Protes Antirasial di AS Makan Korban

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Aksi unjuk rasa memprotes tewasnya George Floyd di Amerika Serikat hingga Selasa (2/6/2020) dini hari waktu setempat semakin brutal. Bahkan, demonstrasi yang menjamur di berbagai wilayah AS itu kini memakan korban jiwa dari kedua belah pihak, yakni para demonstran dan polisi.

Kabarnya, empat polisi mengalami luka tembak saat mengamankan demonstrasi. Mereka dirawat di satu rumah sakit, namun tak ada yang mengalaimi lulka sampai mengancam jiwa.

Mulanya demonstrasi yang diikuti ratusan warga, termasuk Wali Kota Lyda Krewson dan Direktur Keamanan Publik Jimmie Edwards, berjalan tertib. Mereka berjalan di pusat kota sampai ke Pintu Gerbang Taman Nasional Arch.

Namun mulai Senin malam, massa mulai bergerak ke markas kepolisian hingga terjadi bentrokan. Mereka merusak fasilitas umum, menjarah toko-toko, lalu membakarnya.

Departemen Kepolisian St Louis menyatakan dalam cuitan, seperti dikutip dari Associated Press, belum diketahui siapa yang melepaskan tembakan.

Kerusuhan di St Louis juga terjadi di tempat lain seperti di Missouri, Kansas, dan Jefferson. Semenatra di Kota New York, otoritas memberlakukan jam malam pada Senin untuk mencegah kebrutalan massa sebagaimana terjadi pada malam-malam sebelumnya.

Aksi brutal para demonstran lainnya yakni, ada sebuah mobil menyeruduk kerumunan polisi yang sedang mengamankan demonstrasi. Setidaknya dua polisi menderita luka dalam insiden itu.

Video yang di-posting ke media sosial oleh warga memperlihatkan, barisan polisi yang dikawal menggunakan kendaraan lapis baja bergegas menuju seorang pria yang sedang diwawancarai oleh stasiun televisi di area unjuk rasa sekitar pukul 21.30.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara letupan senjata yang sumbernya tidak masuk dalam rekaman video tersebut. Di saat bersamaan, tampak sekelompok polisi berlarian yang ternyata mereka berusaha menghindari mobil SUV yang mencoba menabrak.

Setidaknya satu petugas masuk ke kolong kendaraan. SUV terus melaju di antara banyak kendaraan lapis baja dan diiringi suara tembakan.

Para petugas yang ditabrak dilarikan ke rumah sakit daerah Erie. Seorang petugas Kepolisian Negara Bagian New York menderita luka serius, namun tidak mengancam jiwa. Petugas lainnya yang terluka merupakan anggota Departemen Kepolisian Buffalo.

Pemimpin Erie County Mark Poloncarz dalam cuitannya, seperti dikutip dari Associated Press, Selasa (2/6/2020), mengatakan, dua orang telah ditahan dalam insiden ini, yakni sopir dan penumpang SUV.

Sementara itu, seorang warga sipil di Louisville, Negara Bagian Kentucky, dilaporkan tewas di tengah aksi unjuk rasa yang berlangsung di kota itu, Senin (1/6/2020) pagi waktu setempat. Korban meregang nyawa setelah ditembak aparat kepolisian yang mengamankan demonstrasi.

Surat kabar yang bermarkas di Kentucky, The Lexington Herald-Leader melaporkan, dua petugas yang menembakkan senjata selama mengawal aksi unjuk rasa di Louisville kemarin telah dibebastugaskan.

Sedangkan dua tentara AS yang menembakkan senjata mereka dalam aksi kemarain juga telah ditarik dari jabatannya oleh Gubernur Kentucky, Andy Beshear.

Adapun pria yang terbunuh dalam aksi protes di Louisville itu bernama David McAtee. Dia adalah pemilik restoran BBQ Shack Yaya. Pada saat kejadian, korban tidak dalam posisi melawan petugas ataupun terlibat dalam aksi massa.

“Dia (McAtee) hanya seorang penonton yang tidak bersalah,” ujar saudara perempuan korban kepada media di Louisville.

Sementara AFP melaporkan, Wali Kota Louisville, Greg Fischer, telah memberhentikan kepala kepolisian setempat akibat insiden tersebut.

Selama sepekan ini, publik Amerika Serikat digegerkan dengan tewasnya pria berkulit hitam bernama George Floyd (46) di tangan petugas Departemen Kepolisian Minneapolis, Senin (25/5/2020) lalu. Kala itu, pria keturunan Afrika-Amerika itu diborgol dan ditelungkupkan ke tanah oleh polisi.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington DC bersama dengan seluruh Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Amerika Serikat terus memonitor dari dekat sekaligus memastikan keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tersebar di berbagai kota dan wilayah di AS menyusul merebaknya gelombang demonstrasi yang terjadi sejak tanggal 26 Mei 2020.

“Seluruh WNI di AS yang berjumlah 142.441 orang saat ini berada dalam kondisi aman dan baik-baik. Tidak ada laporan terkait WNI yang terdampak akibat demo,” kata Kuasa Usaha Ad-Interim/Wakil Duta Besar RI untuk AS, Iwan Freddy Hari Susanto

Aksi unjuk rasa yang terjadi di berbagai negara bagian di AS, mulai dari wilayah Pantai Timur hingga Pantai Barat, telah memasuki hari ketujuh. Sebagian telah menerapkan peraturan jam malam dan status darurat.

“Keselamatan dan keamanan WNI di AS menjadi prioritas utama dan perhatian khusus KBRI Washington DC dan KJRI-KJRI se-AS,” imbuhnya.

Freddy mengatakan, sejauh ini semua Perwakilan RI di AS telah mengeluarkan himbauan kepada WNI agar tetap tenang, hati-hati dan tidak keluar rumah kecuali untuk kepentingan atau kebutuhan yang mendesak, seperti membeli kebutuhan rumah tangga sehari-hari atau pergi ke dokter.

“WNI juga kita wanti-wanti agar menjauhi tempat-tempat terjadinya aksi unjuk rasa karena akan membahayakan keselamatan dan keamanan mereka. Patuhi setiap instruksi, kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan oleh otoritas setempat,” pungkasnya. (der/fin)

  • Dipublish : 3 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami