Satu Polisi Terluka, 18 Terduga Teroris Ditangkap

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Di mana, dan kapan pun, publik kini menaruh rasa cemas. Jangankan di pusat perbelanjaan, markas polisi pun, tak lepas dari teror bom. Insiden bom Mapolrestabes menjadi pelajaraan, terlebih setelah 18 terduga teroris ditangkap.

Pemerhati terorisme Al Chaidar menyatakan, sebelum teror bom di Medan, peristiwa penusukan yang dialami mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengandung pesan penting yang ingin disampaikan teroris.

Serangan teror tersebut ingin menunjukkan bahwa jaringan teroris yang berafiliasi dengan ISIS masih kokoh. ”Jaringan ini punya sasaran baru. Ada semacam perluasan sasaran teror. Itu pesan yang disampaikan,” ujar Chaidar, kemarin (17/11)

Dengan aksi itu, mereka hendak mengatakan bahwa ISIS masih begitu ada. Dan seakan meminta kepada pengikut untuk selalu siap mengorbankan apa saja demi tujuan yang dianggap ‘suci’. ”Lho kan jelas faktanya. Aksi teror di Medan, adalah susulan. Mereka sudah mampu menebarkan ketakutan,” timpalnya.

Terpisah, Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) Laksamana Muda TNI (Purnawirawan) Soleman B. Ponto mengatakan, tebaran teroris berada di berbagai daerah. Pola komunikasi pun kerap berubah. Sejalan dengan itu, Polisi tidak hanya dituntut cermat, tapi mampu mengubah strategi tangkal.

Ia pun menyarankan kepolisian mengubah pola penyampaian informasi ke publik setelah melihat rentetan serangan terhadap polisi dan terakhir kejadian bom di Mapolrestabes Medan. “Tentu saja ada beberapa yang perlu diperbaiki, seperti penggunaan diksi, cara penyampaian, dan tempat keluarnya informasi,” tearng Laksamana Muda TNI (Purn.) Soleman B. Ponto, kemarin.

Soleman menilai pola penyampaian informasi selama ini malah berpotensi mengakibatkan risiko serangan dari para pelaku teror tersebut makin besar ke Polri.

Saat ini publik selalu mendengar bagaimana informasi yang keluar, seperti Densus telah menembak terduga teroris. Sementara itu, alam bawah sadar orang bisa saja tidak terima dengan model informasi tersebut.

“Ya, baru terduga sudah ditembak mati. Tentu saja ada orang yang tidak terima dengan ini, kita tidak tahu akibatnya ada yang dendam, keluarganya, atau siapa,” ucap Soleman.

Diksi yang dipergunakan untuk menyampaikan informasi, lanjut dia, cukup dengan memberikan keterangan yang tidak menampakkan kearoganan dan mengecilkan para pelaku teror tersebut. ”Jadi, Polri harus besar dan mereka kecil, jangan mereka yang terlihat besar dan Polri seakan berusaha dengan cara besar melumpuhkan mereka,” bebernya.

Selain itu, Polri hendaknya tampil dengan satu nama saja sehingga kekuatan dan besarnya kepolisian makin terlihat. “Sekarang kita lihat, ada polres, polda, Densus, mabes, ada juga reskrim, dan nama lain lagi. Cukup satu nama saja, polisi, itu saja,” ucapnya.

Dengan banyak nama, seakan banyak institusi yang berupaya melumpuhkan terorisme. Hal tersebut tentunya membuat Polri terlihat kecil. Sebaliknya, pelaku teror terlihat besar. “Begitu pula corong penyampaian satu juga, tidak semua ngomong, kepolisian daerah ngomong, Densus juga, reskrim, belum lagi mabes,” ujarnya.

Sementara itu, seorang anggota Densus 88 Anti Teror Mabes Polri yang terluka ketika menangkap sekelompok orang bersenjata diduga teroris di Dusun I Kikik Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara, Sabtu (16/11).

Saat ini menjalani operasi di Rumah Sakit Bhayangkara Medan. “Anggota Densus 88 itu mengalami luka tusuk di bagian pinggang dan paha sedalam empat centimeter,” kata Kapolda Sumatera Utara Irjen Polisi Agus Andrianto.

Ia mengatakan, anggota Densus 88 itu sudah selesai dioperasi, dan sekarang dalam tahap proses pemulihan. Dua terduga teroris ditembak mati karena berusaha melawan petugas dengan menggunakan senjata tajam. “Dua orang terduga teroris yang ditembak mati, dan satu orang yang berhasil diamankan itu adalah A,K dan P,” ujarnya.

Agus menyebutkan, terduga teroris itu, juga membawa senjata api rakitan kaliber 22 milimeter. Peran dari dua orang terduga teroris yang meninggal dunia adalah perakit bom yang digunakan pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Rabu (13/11).

Sedangkan terduga teroris lainnya juga saling membantu merakit bom bunuh diri tersebut. “Ini kan satu dua hari, orang langsung bisa jadi pengantin. Artinya harus selalu waspada,” kata jenderal bintang dua itu.

Kejadian tersebut, rentetan dari peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan terduga RMN (24) yang tewas setelah melancarkan aksinya di Mapolrestabes Medan, Rabu (13/11) sekira pukul 08.35 WIB.

Petugas kepolisian sudah langsung turun ke lokasi dua rumah milik terduga bom bunuh diri yang meninggal dunia itu untuk melakukan pemeriksaan. Petugas juga memasang garis polisi di rumah terduga pelaku yang berada di Jalan Marelan, Pasar 1 Rel, Gang Melati 8, Kelurahan Tanah Enam Ratus, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.

Selain itu, petugas kepolisian juga melakukan pemeriksaan di rumah terduga pelaku bom bunuh diri, di Jalan Jangka Gang Tentram No 89B, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Hingga kini, Sabtu (16/11), polisi telah mengamankan sekitar 18 orang terkait ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Mapolrestabes Medan di Jalan HM Said Medan.

Tim gabungan Densus 88 bersama Polda Sumut mengamankan dua orang terduga teroris di Jalan Jermal, Medan. Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto mengatakan, penangkapan berlangsung pada Sabtu (17/11). Namun, Agus tidak merinci identitas kedua orang tersebut. “Dua orang yang ditangkap merupakan jaringan terduga pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan,” katanya.

Hingga saat ini, katanya, sebanyak 18 orang yang sudah diamankan terkait kasus bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan (13/11). Delapan belas orang tersebut ditetapkan sebagai tersangka. “Semuanya itu tersangka. Ada laki-laki dan perempuan. Saat ini sedang dilakukan pemeriksaan di Mako Brimob,” ujarnya.

Agus menyebutkan, tim gabungan akan terus melakukan pengembangan untuk mencari orang-orang yang terlibat dalam kasus bom bunuh diri tersebut. “Kita akan terus lakukan upaya pengejaran terhadap jaringan kelompok ini dengan harapan bahwa kita bisa memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ucapnya menegaskan.

Diberitakan sebelumnya, ledakan terjadi di Makopolrestabes Medan di Jalan HM Said Medan, Rabu pagi sekitar pukul 08.45 WIB. Ledakan yang diduga bom bunuh diri itu dilakukan seseorang berinisial RMN (24). Pelaku meledakkan diri di sekitar kantin Polrestabes Medan. Akibatnya, enam orang terluka.

(tim/fin/ful)

  • Dipublish : 18 November 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami