RS Jogja Jahit Sendiri APD yang Dibutuhkan

DIJAHITKAN: Hasil jahitan pakaian APD yang dibuat secara mandiri oleh RS Jogja. Mereka kesulitan mendapatkan APD karena barangnya langka di pasaran. ( RS JOGJA FOR RADAR JOGJA )
DIJAHITKAN: Hasil jahitan pakaian APD yang dibuat secara mandiri oleh RS Jogja. Mereka kesulitan mendapatkan APD karena barangnya langka di pasaran. ( RS JOGJA FOR RADAR JOGJA )
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id, JOGJA,– Terdesak stok alat pelindung diri (APD) yang semakin terbatas, Rumah Sakit (RS) Jogja membuat pakaian pelindung secara mandiri. APD ini alat pelindung bagi perawat, dokter, dan petugas ambulance yang bekerja menangani pasien Covid-19.

Winda Atika Ira, Jogja, Radar Jogja

Kesulitan mendapatkan APD dirasakan hampir semua fasilitas kesehatan di Indonesia. Ada yang menduga karena banyak APD yang diborong masyarakat. Padahal banyak tenaga kesehatan yang justru sangat membutuhkan, tak memiliki banyak stok.

Di Kota Jogja, Pemkot Jogja menjamin ketersediaan APD masih cukup hingga sepekan ke depan. Baik yang diperuntukkan ke 18 Puskesmas, maupun RS Pratama dan RS Jogja. Keterbatasan APD tak membuat RS Jogja berdiam diri. Mereka mencari solusi sendiri.

Direktur RS Kota Jogja, dr Ariyudi Yunita mengatakan untuk membuat pakaian APD tersebut menggunakan jasa penjahit. “Kalau yang menjahit itu untuk APD gaun atau baju panjang, karena di pasaran sulit,” katanya usai menghadiri rapat kerja di Balai Kota tentang penanganan Covid-19 Selasa (23/3).

Meskipun dijahit mandiri, Yunita menjamin APD yang dibuat sudah sesuai standar. Termasuk bahan yang dipakai sudah memenuhi standar kesehatan. Pihaknya selalu melakukan pengecekan pada kualitas produk yang dihasilkan.

Yunita menjelaskan APD yang dimiliki sekarang sebanyak 80 pcs. Terkahir didroping dari provinsi sebanyak 50 pcs. Sebelumnya masih tersisa 30 pcs. Padahal kebutuhan dalam sehari 10 pcs untuk menangani empat pasien dalam pengawasan (PDP). “Jadi kalau 80 pcs ya sekitar dua hari (pemakaian),” ujarnya.

Diakuinya merebaknya wabah korona berpengaruh terhadap jumlah warga yang memeriksakan diri. Sesuai protokol pencegahan korona, tenaga kesehatan diminta memakai APD untuk mencegah peredaran. Apalagi bagi tenaga kesehatan yang melakukan kontak dengan orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP). “Kami maksimalkan APD yang ada,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Bidang Penunjang Pelayanan RS Kota Jogja, dr. Ira menambahkan bahwa APD yang dipesan terdapat tiga jenis yakni hacinco 150 pcs, coverall reuse 150 pcs, dan coverall disposibel 1000. “Iya totalnya 1.300 pcs yang kami pesan dan memenuhi standar kesehatan. Ada yang di Jogja (pesannya),” tambahnya.

Menurutnya, sebanyak 1.300 pcs APD yang dipesan akan datang secara bertahap karena melihat pemesanan APD tersebutbmeningkat. Ada diantaranya yang menjanjikan dua minggu dan menjanjikan satu minggu. “Padahal kebutuhan kami banyak dan pasien,” ucapnya.

Dia mencatat kunjungan pasien yang datang pun meningkat ditengah merebaknya virus korona mencapai 400-500 pasien untuk semua pelayanan. Di antaranya yang naik adalah untuk layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) dari biasanya hanya 80 pasien sekarang 90 pasien per harinya. “Kunjungan IGD naik sekitar 10 persen. Kalau yang poli dan rawat jalan stabil,” imbuhnya sambil menyebut saat ini ada satu pasien covid-19 yang dirawat.

Sebelumnya, Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti menyebut, untuk melindungi masyarakat atas sebaran virus korona. Seperti disinfektan, masker yang tersedia di wilayah, dan APD. “APD harus memenuhi standar, (kalau langka) ya kami tetap akan cari,” imbuhnya tentang pemesanan APD kepada penyedia. Selain itu HS juga menegaskan, jika RS Jogja tidak pernah membuka donasi untuk melakukan penggalangan dana dari masyarakat dengan membuka rekening bank. “Yang tersebar di masyarakat jika RS Jogja membuka donasi bantuan penanganan korona itu hoaks,” tegasnya. (pra/radarjojga.jawapos.com)

  • Dipublish : 25 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami