Presiden Masih Remehkan Corona, 1,1 Juta Warga Brasil Diduga Positif

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

RIO DE JANEIRO—Rumah sakit, kamar mayat, dan pemakaman sudah mengalami kewalahan luar biasa di seluruh Brasil. Negara terbesar di Amerika Latin itu pun diklaim semakin dekat untuk menjadi salah satu hot spot pandemi virus corona dunia.

Para pejabat medis di Rio de Janeiro dan setidaknya empat kota besar lainnya bahkan telah memperingatkan bahwa sistem rumah sakit mereka berada di ambang kehancuran. Mereka mengaku sudah terlalu kewalahan untuk menerima pasien lagi.

Namun, Presiden Brasil, Jair Bolsonaro sejauh ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda goyah dan masih menganggap Covid-19 adalah penyakit yang relatif kecil. Makanya, ia menegaskan langkah-langkah sosial yang luas tidak diperlukan saat ini. Dia mengatakan hanya warga yang berisiko tinggi yang harus diisolasi.

Kenyataan di lapangan, jauh dari apa yang disampaikan presiden. Di Manaus, kota terbesar di Amazon, para pejabat mengatakan mereka sudah membuat kuburan massal karena ada begitu banyak kematian. Pekerja mengubur 100 mayat sehari – tiga kali lipat rata-rata pemakaman sebelum virus.

Ytalo Rodrigues, seorang pengemudi penyedia layanan penguburan di Manaus, mengatakan ia telah bekerja lebih dari sehari tanpa istirahat. Pemuda berusia 20 tahun itu mengatakan, ia mengantar satu demi satu mayat selama lebih dari 36 jam, tanpa istirahat.

Menurut Rodriguez, ada begitu banyak kematian yang terjadi. Makanya, majikannya harus menambah mobil jenazah untuk bisa memenuhi permintaan masyarakat yang ingin menguburkan keluarga mereka.

Sejauh ini, kementerian kesehatan Brasil telah mengkonfirmasi hampir 53.000 kasus Covid-19 dan lebih dari 3.600 kematian. Menurut perhitungan resmi, negara itu mengalami hari terburuknya pada hari Kamis, dengan sekitar 3700 kasus baru dan lebih dari 400 kematian, dan kemarin hampir sama suramnya.

Para ahli memperingatkan bahwa pengujian remeh berarti jumlah sebenarnya infeksi jauh lebih besar. Dan karena butuh waktu lama untuk diproses, angka saat ini sebenarnya mencerminkan kematian yang terjadi satu atau dua minggu lalu, kata Domingos Alves, asisten profesor kedokteran sosial di Universitas Sao Paulo, yang terlibat dalam proyek tersebut. .

“Kami sedang melihat foto masa lalu. Oleh karena itu, jumlah kasus di Brasil mungkin bahkan lebih besar daripada yang kami prediksi,” kata Alves dalam sebuah wawancara pekan lalu seperti dikutip dari TVNZ yang mengutip AP.

Para ilmuwan dari Universitas Sao Paulo, Universitas Brasilia dan lembaga lainnya mengatakan jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi virus pada minggu ini jauh di atas angka yang dirilis pemerintah. Mereka memprediksi angkanya mungkin sebanyak 587.000 hingga 1,1 juta orang.

Kementerian kesehatan mengatakan dalam sebuah laporan awal bulan ini bahwa mereka memiliki kapasitas untuk menguji 6700 orang per hari. Jumlah itu jauh dari 40.000 yang dibutuhkan ketika virus memuncak.

“Kita harus melakukan lebih banyak tes daripada yang kita lakukan, tetapi laboratorium di sini bekerja dengan sangat baik,” kata Keny Colares, seorang spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Sao Jose di negara bagian Ceara timur laut yang telah menasihati pejabat negara tentang pandemi tersebut.

Sementara itu, petugas kesehatan hampir tidak dapat menangani kasus yang mereka miliki. Di negara bagian Rio, semua kecuali satu dari tujuh rumah sakit umum yang disiapkan merawat Covid-19 sudah penuh dan hanya dapat menerima pasien baru setelah yang lain pulih atau meninggal. Itu  menurut kantor pers sekretariat kesehatan. Satu-satunya fasilitas yang masih kosong terletak dua jam perjalanan dari pusat ibukota.

Hari ini, kota Rio berencana untuk membuka rumah sakit lapangan pertamanya dengan 200 tempat tidur. Setengah di antaranya disediakan untuk perawatan intensif. Rumah sakit lain yang didirikan di samping stadion sepak bola bersejarah Maracana akan menawarkan 400 tempat tidur mulai bulan depan.

Di ibukota Ceara, Fortaleza, pejabat negara mengatakan pada Jumat bahwa unit perawatan intensif untuk pasien Covid-19 hampir 92 persen penuh. Dan para ahli dan pejabat kesehatan sangat khawatir tentang virus yang menyebar ke lingkungan termiskin, atau favela.

Sejumlah kematian yang terjadi juga tidak masuk data COVID-19. “Saya melihat banyak mayat juga diduga (memiliki) COVID-19 di ruang bawah tanah rumah sakit. Orang-orang perlu percaya bahwa ini serius, bahwa itu membunuh,” kata Bessa, seorang perawat di sebuah rumah sakit di negara bagian lain.

Presiden Bolsonaro sejauh ini menolak prediksi mengerikan pejabat kesehatan tentang penyebaran virus di negara itu. Bahkan, pekan lalu, presiden memecat seorang pejabat kesehatan yang telah mendukung langkah-langkah anti-virus yang keras dan menggantikannya dengan seorang advokat. (amr/fajar)

  • Dipublish : 25 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami