Saksi Dugaan Perbudakan ABK di Kapal Tiongkok Dipulangkan ke Tanah Air

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JaringanMedia.co.id – Video pelarungan jenazah anak buah kapal (ABK) Indonesia yang bekerja di kapal berbendera Tiongkok membuat geger. Dari rekaman itu terungkap rutinitas kerja di kapal tersebut. Kementerian Luar Negeri memberikan atensi. Rencananya, 14 ABK yang sebelumnya diamankan di Busan, Korea, sebagai saksi akan tiba di tanah air hari ini.

Kasus tersebut kali pertama dipublikasikan media Korea MBC News. Media itu mendapat video dari salah seorang ABK yang merapat di Busan. ABK tersebut mengaku mendapat perlakuan buruk.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membeberkan kronologi yang dikumpulkan kementeriannya. Ada empat kapal yang terlibat, yakni Long Xing 629, Long Xing 605, Long Xing 606, dan Tian Yu 8. Sebanyak empat WNI meninggal sejak Desember lalu di kapal-kapal itu. ’’Terdapat 46 ABK Indonesia yang bekerja di empat kapal tersebut,’’ katanya kemarin (7/5).

Delapan ABK yang bekerja di Long Xing 605 dan tiga ABK yang bekerja di Tian Yu 8 telah kembali ke tanah air pada 24 April. Selanjutnya, 18 di antara 20 ABK di Long Xing 602 telah kembali ke Indonesia pada 3 Mei dan dua orang masih menjalani proses imigrasi Korea untuk dipulangkan ke Indonesia. Lalu, 15 ABK Indonesia yang terdaftar di Long Xing 629 dapat diturunkan dari kapal dan dikarantina di salah satu hotel di Busan selama 14 hari.

Pada 26 April, KBRI di Korea mendapat info bahwa satu ABK Long Xing 629 berinisial EP sakit. Setelah dihubungi di kamarnya, dia mengaku sudah lama mengalami sesak napas dan batuk berdarah. Agen tenaga kerja yang menyalurkan membawa ke Busan Medical Center. ’’Namun, 27 April pukul 06.50 dinyatakan meninggal. Dari keterangan Busan Medical Center, almarhum meninggal karena pneumonia,’’ ungkapnya.

Sebelumnya, ada ABK dari Indonesia berinisial AR yang meninggal di atas kapal Tian Yu 8. Jenazahnya dilarung di laut. Pada 26 Maret, AR sakit dan dipindahkan dari Long Xing 629 ke Tian You 8 untuk dibawa berobat ke pelabuhan terdekat. Waktu itu kondisi AR kritis. Selanjutnya, dalam perjalanan, tepatnya 30 Maret pukul 7 pagi, AR meninggal. Jenazah dilarung pada 31 Maret. ’’Dari info yang diperoleh KBRI, kapal sudah memberi tahu keluarga dan keluarga sudah membolehkan melarung. Selain itu, keluarga dapat kompensasi dari Tian Yu 8,’’ ujar Retno.

Kementerian Luar Negeri juga mendapat kabar bahwa ada seorang ABK yang meninggal pada akhir tahun lalu. Saat itu kapal Long Xing 629 tengah berlayar di Samudra Pasifik. Kapten kapal memutuskan untuk melarung karena alasan penyakit menular. Keputusan itu, menurut Retno, mendapat persetujuan dari awak kapal lain.

Seluruh informasi yang didapat Retno berasal dari keterangan perusahaan kapal. Kementerian Luar Negeri terus menginvestigasi dan meminta keterangan keluarga. Selanjutnya, hari ini 14 ABK Long Xing yang dikarantina di Busan, Korea, akan dipulangkan. Termasuk jenazah EP.

Kemenlu telah berbicara dengan Dubes Tiongkok di Jakarta terkait dengan kasus itu. Ada tiga hal yang disampaikan. Pertama, pemerintah meminta klarifikasi apakah pelarungan jenazah di atas kapal yang dilakukan kapal berbendera Tiongkok itu sesuai dengan hukum internasional. Kedua, terkait dengan kondisi kehidupan di dalam kapal yang dicurigai menjadi penyebab kematian empat ABK tersebut. ’’Ketiga, meminta pemerintah Tiongkok untuk pemenuhan tanggung jawab perusahaan, termasuk pembiayaan gaji yang belum dibayarkan dan membuat suasana kerja yang aman,’’ bebernya.

Retno menyatakan bahwa perlindungan di kapal Long Xing harus diselesaikan mulai dari hulu. Karena itu, bukan hanya Kemenlu yang terlibat. Melainkan juga kementerian dan lembaga lain.

Kasus perbudakan ABK itu menjadi perhatian Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Ketua LPSK Hasto Atmojo menegaskan, kejadian tersebut sudah masuk tindak pidana perdagangan orang (TPPO) sehingga perlu penanganan hukum yang jelas.

Di sisi lain, Kementerian Kelautan dan Perikanan juga melakukan investigasi. Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya berusaha secepat mungkin untuk bertemu dan mendengar langsung keterangan dari para ABK yang selamat.

Edhy memastikan, jika memang benar adalah eksploitasi dan pelanggaran terhadap ABK WNI tersebut, maka KKP akan segera melaporkan pada pihak Regional Fishery Management Organization (RFMO) di mana Indonesia adalah salah satu anggotanya. (jp)

  • Dipublish : 8 Mei 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami