Selain Patuh Protokol 3M, Batasi Mobilitas Liburan Demi Cegah Covid-19

Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Profesor Wiku Adisasmito mengingatkan bahwa pergerakan manusia atau mobilitas memiliki risiko untuk menigkatkan penularan Covid-19. (dok BNPB)
Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Profesor Wiku Adisasmito mengingatkan bahwa pergerakan manusia atau mobilitas memiliki risiko untuk menigkatkan penularan Covid-19. (dok BNPB)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JaringanMedia.co.id,– Kasus penularan Covid-19 masih tinggi di atas 5-6 ribuan kasus sehari. Maka selain tentunya wajib protokol 3M yakni wajib memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun, masyarakat juga diimbau untuk membatasi mobilitas berlibur.

Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan menjelang libur akhir tahun, secara alamiah, antusiasme masyarakat adalah memanfaatkan waktu senggang untuk bepergian, baik untuk silaturahmi, maupun untuk tujuan pariwisata. Namun dia mengingatkan bahwa pergerakan manusia atau mobilitas memiliki risiko untuk menigkatkan penularan Covid-19.

“Berdasarkan penelitian mengenai dampak mobilitas libur imlek di Tiongkok tahun ini, ditemukan bahwa kota yang letaknya lebih dekat dengan wilayah pusat epidemik Covid-19 sekaligus lebih dekat dengan perkotaan yang padat penduduk, akan memiliki risiko kemunculan kasus baru yang lebih tinggi,” tegasnya dalam konferensi pers, Selasa (15/12).

Sementara pembatasan mobilitas antarkota dapat menekan risiko penularan sebesar 70 persen. Untuk pembatasan mobilitas dalam kota sebesar 40 persen harus diikuti dengan monitoring dan evaluasi yang baik.

“Berdasarkan penelitian lain tahun 2020, mengenai dampak mobilitas penduduk pada wabah di Taiwan, ditemukan bahwa waktu, durasi, dan tingkat pembatasan perjalanan memiliki andil dalam menentukan besar jumlah kasus,” tuturnya.

Selain itu, sudah jelas, berdasarkan data, setiap liburan yang meningkatkan mobilitas penduduk akan mengakibatkan lonjakan kasus pada 2 sampai 4 minggu setelahnya. Walaupun ada masyarakat yang merasa sudah aman karena telah melewati hari-hari tersebut tanpa terjangkit Covid19, menurut Prof Wiku itu hanya keamanan yanag palsu.

“emakin tinggi mobilitas, semakin tinggi risiko kita tertular atau lebih parah lagi menulari orang-orang yang kita sayangi. Maka, masyarakat diharapkan mampu mengenali dengan baik risiko jenis mobilitas dan kegiatan yang dilakukan. Saya imbau, jika perjalanan yang akan dilakukan tidak mendesak, diharapkan tidak melakukan perjalanan dan tetap selalu patuhi protokol kesehatan,” katanya. (jawapos.com)

  • Dipublish : 17 Desember 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami