PSBB Surabaya Raya Berpotensi Diperpanjang

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

SURABAYA – Masa berlaku pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo tinggal dua hari lagi. Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono menyatakan, sangat mungkin kebijakan itu diperpanjang hingga 14 hari lagi. Heru menegaskan, keputusan memperpanjang atau tidak bergantung pada evaluasi hari terakhir.

Hasil evaluasi sementara, kenaikan kasus korona di Sidoarjo dan Gresik mulai melandai, sedangkan Surabaya masih tinggi. Tapi, hasil tersebut tidak menjadi pijakan utama. ’’Ada faktor lain yang menjadi pertimbangan,’’ katanya. Saat ini tim kajian epidemiologis terus mengevaluasi semua aspek pertambahan kasus Covid-19 di Jawa Timur. Termasuk pertambahan di wilayah Malang Raya. ’’Kalau nanti keputusannya diperpanjang, bisa jadi seiring dengan PSBB Malang Raya,’’ ucapnya.

Pakar kajian epidemiologis dari Universitas Airlangga Dr dr Windhu Purnomo membeberkan beberapa alasan PSBB layak diperpanjang. Idealnya, PSBB berlangsung 14 hari. Dasarnya, durasi tersebut sesuai dengan masa inkubasi terpanjang virus korona. ’’Tapi, jurnal internasional menyatakan masa inkubasi virus korona lebih dari itu,’’ ucapnya.

Dia memerinci perkembangan masa infeksius (bisa menularkan) Covid-19. Dari 100 persen pasien yang terinfeksi, 30 persen merupakan pasien tanpa gejala. Masa infeksiusnya 14 hari. Artinya, selama 14 hari ke depan, dia berpotensi menularkan virus ke orang lain. ’’Alternatif yang harus dilakukan adalah isolasi,’’ katanya.

Lalu, 55 persen pasien mengalami gejala ringan dengan masa infeksius mencapai 21 hari. Lebih lama dibandingkan pasien tanpa gejala. Karena itu, PSBB yang berlangsung hanya 14 hari dianggap belum cukup. ’’Idealnya ada penambahan,’’ tuturnya.

Dia juga menyoroti wilayah Malang Raya. Sebenarnya pertambahan kasus di Kota Malang dan Kota Batu tidak begitu besar. Namun, dua daerah itu berhubungan dengan Kabupaten Malang yang pasien koronanya cukup tinggi. Bahkan, pernah terjadi doubling time atau pertambahan kasus mencapai dua kali lipat. Doubling time itu termasuk salah satu parameter dalam menentukan skor kelayakan penerapan PSBB. ’’Fenomena ini terjadi sampai empat kali,’’ jelas dia.

Faktor lain yang menjadi penentu kelayakan PSBB adalah perbandingan angka konfirmasi dengan jumlah penduduk. Total kasus positif di wilayah Malang Raya hingga 1 Mei mencapai 54 kasus. Lalu, jumlah penduduk Malang Raya sekitar 3,7 juta. Jumlah kumulatif kasus positif dibagi total penduduk, hasilnya 1,5 per 100 ribu penduduk. ’’Idealnya, 1 kasus per 100 ribu penduduk,’’ katanya. (jp)

  • Dipublish : 9 Mei 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami