Sibuk Virus Korona, DBD Bunuh 100 Pasien

FOTO: JAY/RUMGAPRES FOR FIN
FOTO: JAY/RUMGAPRES FOR FIN
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Pemerintah terlalu fokus pada penanganan virus corona. Sementara kasus demam berdarah dengue (DBD) yang lebih berbahaya seakan terabaikan dan menjadi pembunuh 100 warga Indonesia hingga saat ini.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan kasus demam berdarah di Indonesia khususnya wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah mencapai 2.711 orang dan telah merengut 32 jiwa.

“Ini sangat serius,” kata Menkes di Kemenkes, Jakarta, Senin (9/3).

Dikatakannya, selain wabah virus SARS-COV-2 yang menyita perhatian banyak pihak, kasus DBD justru semakin merenggut banyak korban, harus menjadi fokus penanganan.

“Kalau ini tidak diatasi dengan baik, akan membuat hal yang tidak nyaman. Kita terlalu sibuk dengan corona. Inilah yang justru mematikan, bayangkan dalam berapa hitungan bulan dan hari,” tegas Menkes.

Dari 2.711 kasus di NTT, 32 orang di antaranya meninggal, dengan kasus kematian terbanyak tercatat di Kabupaten Sikka 14 kasus.

Dia mengatakan masih belum mengetahui secara pasti faktor lingkungan seperti apa yang meningkatkan jumlah kasus di Kabupaten Sikka.

Terpisah, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, jumlah kasus DBD secara nasional sudah mencapai 16.099 orang dengan kematian 100 orang di 29 provinsi.

“Jumlah kasus terbanyak terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 2.711 kasus dengan kematian 32 orang. Kasus terbanyak dilaporkan dari Kabupaten Sikka sebanyak 1.195 orang dengan kematian 14 orang. Jumlah ini akumulatif dari 1 Januari hingga 8 Maret 2020,” terangnya.

Dibeberkannya, selain NTT, daerah yang berada pada zona merah yaitu Jawa Barat dengan jumlah pasien meninggal 15 orang, dan Jawa Timur 11 orang.

Untuk zona kuning di antaranya tujuh kasus kematian akibat DBD di Lampung, empat di Jawa Tengah, tiga di Bengkulu dan tiga di Sulawesi Tenggara.

Kemudian masing-masing dua kasus kematian di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah.

Selain itu, masing-masing satu kasus kematian di Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Barat.

Meski demikian, Siti Nadia mengatakan total kasus tersebut mengalami penurunan dibandingkan 2019 dimana terdapat 436 kematian akibat DBD dari keseluruhan 51.400 kasus pada rentang waktu yang sama.

“Kalau sepanjang 2019 Kemenkes mencatat terdapat sebanyak 137.761 kasus DBD dengan angka kematian mencapai 917 orang,” ungkapnya.

Dikatakannya, saat ini yang dilakukan pemerintah adalah terus mendorong peningkatan kegiatan pencegahan dengan cara memberantas sarang nyamuk baik di rumah, sekolah, tempat ibadah, dan tempat umum lainnya. Selain itu, pemerintah juga memastikan logistik tes DBD, termasuk abate, insektisida, dan larvasida mencukupi dan tersedia di daerah tersebut.

“Rumah sakit juga disiagakan untuk mengantisipasi peningkatan kasus DBD dan memastikan cairan serta alat kesehatan infus tersedia cukup di rumah sakit daerah,” katanya.(gw/fin)

  • Dipublish : 10 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami