September 2019, Inflasi Masih Terkendali

Ilustrasi
Ilustrasi
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2019 terjadi deflasi sebesar 0,27 persen (mont to mont/mtm). Angka ini lebih terkendali dibanding Agustus 2019 inflasi 0,12 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, angka inflasi tahunan kalender Januari sampai September 2019 sebesar 2,2 persen. Sementara inflasi tahunan 3,39 persen.

“Dengan meliat angka tahun ini, maka disimpulkan inflasi pada bulan September 2019 masih terkendali. Harapan kita berikutnya inflasi tetap terkendali,” ujar dia di Jakarta, Selasa (1/10).

Dia merinci, dari 80 kota di Indonesia, terdapat 70 kota mengalami deflasi. Sedangkan 12 kota mengalami inflasi.

Adapun deflasi tertinggi terjadi ddi Sibolga sebesar 1,94 persen dan terendah di Surabaya sebesar 0,02 persen. Sebaliknya, inflasi tertinggi terjadi di Mehlabouh sebesar 0,91 persen dan terendah di Watampone sebesar 0,01 persen.

Terkait cukai rokok yang naik sebesar 23 persen pada tahun depan, Suhariyanto mengatakan belum bisa menyebutkan berapa persen sumbangan inflasinya. Sebab sampai saat ini, pihaknya masih melakukan penghitungan.

“Sebetulnya BPS masih punya exercise, tapi angka tidak bisa saya berikan ke wartawan. Exercise masih ada banyak asumsi, tetapi secara garis besar kalau nanti harga rokoknya naik pasti dia akan menyumbang kepada inflasi,” ucapnya.

Namun, menurut dia, biasanya rokok menjadi komponen langganan penyumbang inflasi. Hanya saja, sumbangannya tidak terlalu besar. “Kita lihat, harusnya pasti ada dampaknya tapi seberapa besarnya saya sampaikan 1 Februari 2020,” kata dia.

Diketahui, pemerintah menetapkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen dan harga jual eceran sebesar 35 persen yang mulai berlaku pada 1 Januari 2020.

Terpisah, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda mengatakan penyumbang deflasi tertinggi dari kelompok bahanan makanan sebesar 0,44 persen.

Dia pun mengingatkan, kenaikan harga rokok akan menyumbang inflasi, sebab dipicu rencana kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen. “Namun yang juga diwaspadai adalah kenaikan harga pada rokok dimana kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau menyumbang inflasi sebesar 0,05 persen,” pungkas dia.

Sebelumnya, Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, pada September 2019 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen mtm. Deflasi itu utamanya bersumber dari deflasi kelompok makanan.

“Kelompok makanan mencatat deflasi seiring berlanjutnya koreksi harga sebagian besar komoditas pangan,” ujar dia. (fin)

  • Dipublish : 2 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami