RI Dapat Utang Rp4,95 Triliun dari Bank Dunia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Di tengah penyebaran pandemi virus corona atau Covid-19, pinjaman Indonesia sebesar USD300 juta atau setara Rp4,95 (kurs Rupiah Rp16.500 per Dolar AS) disetujui oleh Bank Dunia. Dana tersebut akan digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengungkapkan, pinjaman itu untuk memperkuat sektor keuangan, terutama pengawasan keuangan dan pengelolaan di masa krisis.

“Saat ini, percepatan reformasi untuk efisiensi dan inklusi dibutuhkan untuk membiayai infrastruktur dan memperluas ekonomi di Indonesia,” kata Luky dalam keterangannya, kemarin (23/3).

Dia merinci, pinjaman ini akan dialokasikan untuk memperluas sektor keuangan di Indonesia, memperluas produk keuangan dan memobilisasi tabungan berjangka. Sehingga diharapkan mampu meningkatkan simpanan di Indonesia.

Selain itu, lanjut dia, pinjaman juga bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan lebih transparan karena berbasis teknologi. Kemudian memperkuat ketahanan sektor keuangan menghadapi guncangan. Lalu membuat manajemen risiko keuangan di tengah bencana.

Country Director Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Satu Kahkonen menilai, sejauh fundamental makro ekonomi Indonesia masih kuat. Artiya kemiskinan di Indonesia berada di level single digit dan rendah.

“Namun dengan melambatnya laju pengentasan kemiskinan, sangat penting membuat masyarakat untuk memiliki finansial yang sehat dan juga sebagai alat pertahanan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata dia.

Terpisah, ekonom sekaligus Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, saat ini pemerintah harus meningkatkan pembiayaan seiring dengan melebarnya defisit akibat turunnya penerimaan pajak.

“Sementara belanja justru meningkat untuk membiayai penanggulangan wabah corona dan berbagai stimulus yang harus dilakukan,” ujar Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Senin (23/3).

Terkait utang luar negeri, dia mendukung. Dengan begitu ada harapan nilai tukar Rupiah akan kembali naik. Dengan demikian, terjadi stabilistasi ekonomi di dalam negeri.

“Untuk menutup defisit tersebut pilihannya adalah utang luar negeri yang juga menjadi solusi untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar, dan juga utang dalam negeri,” kata dia.

Untuk saat ini, kata dia, salah satu solusi yang tepat memang utang luar negeri yang lebih cepat untuk mengatasi ekonomi nasional. “Dalam Hal ini utang luar negeri menjadi pilihan karena bisa membantu meningkatkan cadangan devis a yang dibutuhkan untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah,” tukas dia.(din/fin)

  • Dipublish : 24 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami