Pulang Umrah, Nenek Sakit Mirip Korona

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

TAKALAR – Seorang warga Takalar berusia 90 tahun dirujuk ke RSUP Wahidin Sudirohsudo. Sepulang umrah, nenek itu mengalami gejala mirip korona (Covid-19).

Pasien itu sempat masuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padjonga Daeng Ngalle Takalar, namun langsung dirujuk ke RSUP. Hasil rontgen menunjukkan bahwa pasien tersebut menunjukkan bronchoespatis dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

“Bersangkutan juga baru saja menunaikan ibadah umrah. Selain itu, gejalanya juga mirip-mirip dengan yang kita khawatirkan virus korona. Jadi kita antisipasi dari awal,” kata Plt Kepala Dinas Takalar, dr Rahma, Minggu, 8 maret.

Bentuk antisipasi itu dengan mengikuti protap dinas kesehatan provinsi, dengan merujuk pasien ke rumah sakit yang ditunjuk, yakni RSUP. Rahma mengimbau masyarakat tidak panik, sembari tetap waspada. Menjalankan pola hidup sehat dan cuci tangan setelah beraktivitas.

Direktur RSUD Padjonga Daeng Ngalle, Asriadi Ali mengatakan, pasien itu menderita demam dan batuk. Selanjutnya, sang nenek dirujuk sebagai bentuk proteksi.

Sebaliknya, Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Sulsel dr Ichsan Mustari mengatakan kasus suspect di Takalar tak sampai di tingkat rujukan. Informasinya, pasien mengalami demam biasa. “Belum ada gejala yang mengindikasi mengarah ke korona,” katanya.

Sampel Negatif

Pemprov Sulsel juga sudah menerima hasil sampel darah yang mereka kirim ke Balitbangkes Kemenkes, pekan lalu. Hasilnya, pasien suspect yang sempat dirawat di RSUP tersebut, dinyatakan negatif korona.

Hasil uji laboratorium spesimen dari pasien suspect tersebut mereka terima Sabtu lalu. “Dari Balitbangkes negatif. Pasien pun sepertinya sudah dipulangkan karena kondisinya mulai stabil. Lebih jelasnya ada di RS Waihidin,” beber Ichsan.

Di Bulukumba, rencana kapal pesiar Coral Adventure dari Australia merapat di pantai Bumi Panrita Lopi, menuai penolakan warga. Warga meminta pemerintah tidak memberi izin untuk sandar di Tanah Beru.

Bendahara Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) Bulukumba, Nursam dengan tegas menolak kehadiran kapal pesiar yang membawa turis Australia itu. Dia meminta Pemkab Bulukumba tidak memberi ruang bagi warga asing masuk ke Bulukumba. Sebab, virus korona masih menjadi momok bagi masyarakat.

“Kami menolak bersandar kapal pesiar. Ini demi menjaga mewabahnya virus korona, kami desak pemerintah untuk tidak mengizinkan mereka masuk,” ujarnya.

Penolakan juga disampaikan oleh Wakil Ketua Nasyiatul Aisyiyah Bulukumba Arifah Ulvia. Dia menyebut, virus korona sama dengan virus campak dan virus menular lainnya. Jika sudah terlanjur masuk ke wilayah tertentu, maka akan seterusnya menjadi wabah.

“Tentu melihat kondisi cuaca Bulukumba saat ini sangat rentan dengan penyebaran virus karena masuk musim hujan,” jelasnya.

Kapal pesiar Australia rencananya akan sandar di Bulukumba pada Rabu, 11 Maret nanti. Tujuannya untuk melihat proses pembuatan kapal pinisi di Tanah Beru.

“Besok (Senin, red) kami akan bahas, apakah diputuskan diterima atau tidak,” kata Kepala Dinas Pariwisata Bulukumba, Ali Saleng.

Selain itu dia menyebut kedatangan kapal ini telah diagendakan tahun sebelumnya. Pihaknya juga akan melakukan pemeriksaan ketat oleh pihak yang berkompeten. Terutama mengantisipasi gejala virus korona. (bay-ful-sir/abg-zuk)

  • Dipublish : 9 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami