Selama Pandemi, IGI Nilai Kinerja Mendikbud Sangat Buruk

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia, Muhamamd Ramli Rahim
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia, Muhamamd Ramli Rahim
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

MAKASSAR– Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia, Muhamamd Ramli Rahim menilai kinerja Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim sangat buruk di masa pandemi virus Corona.

“Dari hasil survei mayoritas guru Indonesia memberi nilai C, D dan E kepada Nadiem Makariem pada 10 bulan pertama dalam kepemimpinannya,” ucapnya saat dikonfirmasi pada Jumat (10/7/2020).

Menurutnya, Nadiem hanya menyerukan slogan-slogan pendidikan yang justru tidak banyak memberi perubahan pada sektor pendidikan di Indonesia.

Bahkan ia menilai, Mendikbud lebih banyak melakukan perjalanan ke luar negeri dibandingkan mengurus pendidikan dalam negeri.

“Nadiem kelihatannya hanya menang dislogan dan selama pandemi, Nadiem lebih banyak di luar negeri dibanding mengurusi pendidikan dan kenyataannya memang tidak banyak yang berubah,”bebernya.

Muhammad Ramli Rahim atau yang biasa disapa MRR ini, menyebut pendidikan di masa kepemimpinan Nadiem Makarim bukan lagi Merdeka Belajar tetapi kementerian terserah.

“Artinya mau belajar boleh, tidak belajar boleh, mau modelnya seperti apa terserah, mau stres terserah jadi hampir semuanya istilah terserah,” ungkapnya.

Padahal, kata dia, pihaknya telah meminta ke Mendikbud untuk diberikan standar pembelajaran jarak jauh di tengah pandemi virus Corona.

“Kalau misalnya pembelajaran jarak jauh dilakukan secara online standarnya seperti apa? Paling tidak standar minimalnya,” tutur MPR.

Ia mengaku, berdasarkan fakta lapangan terdapat 60 persen guru tidak memiliki kemampuan teknologi sama sekali dalam melakukan pembelajaran secara online.

“20 persen lebih diantaranya bisa melakukan pembelajaran online tetapi bikin siswanya stres, kemudian hanya 15 sampai 20 persen guru yang bisa membuat proses belajar menarik menyenangkan dan berkualitas jadi jumlahnya sangat kecil,” jelasnya pada fajar.co.id

Hal tersebut dikarenakan tidak adanya standar pembelajaran online yang diberikan. Bahkan menurutnya guru guru justru diarahkan ke layanan pendidikan berbayar. (anti/fajar)

  • Dipublish : 10 Juli 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami