” ujarnya.

Menurut dia pengungkapan kasus tersebut menunjukkan pemerintah serius mengungkap kasus Novel walau pun memakan waktu yang cukup lama sehingga menimbulkan kecurigaan, prasangka dan menganggap pemerintah tidak serius untuk mengungkap kasus Novel.

Dia mengatakan, beberapa waktu lalu diumumkan orang yang ditangkap, namun ternyata bukan pelakunya sehingga dengan rentan waktu pengungkapan yang panjang, semoga yang ditangkap memang benar-benar pelaku sesungguhnya.

Terpisah, Ketua KPK Firli Bahuri sangat mengapresiasi keberhasilan . Ia mengaku senang mendengar kabar terkait adanya progres pengungkapan perkara teror terhadap pegawai KPK.

“Saya selaku Ketua KPK menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya,” ujar Firli di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Jumat (27/12).

Menurutnya, kepolisian di bawah komando Jenderal Idham Azis telah bekerja secara maksimal guna mengungkap kasus ini. Ia pun mengucapkan selamat kepada Polri atas capaian tersebut.

“Saya menyampaikan sukses dan selamat kepada seluruh jajaran kepolisian. Ini adalah jawaban yang telah lama ditunggu oleh rakyat Indonesia,” ungkap Firli.

Senada, Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron mengaku bersyukur Polri dapat menangkap pelaku penyerangan Novel. Ia berharap, kedua pelaku dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.

“Ini memberikan harapan bagi rakyat Indonesia bahwa hukum ditegakkan. Saya yakin itu nanti akan dikembangkan oleh Polri,” kata dia.

(riz/gw/fin)

  • Dipublish : 28 Desember 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami