Presiden Pastikan WNI Dikarantina Sehat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang dipulangkan dari Wuhan, Provinsi Hubei, China dalam kondisi sehat. Meski demikian sebagai langkah antisipasi penyebaran virus corona di tanah air, pemerintah melakukan sejumlah pengawasan sesuai dengan standar yang diterapkan badan organisasi kesehatan dunia (WHO).

Presiden Jokowi kembali menegaskan seluruh WNI yang dievakuasi dari Wuhan, dalam keadaan sehat. Meski demikian, tetap harus mengikuti observasi sesuai protokol kesehatan internasional.

“Observasi sehingga betul-betul dinyatakan mereka ‘clean’ (bersih), bersih, sehingga dapat kembali ke keluarga masing-masing. Itu protokol kesehatan yang harus diikuti,” tegasnya.

Tak lupa Jokowi juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Natuna, karena lokasi di Kepulauan Riau itu menjadi tempat karantina sementara.

“Saya juga berterima kasih ke masyarakat Natuna yang juga sudah memberikan lampu hijau karena ini saudara-saudara kita sendiri. Memang kemarin ada beberapa alternatif, ada yang kemarin, Morotai misalnya, Biak. Tidak semua pulau bisa dipakai,” ujar dia.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantono mengatakan pemeriksaan kesehatan untuk setiap WNI yang tengah dikarantina di Natuna dilakukan dua kali sehari.

“Sampai tadi malam jam 23.00 dilaporkan semua dalam keadaan baik. Hari ini sedang dilakukan proses pengukuran suhu setelah mereka melakukan olahraga dan sarapan,” kata Anung.

Sebanyak 238 WNI dari Hubei yang dikarantina ditempatkan di hanggar yang sudah disiapkan. Hanggar tersebut sudah dimodifikasi dan ditempatkan di 10 tenda, tujuh kamar secara terpisah. Laki-laki dan perempuan pun juga dipisahkan.

Sementara 27 anggota tim penjemput di luar tenaga kesehatan yaitu lima anggota tim advance dari Kemlu RI dan 15 kru Batik Air ditempatkan terpisah. Mereka tidak dalam satu kompleks hanggar, namun tetap di dalam ring satu wilayah karantina yang aksesnya dibatasi dari lingkungan luar.

Selain itu, Anung juga mengatakan Pemerintah terus memantau perkembangan tiga WNI yang gagal pulang dikarenakan tidak lolos skrining kesehatan di China.

“Pemerintah sudah melakukan pendataan terhadap tiga orang saudara kita yang tidak bisa ikut pulang. Karena dua batuk pilek, satu demam. Waktu berangkat kan masih bersamaan dengan rekan-rekan yang jumlahnya 238 itu, kita lebih waspada,” kata Anung.

Dilanjutkan Anung, pihaknya juga membagi wilayah karantina menjadi tiga lapis. Pertama di mana para WNI tidak ada yang kontak dengan orang lain kecuali tenaga kesehatan. Pada lapis kedua digunakan untuk dukungan pelayanan kesehatan, makanan, dan sebagainya. Sementara di lapis ketiga digunakan untuk tempat melakukan pemantauan.

“Kami semua ada di situ untuk memastikan bahwa apa yang dikhawatirkan oleh masyarakat itu tidak terjadi,” kata Anung.

Anung menegaskan penempatan karantina di hanggar pangkalan udara bukan hanya mempertimbangkan lokasi yang paling jauh, namun melihat psikologi para WNI yang diobservasi kesehatannya agar tidak stres.

“Pertimbangan jarak yang berjauhan dengan lokasi masyarakat juga menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi karantina merujuk pada mekanisme penularan virus,” jelasnya.

Anung menyatakan sejauh ini mekanisme penularan masih belum jelas meski beberapa menyebutkan kemungkinan melalui kontak dekat, melalui udara, dan juga melalui droplet atau dahak dan bersin orang yang terinfeksi.

Namun, Anung memastikan jarak tempat observasi kesehatan para WNI di Natuna cukup jauh dari lingkungan masyarakat umum.

“Jarak yang saat ini ada diyakini cukup jauh, virus ini juga tidak terlalu kuat di udara, daerah itulah yang kemudian kita yakin. Kita dari sisi kesehatan memastikan bahwa apa yang terjadi kalau itu adalah sifatnya airborne itu tidak akan sampai ke komunitas,” katanya

Ketua DPR Puan Maharani yakin, pemilihan Natuna sebagai tempat karantina sudah melalui pemikiran yang matang.

“Tentu saja pemerintah sudah memikirkan secara matang kalau kemudian mereka harus diobservasi di satu tempat yang namanya Natuna,” kata Puan di Kompleks Parlemen.

Meski demikian, dia berharap situasi, kondisi, keamanan, dan kenyamanan masyarakat di Natuna harus tetap terjaga sehingga kementerian terkait harus bisa mengantisipasi agar tidak membuat kegaduhan sosial di Natuna.

“Karena itu tentu saja kepulangan mereka pun atas dasar kemanusiaan dan tujuan mulia agar mereka bisa, tidak terdampak oleh virus corona yang ada di sana,” ujarnya.

Menurut dia, langkah evakuasi WNI itu bagaimana sebagai suatu bangsa bisa bersatu untuk bisa mengantisipasi dan melakukan berbagai hal yang dibutuhkan untuk menjaga NKRI.

Puan mengatakan wajar ketika pemerintah daerah Natuna melakukan langkah-langkah antisipatif, misalnya, dengan meliburkan siswa sekolah sampai tanggal 17 Februari 2020.

“Namun, insya Allah setelah pemerintah melakukan langkah terkait dengan observasi, isolasi dan pemilihan tempat tersebut tentu saja itu sudah siap siaga satu sehingga tidak akan membuat warga negara yang ada di Natuna kemudian menjadi gaduh atau terjadi kegaduhan sosial,” katanya.(gw/fin)

  • Dipublish : 4 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami