PSBB Ikut Dongkrak Rupiah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Dari sektor ekonomi, ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pemberlakuan PSBB meningkatkan keyakinan pasar. Imbasnya, nilai tukar rupiah perlahan menguat dan meninggalkan level Rp 16 ribu sejak Kamis (9/4). Tepatnya menjadi Rp 15.930 per USD.

Pada hari pertama penerapan PSBB kemarin (10/4), berdasar Bloomberg Markets Spot Rate, mata uang Garuda kembali merangkak di posisi Rp 15.880 per USD.

Josua menuturkan, penguatan rupiah menandakan sentimen Covid-19 mulai berkurang di pasar keuangan. Hal itu akan membawa balik aliran modal asing yang sempat keluar akibat kepanikan investor.

Kerja sama fasilitas repo dengan The Fed, bank sentral AS, sebesar USD 60 miliar menopang penguatan rupiah. Kerja sama tersebut sekaligus memperkuat second line of defense Bank Indonesia (BI) sehingga mampu meredam potensi keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik dan mendorong stabilitas nilai tukar rupiah.

Bagi pelaku pasar keuangan, penguatan itu menjadi angin segar bagi likuiditas USD. Sebab, sejak para investor mengalihkan aset ke mata uang Paman Sam itu, likuiditas makin ketat.

Sementara itu, penguatan rupiah terhadap USD menjadi sinyal cerah bagi para pengusaha yang membutuhkan impor bahan baku atau barang modal. Selama ini pelemahan rupiah memberikan tekanan terhadap biaya produksi di tengah lemahnya permintaan domestik maupun luar negeri.

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, menguatnya rupiah praktis mengurangi kebutuhan BI untuk melakukan stabilisasi nilai tukar. Dia optimistis cadangan devisa Indonesia meningkat hingga akhir April nanti. Yakni, berkisar USD 125 miliar dari USD 121 miliar berdasar catatan akhir Maret lalu.

Bertambahnya jumlah cadangan devisa juga disebabkan penerbitan global bond senilai 4,3 miliar dolar AS oleh Kementerian Keuangan. ’’Jumlah cadangan devisa lebih dari cukup untuk membiayai impor, membayar utang luar negeri pemerintah, dan melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah,” jelas pria asal Sukoharjo tersebut.

Selain itu, alumnus Iowa State University, AS, tersebut memastikan bahwa harga bahan pokok masih terkendali menjelang Ramadan di tengah pandemi virus korona. Berdasar survei pemantauan harga hingga pekan kedua April, inflasi diprediksi 0,2 persen month-to-month, sedangkan inflasi tahunan 2,8 persen. (jp)

  • Dipublish : 11 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami