Rugi Rp38,8 Triliun, Kinerja PLN Mengecewakan

Ilustrasi
Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Di kuartal I/2020 kinerja Perusahaan Listrik Negara (PLN/Persero) cukup mengecewakan. Sebab Persoran mengalami kerugian hingga Rp38,8 triliun.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini menjelaskan, perusahaan listrik pelat merah hingga mengalami kerugian yang cukup besar, salah satu faktor utamanya adalah nilai mata uang Rupiah yang melemah terhadap Dolar Amerika Serikat. “Pada akhir Maret 2020 terjadi pelemahan nilai tukar terhadap mata uang asing akibat sentimen negatif dan lain-lain,” kata Zulkifli di Jakarta, kemarin (17/6).

Kala itu nilai tukar Rupiah menyentuh di level Rp16.367 per Dolar AS. Inilah penyebab pendapatan PLN mengalami penurunan. “Berdasarkan pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) 10, Itu adalah rugi accounting akibat selisih kurs,” ucapnya.

Meski mengalami kerugian cukup dalam, menurut Zulkifli kinerja keuangan PLN masih cukup baik karena membukukan pendapata sebesar Rp72,7 triliun dari sebelumnya Rp68,91 triliun. “Sampai akhir Maret kinerja keuangan masih menunjukkan positif kecuali akibat kurs yang melemah,” ungkapnya.

Melansir laporan keuangan Perseroan yang dipublikasi di laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan paling besar dikontribusi dari penjualan listrik Rp70,2 triliun. Akan tetapi, beban usaha perseroan pada tiga bulan pertama tahun ini naik 7 persen menjadi Rp78,79 triliun dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp73,63 triliun.

Disebutkan, salah satu penyokong kenaikan beban usaha adalah pembelian tenaga listrik yang meningkat, dari Rp19,95 triliun menjadi Rp25,83 triliun. Di kuartal pertama ini, PLN juga mendapat suntikan subsidi dari pemerintah Rp12,8 triliun. Namun subsidi ini masih tak bisa menyelamatkan keuangan PLN dari rugi kurs di kuartal I/2020.

Terpisah, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo Irhamna berpandangan, pendapatan keuangan PLN menurun cukup dalam karena masih bergantung pada mata uang asing. “Oleh sebab itu perlu inovasi dari aspek bisnis yang dapat meningkatkan efisiensi dan profit untuk PLN. Salah satunya adalah menerapkan smart grid, smart grid dapat mendorong efisiensi energi,” katanya kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (17/6).

Menurutnya, selama ini pemerintah belum benar-benar memanfaatkan energi terbarukan. “Iya optimal dan belum masif, PLN jg masih mengandalkan energi batu bara, padahal renewable energy di indonesia kan potensinya tinggi,” ucapnya.

Sementara Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, potensi kerugian PLN masih akan berlanjut pada kuartal II/2020. Indikator kerugian dari penjualan listrik di masa new normal yang masih berjalan lambat. Ditambah, perekonomian yang belum membaik. “Diperkirakan kuartal II/2020 masih rugi besar, ini karena penjualan yang masih anjlok. Seiring adanya pembukaan ekonomi yang dilakukan secara bertahan, harapannya penjualan listrik bisa pulih meski berjalan lambat,” pungkasnya. (fin)

  • Dipublish : 18 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami