Satu Persen Kemungkinan Tinggal di Lebanon Itu Hilang Sudah

TAWARKAN BANTUAN: Presiden Prancis Emmanuel Macron di Pelabuhan Beirut, Lebanon, Kamis (6/8). (THIBAULT CAMUS/AP PHOTO)
TAWARKAN BANTUAN: Presiden Prancis Emmanuel Macron di Pelabuhan Beirut, Lebanon, Kamis (6/8). (THIBAULT CAMUS/AP PHOTO)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Selasa lalu (4/8) seharusnya jadi hari gembira bagi Israa Seblani. Perempuan 29 tahun itu sedang menjalani sesi pengambilan video di depan gedung pernikahannya di wilayah Saifi Square, Beirut, Lebanon.

Semua detail disiapkan sejak Seblani datang dari Amerika Serikat (AS) tiga minggu lalu. Seblani memang diaspora Lebanon yang bekerja sebagai dokter di AS. Dia datang ke kampung halamannya untuk menikah dengan Ahmad Subeih.

Namun, kebahagiaannya terhempas bersama ledakan di kompleks gudang Pelabuhan Beirut. Video yang seharusnya menangkap detail gaun putih ekor panjang dan senyuman Seblani malah jadi saksi dahsyatnya letusan ribuan ton amonium nitrat.

Videografer yang sedang asyik merekam Seblani terhempas jauh hingga ke seberang jalan sambil menahan angin kencang akibat ledakan tersebut. ’’Yang ada di pikiran saya cuma satu. Apa saya akan mati di sini,’’ ungkapnya kepada The Guardian.

Beruntung, Seblani dan kerabatnya selamat. Namun, dia mengambil kesimpulan. Dia tak mungkin tinggal di Lebanon. Dia makin mantap meminta suaminya ikut ke AS.

’’Sebelum ini, saya pikir ada 1 persen kemungkinan saya tinggal di sini meski ada krisis ekonomi dan virus korona. Sekarang, pikiran itu hilang,’’ ungkapnya.

Pikiran Seblani sudah disuarakan banyak orang. Mereka merasa Lebanon sudah bukan lagi tempat yang bisa ditinggali. Krisis ekonomi berkepanjangan membuat banyak orang terjerumus ke lubang kemiskinan. Munculnya wabah Covid-19 juga memperparah masalah.

Penduduk yang tak mampu bermigrasi jelas panik. Pemerintah sudah terbukti berkali-kali lebih mengutamakan kepentingan partai daripada negara. Pemerintah juga sudah berkali-kali terbukti korup dan teledor mengelola negara. Ledakan tersebut jadi bukti terbarunya.

Hingga kemarin, pemerintah Lebanon sudah melaporkan setidaknya 137 orang meninggal. Korban luka sudah menembus 5 ribu orang. Sedangkan orang telantar karena ledakan tersebut sudah mencapai 300 ribu orang.

Persoalan 2.750 metrik ton amonium nitrat sebenarnya bermula dari permasalahan bea cukai pada 2013. Saat itu, MV Rhosus berlayar dari Batumi, Georgia, menuju Mozambik. Namun, pemilik kapal mengaku bahwa uang operasionalnya menipis. Karena itu, kapten Boris Prokoshev dan awak kapal diminta untuk menaikkan kargo dari Beirut secara ilegal.

Aksi mereka ketahuan. Otoritas pelabuhan langsung menahan kapal beserta muatan. Sedangkan Igor Grechushkin, pemilik kapal yang tinggal di Siprus, tak pernah memenuhi panggilan. Kapal dan muatannya dibiarkan terbengkalai di Beirut.

Setelah 11 bulan tertahan, pengadilan memerintahkan agar awak kapal dideportasi dan muatan kapal dipindah ke gudang pelabuhan. ’’Saya sudah menulis surat ke Putin setiap hari. Sampai-sampai saya harus menjual bahan bakar untuk menyewa pengacara,’’ ungkap Prokoshev kepada radio Echo Moscow Rabu lalu (5/8).

Pada tahun yang sama, Mikhail Voytenko, pengelola situs pelacak kapal, sudah menyebut MV Rhosus sebagai ’’bom mengapung’’. Otoritas bea cukai juga sudah mempunyai firasat buruk.

Direktur Bea Cukai Lebanon Badri Hader mengatakan, lembaganya telah mengirimkan enam surat dalam enam tahun terakhir. Dia menyediakan berbagai solusi seperti mengekspor muatan itu atau menjualnya ke tentara Lebanon. Namun, semua surat tersebut belum mendapat balasan hingga saat ini.

’’Otoritas pelabuhan seharusnya tak mengizinkan muatan diturunkan. Tujuannya Mozambik, bukan Lebanon,’’ ungkap Hader kepada CNN.

Direktur Jenderal Pelabuhan Beirut Hassan Kraytem mengatakan hanya menjalankan perintah pengadilan. Dia juga tahu bahwa otoritas bea cukai, bahkan keamanan nasional, sudah mengemukakan risiko amonium nitrat. Namun, muatan tersebut masih tersimpan di gudang nomor 12 hingga Selasa lalu.

Kraytem bahkan mengatakan, pihaknya sempat mengunjungi gudang tersebut saat siang. Ketika itu, lembaga keamanan nasional meminta agar pintu gudang diperbaiki. ’’Kami melakukan perbaikan saat siang. Yang terjadi pada sore kami tidak tahu,’’ ungkapnya.

Amonium nitrat merupakan zat yang biasa digunakan untuk pupuk. Namun, karakteristik zat tersebut juga bisa diubah sebagai bahan peledak. (jp)

  • Dipublish : 7 Agustus 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami