Polri Sebut Tantangan Pilkada di Masa Pandemi Lebih Sulit

Ilustrsi Pilkada serentak 2020 (Kokoh Praba Wardani/JawaPos.com)
Ilustrsi Pilkada serentak 2020 (Kokoh Praba Wardani/JawaPos.com)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKRATA – Wakil Ketua Satuan Tugas Nusantara (Satgasnus) Mabes Polri, Brgjen Pol Umar Effendi mengimbau agar masyarakat lebih bijak dalam menggelar kampanye saat Pilkada serentak 2020. Hal ini tak lepas dari situasi pandemi Covid-19 di Indonesia yang masih berlangsung.

Umar mengatakan perkembangan penularan Covid-19 di Indonesia masih cukup tinggi. Bahkan trennya masih terus naik seperti di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Oleh karena itu, protokol kesehatan harus tetap dijalankan supaya mencegah terjadinya penularan di tempat umum.

“Tema pada diskusi kali ini adalah apakah ada kaitannya politisasi dan sebagainya. Saya memandangnya kami dari satgas nusantara, yang ditujukan dalam tugas-tugas kita adalah sebagai cooling system pada nanti pilkada serentak,” ujar Umar dalam diskusi virtual bertajuk Menjaga NKRI di Tengah Politisasi Penanggulangan Pandemi Covid-19, Kamis (3/9).

Atas dasar itu, Umar menilai perlu ada langkah-langkah yang jelas agar pandemi Covid-19 tidak menjadi bahan politisasi saat kampanye berlangsung. Ia khawatir, kondisi ini dimanfaatkan oleh elit-elit politik tertentu untuk mengambil keuntungan.

“Tetapi masyarakat yang menerima dampaknya. Ini yang harus kita hindari,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Umar mengatakan, Polri sudah mulai mencatat sejumlah kasus yang berkaitan dengan Covid-19 yang terjadi sebelum masa kampanye. Antara lain penyalahgunaan bantuan sosial, penambahan pasien sekaligus klaster baru Covid-19, termasuk pro dan kontra sistem pembelajaran siswa di rumah.

“Ini juga menjadi bahan politisasi baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Kemudian bertambahnya pemutusan hubungan kerja, artinya pengangguran terus bertambah. Kemudian naiknya tindak pidana di tengah pandemi yang terjadi. Apalagi dijambret, perampokan, street crime itu bertambah,” ucapnya.

“Kemudian yang tidak kalah penting untuk diantisipasi adalah penyebaran hoaks ketika pandemi. Tadi hal yang tidak ada di dalam dunia nyata tapi diberitakan di dunia maya. Menjadi hoaks sehingga terjadi kekisruhan,” imbuhnya.

Umar menilai, Pilkada pada masa pandemi Covid-19 seperti ini akan menjadi sangat kompleks. Tantangannya akan lebih sulit dibanding saat Pilkada biasa. Pada masa seperti sekarang, baik penyelenggara maupun peserta akan menerapkan penyesuaian dengan kondisi sekarang.

“Artinya covid ini sudah cukup rawan, ditambah lagi mulainya tahapan Pilkada. Artinya ada kelompok-kelompok masyarakat nanti yang pro calon satu, pro calon dua dan sebagainya. Ini juga akan menimbulkan gesekan,” pungkasnya. (jp)

  • Dipublish : 3 September 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami