Satgas Covid-19 Sulsel Sebut Makassar Keluar dari Zona Oranye

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jaringanmedia.co.id –Satuan Tugas Covid-19 Sulawesi Selatan merilis Kota Makassar telah keluar dari zona oranye menjadi zona kuning. Itu berarti Kota Makassar masuk kategori wilayah risiko rendah terhadap penyebaran Covid-19.

Salah satu tim Satgas Covid-19 Sulsel Husny Thamrin seperti dilansir dari Antara di Makassar menyampaikan, terjadi penurunan angka kasus dan peningkatan angka kesembuhan. Hal itu sekaligus mencatatkan bahwa daerah zona oranye di Sulsel berkurang.

”Saat ini wilayah zona oranye Sulsel tersisa Kabupaten Luwu Timur dan Tana Toraja. Sedangkan 22 kabupaten lain telah berada di zona oranye. Alhamdulillah, bahkan Kota Makassar kini telah berada di zona risiko rendah,” ujar Husny.

Sementara itu Ketua Makassar Recover Iriani mengaku bersyukur atas perubahan zonasi Makassar yang lebih baik terhadap penularan dan penyebaran Covid-19. ”Kalau sudah ada penyampaian dari provinsi artinya memang seperti itu. Karena memang dalam dua pekan terakhir, angka kasus telah di bawah 100 kasus positif,” ujar Iriani.

Berdasar data Satgas Sulsel hingga 18 September, penambahan kasus Covid-19 sebanyak 96 orang dari total spesimen yang diperiksa yakni 5.223 pasien. Sedangkan tren kesembuhan pasien Covid-19 makin menggembirakan, yakni bertambah 225 orang dengan kematian satu orang.

Iriani menjelaskan, Pemkot Makassar tengah melakukan kerja sama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin dalam hal menggencarkan upaya 3T (testing, tracking, dan treatment) dan 5M di tengah masyarakat. ”Kerja sama ini sudah pernah sebelumnya tapi sempat terputus dan sekarang lanjut lagi, Alhamdulillah karena perhatian semua stakeholder, termasuk Unhas ikut membantu,” tutur Iriani.

Selain itu, dia menambahkan, Pemerintah Makassar sudah melatih relawan terkait dengan tracking dan testing, jadi semakin banyak SDM yang bisa dikaryakan untuk melakukan 3T itu. ”Jadi memang alhamdulillah makin banyak tenaga yang bisa dikaryakan untuk pelacakan 3T itu, karena yang penting 5M 3T, tracking, testing, dan treatment. Kalau treatment berat tentu ke rumah sakit,” terang Iriani. (jpc/jm)

  • Dipublish : 20 September 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami