Profesor Inggris Sebut Separuh Populasi Indonesia Akan Terinfeksi COVID-19

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Sejumlah kalangan meragukan data orang terpapar COVID-19 di Indonesia. Bukan Cuma dalam negeri, dunia internasional juga menyangsikan data yang dirilis pemerintah. Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Achmad Hafisz Tohir menilai, sebaran wabah virus ini mungkin sudah meluas di Tanah Air. Namun pemerintah menyembunyikan sebagian data tersebut.

Mereka yang dalam status orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) jumlahnya bisa lebih banyak daripada yang dirilis Pemerintah. Menurutnya, Indonesia bisa menyaingi Iran dan Italia dalam jumlah korban yang terpapar virus COVID-19.

“Australia menduga Indonesia melakukan under-reporting atas jumlah pasien terjangkit COVID-19. Apa yang dilaporkan lebih sedikit dari kenyataan. Australia sudah menyetop penerbangan Bali-Australia dan melarang warganya berkunjung ke Bali. Pemerintah perlu menjelaskan hal ini kepada publik,” tegas Hafisz di Jakarta, Selasa (7/4).

Ia mengatakan, kritik keras juga dilontarkan sutradara asal Kanada Daniel Ziv kepada Menkes RI Terawan Agus Putranto yang memamerkan pasien sembuh COVID-19 kepada publik. Politisi PAN ini juga menyampaikan statement seorang profesor dari Universitas Essex, Inggris, Pemerintah Indonesia hanya melakukan 2 ribu test COVID-19 dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 270 juta jiwa. Menurut profesor itu, separuh populasi Indonesia akan terinfeksi virus. Indonesia bisa mendapat predikat sebagai negara dengan angka kematian tertinggi di dunia.

Bahkan, sambung anggota Komisi XI DPR RI ini, Iqbal Ridzi Elyazar dari lembaga Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) menyebut sekitar 70.000 warga Indonesia diprediksi akan terinfeksi COVID-19. “Untuk itu, rapid test harus terus dilakukan sampai zero infectant. Mengingat pihak luar negeri masih tidak percaya terhadap pertambahan jumlah penderita Corona yang stabil di kisaran angka 115 per hari. Sebagai contoh penderita di Malaysia sudah mencapai 3.200 lebih. Tetapi di Indonesia masih sekitaran 1.790. Padahal, penduduk Indonesia 10 kali lipat Malaysia,” imbuh Hafisz.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat hingga Selasa (7/4), sebanyak 204 orang sembuh. Sementara 2.738 orang terkonfirmasi positif dan 221 meninggal di Indonesia akibat COVID-19.

“Ini menunjukkan bahwa masih terjadi penularan di luar rumah sakit, masih ada orang sakit mengandung virus tapi tidak merasakan dirinya sakit yang berada di tengah-tenga kita. Ini yang harus segera kita hentikan,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB di Jakarta, Selasa (7/4).

Yuri menjelaskan, jumlah kasus yang terkonfirmasi positif bertambah 247 kasus, yang sembuh bertambah 12 orang sementara yang meninggal juga bertambah 12 kasus. Sebelumnya pada Senin (6/4), tercatat 2.491 kasus positif COVID-19, 209 orang meninggal dan 192 orang sembuh.

Data tersebut merupakan pencatatan yang dilakukan sejak Senin (6/4) pukul 12.00 WIB, hingga Selasa (7/4), pukul 12.00 WIB. Dia juga mengingatkan saat ini agar tidak mempertimbangan melakukan perjalanan ke kampung guna melindungi orang tua dan saudara-saudara di kampung halaman. Dengan cara tersebut menurut dia dapat memutus rantai penyebaran COVID-19.

“Mari kita bergandeng tangan, bersama-sama melindungi diri kita sendiri, keluarga kita, tetangga, orang tua dan sanak saudara di kampung, melindungi seluruh warga kota dan melindungi bangsa kita. Saya yakin dan optimis Indonesia pasti bisa,” tegas Yuri.

Gugus Tugas mencatat hingga saat ini kasus positif COVID-19 tercatat di 32 provinsi dengan rincian yaitu di Provinsi Aceh lima kasus, Bali 43 kasus, Banten 194 kasus, Bangka Belitung dan Bengkulu masing-masing dua kasus, Yogyakarta 41 kasus dan DKI Jakarta 1.369 kasus.

Selanjutnya di Jambi dua kasus, Jawa Barat 343 kasus, Jawa Tengah 133 kasus, Jawa Timur 194 kasus, Kalimantan Barat 10 kasus, Kalimantan Timur 31 kasus, Kalimantan Tengah 20 kasus, Kalimantan Selatan 18 kasus dan Kalimantan Utara 15 kasus.

Kemudian di Kepulauan Riau sembilan kasus, NTB 10 kasus, Sumatera Selatan 16 kasus, Sumatera Barat 18 kasus, Sulawesi Utara delapan kasus, Sumatera Utara 26 kasus, Sulawesi Tenggara tujuh kasus. Adapun di Sulawesi Selatan 127 kasus, Sulawesi Tengah lima kasus, Lampung dan Riau masing-masing 12 kasus, Maluku Utara dan Maluku masing-masing satu kasus, Papua Barat dua kasus, Papua 26 kasus, serta dua kasus positif di Sulawesi Barat. (khf/fin/rh)

  • Dipublish : 8 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami