Realisasi Investasi Migas Tahun Lalu Meleset Jauh dari Target

ILUSTRASI. Pengeboran lepas pantai. Realisasi investasi sektor migas 2019 tak mencapai target. (istimewa)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 JAKARTA,- Investasi di sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) sepanjang tahun lalu mencatat realisasi di bawah target. Menteri ESDM Arifin Tasrif menuturkan, hal itu dipicu banyaknya regulasi yang membelit investasi.

“Aturan-aturan akan dipersimpel. Kami sudah memiliki program pemangkasan aturan yang berbelit,” ujarnya di Kementerian ESDM, Rabu (9/1).

Tahun lalu Kementerian ESDM menargetkan investasi USD 33,4 miliar. Tetapi, yang tercapai hanya USD 31,9 miliar atau sekitar 95,5 persen. Secara tahunan, investasi tersebut juga turun 3 persen daripada realisasi tahun sebelumnya, USD 32,9 miliar (Rp 460,6 triliun).

Dari keseluruhan sektor, realisasi investasi migas yang paling jauh dari target. Disusul sektor minerba.

Selain itu, kegagalan tercatat di sektor energi baru, terbarukan, dan kon_servasi energi (EBTKE). Investasi sektor tersebut hanya terealisasi USD 1,5 miliar atau 83,3 persen dari target USD 1,8 miliar.

“Sektor yang berhasil mencapai target investasi di bidang ketenagalistrikan,” ucapnya.

Meski begitu, pihaknya memasang target lebih tinggi pada 2020. Tahun ini Kementerian ESDM mematok target investasi USD 35,9 miliar atau tumbuh 12,5 persen.

Arifin optimistis target itu mampu tercapai. Sejumlah langkah dilakukan. Antara lain, meningkatkan kesiapan infrastruktur serta ketersediaan energi dan bahan baku yang ada.

Lalu, kemudahan mendapatkan lahan serta aturan yang semakin sederhana dan dipangkas agar tidak berbelit-belit diyakini bisa memuluskan langkah untuk mencapai target tahun ini.

Sejalan dengan hal itu, realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor ESDM juga meleset dari target. Arifin memerinci realisasi PNBP pada 2019 sebanyak Rp 172,9 triliun.

Angka tersebut berada di bawah target yang dipatok Rp 214,3 triliun. PNBP sektor ESDM ditargetkan Rp 181,7 triliun pada 2020.

Target PNBP tidak tercapai karena beberapa asumsi makro meleset dari target. Arifin memerinci, dalam APBN 2019, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) dipatok USD 70 per barel.

Sementara itu, realisasinya USD 62,37 per barel. Begitu juga asumsi nilai tukar rupiah yang tidak sesuai dengan target.

“Asumsi kurs tadinya Rp 15.000/dolar, realisasinya hanya Rp 14.102/dolar,” katanya.

Sementara itu, posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Desember 2019 tercatat USD 129,2 miliar. Angka itu meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2019 sebanyak USD 126,6 miliar.

Posisi cadev tersebut setara dengan pembiayaan 7,6 bulan impor atau 7,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi,” papar Direktur Eksekutif- Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko, Rabu (9/1). (jp)

Realisasi Investasi ESDM 2019

Sektor Migas : USD 12,5 miliar

Sektor Ketenagalistrikan : USD 12 miliar

Sektor Minerba : USD 5,9 miliar

Sektor EBTKE : USD 1,5 miliar

Total : USD 31,9 miliar

Sumber: Kementerian ESDM

  • Dipublish : 10 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami