Selama Alat ECMO Terpasang, Paru-Paru Istirahat untuk Pemulihan

(TIM ECMO RSUD DR SOETOMO FOR JAWA POS)
(TIM ECMO RSUD DR SOETOMO FOR JAWA POS)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Dengan bantuan extracorporeal membrane oxygenation (ECMO), seorang pasien Covid-19 berhasil disembuhkan. Tim medis harus bekerja ekstrakeras dan cermat. Termasuk memastikan alat bekerja optimal selama 9 x 24 jam.

GALIH ADI PRASETYO, Jawa Pos

TIM ECMO RSUD dr Soetomo tampak begitu semringah. Terpancar kebahagiaan di wajah mereka. Tim itu berhasil membantu kesembuhan pasien Covid-19 dengan teknologi medis ECMO.

”Ini yang pertama dilakukan di Indonesia dan berhasil,” ucap Ketua Tim ECMO RSUD dr Soetomo dr Bambang Pujo Semedi SpAn KIC pada 30 Desember 2020 saat ditemui Jawa Pos.

Memang prosedur itu dikenal memiliki tingkat kegagalan yang besar. Sedikit saja ada kesalahan, nyawa pasien menjadi taruhannya. Pasien pertama dengan metode tersebut adalah Agustina Ayu Koeswardhani.

Sebelumnya, Ayu menjalani isolasi mandiri di rumah. Namun, lama-lama kondisinya terus menurun. Napasnya semakin berat. Kemudian pada 26 November, dia rujuk ke RS PHC. Tindakan pun dilakukan. Ayu harus mendapatkan bantuan pernapasan dengan ventilator.

Kondisi kian mengkhawatirkan. Sebab, Ayu sedang mengandung. Usia kehamilannya 36−37 minggu. ”Akhirnya, keluarga memutuskan kandungannya diterminasi dulu,” ujar Agus Akhmadi, ayah Ayu.

Agus haya bisa berdoa dengan kondisi putri pertamanya.

Terminasi pun berhasil dilakukan. Jabang bayi selamat dan harus menjalani inkubasi karena lahir kurang dari masa lahir normal.

Namun, ternyata terminasi yang ditujukan untuk meringankan kerja paru-paru belum membuatnya pulih betul. Kondisi sesak masih dirasakan Ayu. Dia pun dirujuk ke RSUD dr Soetomo untuk penanganan lebih lanjut.

’’Memang keputusan terminasi dilakukan karena melihat beban kerja paru-paru Ayu yang juga dipengaruhi kandungannya. Tetapi, kondisinya tidak berubah setelah terminasi,” ungkap Agus.

Cara lain pun sudah dicoba. Yakni, dengan plasma konvalesen. Namun, ternyata cara itu belum manjur untuk melawan virus Covid-19 yang semakin melemahkan paru-paru Ayu. Situasi tersebut memang berat. Bagi Agus, dia akan melakukan apa pun agar putrinya bisa selamat dan pulih lagi.

Di RSUD dr Soetomo, Ayu mendapat penanganan. Tim dokter mengobservasi kondisi Ayu. Ventilator tidak bisa lagi banyak membantunya. Jalan satu-satunya mengistirahatkan sejenak paru-paru itu.

Dipilihlah tekologi ECMO untuk membantu pemulihannya. Tim ECMO di sana memang sudah biasa melakukan prosedur itu. Namun, untuk kasus jantung dan paru-paru. Bukan karena Covid-19.

”Kali ini kasusnya berbeda karena yang kami hadapi Covid-19. Apalagi di berbagai penanganan yang sudah dilakukan di tempat lain, termasuk Jakarta, mengalami kegagalan. Kami berusaha maksimal agar pasien bisa pulih,” tambah Wakil Ketua Tim ECMO RSUD dr Soetomo dr Yan Efrata Sembiring SpB SpBTKV(K).

Dia menambahkan, prosedur itu akan mengalirkan darah dari vena di area paha. Kemudian, darah akan melewati oksigenator. Nah, di sini kadar oksigen darah ditingkatkan. Kemudian, dialirkan lagi ke tubuh melalui vena di leher.

Fungsi alat itu layaknya alat hemodialisis. Akan tetapi, proses di ECMO menghilangkan karbondioksida, kemudian digantikan dengan oksigen.

Yan mengatakan, peningkatan kadar oksigen dalam darah akan membantu kerja paru-paru. Selama alat itu dipasang, paru-paru bisa istirahat untuk pemulihan. ”Kerja paru-paru bisa terbantu hingga 50 persen dengan alat ini,” terangnya.

Tim yang terdiri atas enam orang itu harus bekerja ekstrakeras. Pengawasan dilakukan selama 24 jam penuh. Harus bergantian untuk memastikan kondisi pasien aman dan alat bekerja dengan tepat.

Memang alat tersebut sangat sensitif. Salah satu yang harus dihindari adalah terjadinya pembekuan darah. Bila hal itu terjadi, alat akan error. ”Kalau sudah begitu, harus diganti keseluruhan alat penyaringnya,” ujar dr Kun Arifi Abbas SpAn KIC.

Selain itu, slang yang menyalurkan darah kembali ke tubuh tidak boleh bergeser. Atau aliran darah yang masuk bakal terganggu. Perawatan selama sembilan hari ternyata berhasil. Kondisi paru-paru Ayu kian baik. Secara bertahap, fungsi alat dikurangi dan dikembalikan ke paru-paru. Akhirnya, kondisinya bisa pulih betul dan tanpa menggunakan alat hingga dinyatakan sembuh dan menang melawan Covid-19.

Kerja keras 9 x 24 jam tim ECMO RSUD dr Soetomo membuahkan hasil. Upaya mereka bisa memberikan harapan bagi orang lain. ’’Karena itu, saya selalu katakan, keberhasilan ini tidak lepas dari kerja sama tim yang sangat luar biasa,” terang Yan. (jp)

  • Dipublish : 8 Januari 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami