Resesi Hongkong Berdampak Jumlah Pengangguran RI Bertambah

Dok. Foto AFP
Dok. Foto AFP
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Gelombang demonstrasi yang terjadi sejak Juli lalu tidak kunjung berakhir dan ditambah gejolak perlambatan ekonomi membuat Negeri Tirai Bambu itu dilanda resesi. Lantas bagaimana dampaknya bagi Indonesia?

Hongkong merupakan salah satu mitra dagang dan juga investor strategis RI. Alhasil, dengan masuknya Hongkong ke dalam resesi memiliki dampak terhadap perekonomian dalam negeri.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengatakan, resesi yang melanda Hongkong bakal memukul Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Indonesia yang bekerja di sejumlah sektor seperti industri dan asisten rumah tangga (ART).

“TKI di Hongkong cukup besar yang bekerja di sejumlah sektor seperti industri, karena pelemahan ekonomi akan berdampak pada tenaga kerja yang berasal dari Indonesia,” ujar Enny kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Senin (4/11).

Lanjut Enny, selain berimbas pada TKI, juga membuat ekspor RI ke Hongkong di mana nilainya cukup lumayan bagi Indonesia. Dan, ini akan berpengaruh kepada Indonesia.

Sementara untuk investasi, Enny menilai tergantung kebijakan Indonesia bagaimana membenahi iklim investasi agar tidak ribet terhadap investor asing.

“Kalau resesi maka investai akan lari, dan sebenarnya itu potensi (lari) ke Indonesia cukup besar. Namun pertanyaannya mereka (investor Cina) larinya ke Indonesia atau ke negara mana? Kalau lari ke Indonesia, maka tidak berdampak apa-apa bagi Indonsia,” papar Enny.

Namun kata Enny, bila melihat iklim investasi saat ini tidak ada pemulihan pasar ke Indonesia. Dia melihat dalam kabinet baru Presiden Joko Widodo dan Maaruf Amin periode 2019-2024 tidak mendapat respon positif dari para investor.

“Kalau bicara potensi, mestinya positif ya. Apakah bisa kita bisa menyelesaikan problem struktural investasi, Omnibus Law saja masih wacana, yang bukan wacana peningkatan Upah Minumum Provinsi (UMP),” ujar Enny.

Menurut Enny, sampai saat ini realisasi investasi masih melemah. Pemerintah hanya sekadar wacana mendorog investasi setinggi mungkin tetapi pada kenyataannya tidak demikian.

“Kalay potesni terlalu besar hanya d atas kertas saja, realisasi masih stagnan. Infrastruktur juga stagnan,” ucap Enny.

Terpisah, Direktur Riset Center of Reforms on Economics (Core), Piter Abdullah menilai resesi yang melanda Hongkong tidak berarti menyebabkan masyarakatnya jatuh miskin, sebab masih banyak orang kaya di sana.

“Orang kaya di Hongkong baik-baiks aja, ekonomi baik-baik saja,” kata Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Senin (4/11).

Justru, Piter melihat resesi yang menghantam Hongkong bisa menjadi peluang bagi Indonsia meraup pundi-pundi uang di sektor investasi.

“(Resesi di Hongkong) Banyak relokasi pabriknya ke negara lain. Hal itu peluang bagi Indonesia. Dampaknya nggak buruk bagi Indonesia. Jadi resesi di Hongkong tidak berdampak negatif bagi investasi, dengan catatan kalau Indonesia bisa memanfaatkan peluang itu,” ujar Piter.

Piter menegaskan, bahwa resesi yang terjadi di Hongkong tidak berdampak signifikan bagi perekonomian Indonesia. “Yang jelas, resesi dari Hongkong dampaknya di Indonesia minim,” jelas dia.

Menyoal TKI, menurut Piter tidak akan terpengaruh terhadap resesi yang terjadi di Hongkong. Kondisi resesi, kata dia, tidak akan berlangsung lama.

“Resesi di Hongkong sendiri saya yakini hanya bersifat temporer. Apabila tidak ada demonstrasi besar dan panjang lagi ekonomi Hongkong akan membaik pada tahun 2020,” pungkasnya.

(din/fin)

  • Dipublish : 5 November 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami