Prabowo Berjanji Cegah Kebocoran Anggaran di Kemhan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) wajib memprioritaskan industri dalam negeri. Selain itu, belanja anggaran pertahanan yang berorientasi untuk proyek juga harus diakhiri.

“Jangan lagi orientasinya adalah penyerapan anggaran. Mampu membelanjakan anggaran sebanyak-banyaknya. Apalagi orientasinya sekadar proyek. Sudah, stop yang seperti itu,” tegas Presiden Joko Widodo saat rapat terbatas terkait kebijakan pengadaan Alutsista di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (22/11).

Orientasi belanja pengadaan alutsista, lanjut Jokowi, harus kepada kemitraan strategis. Yakni untuk meningkatkan kemandirian produksi dan daya saing bangsa. “Sehingga kita memliki kemampuan memproduksi alutsista yang dikerjasamakan tersebut,” imbuhnya.

Kepala Negara menegaskan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang industri pertahanan juga dapat ditingkatkan. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini meminta kebijakan pengadaan alutsista mempertimbangkan kemajuan teknologi. “Jangan sampai pengadaan Alutsista kita menggunakan teknologi yang sudah usang. Atau tidak sesuai dengan corak peperangan di masa yang akan datang,” papar Jokowi.

Indonesia sebagai negara yang terletak di lokasi strategis harus menjadi kekuatan yang disegani di kawasan Asia Timur. Karena itu, Indonesia wajib memperkuat pertahanan dengan alutsista modern. Yang terpenting, Indonesia juga mandiri dalam memproduksi alutsista tersebut. “Dalam pengembangan industri alutsista dalam negeri mulai dari hulu sampai hilir. Libatkan BUMN maupun swasta. Sehingga kita bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor alutsista dari luar negeri,” papar Prabowo usai rapat terbatas.

Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto sepakat dengan Jokowi. Dia akan berusaha sebanyak mungkin pengadaan tersebut berasal dari industri dalam negeri. Mantan Danjen Kopassus itu akan memprioritaskan industri pertahanan dalam negeri. “Kita punya banyak. Ada Pindad, ada PAL, ada PT DI (Dirgantara Indonesia, Red), ada Len, ada Dahana. Selain itu, ada juga juga perusahaan swasta yang hebat,” terang Ketua Umum DPP Partai Gerindra ini.

Prabowo juga akan menyisir belanja alutsista yang berorientasi proyek. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya kebocoran anggaran. “Kita akan review semua. Presiden sangat tegas lagi kepada saya. Tidak boleh lagi ada kebocoran, tidak boleh ada penyimpangan, tidak boleh ada penyelewengan uang. Sebab, sangat berat didapat uang rakyat dari pajak,” imbuhnya.

Tak hanya itu. Prabowo juga akan melihat mereview harga dan teknologi. “Proyek akan kita review. Harga dicek ulang. Teknologinya sudah tepat atau belum. Sebab, ini yang dibutuhkan oleh pasukan kita. Baik di AD, AL dan AU,” beber mantan Pangkostrad ini.

TNI AU Pesan Jet Tempur Baru

Terpisah, KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna berencana memesan pesawat jet tempur jenis F-16 Block 70/72 Viper buatan Amerika Serikat. Rencana itu akan dimasukkan pada rencana strategis (Renstra) berikutnya. “Pesawat jet tempur Viper ini adalah yang tercanggih dan terbaru dari jenis F-16 yang ada,” terang Yuyu.

Namun, hal tersebut tergantung kondisi anggaran. Begitu juga pesawat jet tempur jenis Sukhoi 35 juga sudah ada perencanaan pembelian. Menurutnya, alutsista di TNI dalam pengadaannya ada perencanaan jangka pendek dan panjang. “Tugas kami TNI AU adalah membangun kekuatan melaksanakan atau memproses pengadaan yang ada di Renstra. Kontrak-kontrak sudah hampir selesai. Kalau sudah selesai tinggal menunggu kedatangan alutsista tersebut,” jelasnya.

(fin)

  • Dipublish : 23 November 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami