Sidang PBB ke-74 Angkat Lima Isu Internasional, Berikut Isu Yang Di Angkat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

NEW YORK – Sidang Majelis Umum PBBke-74 tahun ini akan digelar di New York, Amerika Serikat (AS), Selasa (24/9/2019). Pertemuan tahun ini dipastikan akan diwarnai isu-isu perubahan iklim dan politik yang sedang memanas, dari soal meningkatnya ketegangan di Timur Tengah hingga masalah Rusia-Ukraina.

Saat ini, krisis global tertuju pada masalah perubahan iklim yang diperburuk dengan kebakaran hutan Amazon, lalu konflik Suriah dan Yaman, hingga ke kemiskinan di Venezuela. Pertikaian antara Israel-Palestina serta Pakistan-India atas Kashmir juga tak luput dari pembahasan di Sidang PBB.

Namun, kemungkinan besar seluruh perhatian akan tertuju pada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani, yang belakangan ini semakin meningkatkan kecaman dan ancaman satu sama lain. Ketegangan AS-Iran dikhawatirkan akan memicu konfrontasi, yang berdampak pada Timur Tengah dan di wilayah-wilayah lain.

Dari berbagai macam isu penting, berikut 5 poin yang pasti dibahas dalam Sidang Umum PBB,

1. Konflik India-Pakistan: Kashmir

Konflik antara India dan Pakistan meletup sejak tahun lalu. Namun, semakin memanas sejak India mencabut status otonomi penuh atas Kashmir pada Senin, 5 Agustus 2019 lalu. Wilayah Kashmir yang merupakan perbatasan India-Pakistan menjadi obyek sengketa kedua negara sejak 70 tahun silam.

Pakistan mengecam keras keputusan itu, karena merasa Kashmir merupakan bagiannya. Pencabutan status itu berarti India mengklaim seluruh wilayah berpenduduk mayoritas muslim itu menjadi bagian negaranya.

Keputusan India itu jelas kian menambah ketegangan kedua negara. India dan Pakistan terlibat perang beberapa kali karena Kashmir. Teranyar, kedua negara terlibat pertempuran udara dipicu serangan bom bunuh diri yang menewaskan puluhan tentara India.

Pengumuman pencabutan status otonomi di Kashmir ini disampaikan Perdana Menteri India Narendra Modi. Dia juga mendukung perubahan undang-undang yang mengusulkan wilayah itu dibagi menjadi dua dan langsung dikendalikan oleh pemerintah pusat.

Pemerintah India langsung memberlakukan pengetatan keamanan dan memotong semua jalur telekomunikasi di Kashmir.

2. Konflik AS-Iran

Kemurkaan AS atas Iran dipicu tindakan Iran yang menyita kapal-kapal tanker di Teluk. Serangan terhadap kapal tanker minyak terjadi pada 13 Juni. Serangan itu memicu ledakan dan kebakaran.

Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) merilis foto dan video yang menunjukkan Iran menyergap dua kapal tanker minyak di Teluk Oman. Gambar-gambar itu diklaim sebagai bukti keterlibatan Iran dalam serangan.

Menurut Angkatan Laut AS, foto-foto menunjukkan speedboat Iran mendekati salah satu kapal tanker untuk menghilangkan bahan peledak (limpet mine) yang gagal meledak. AS dengan cepat menyalahkan Iran atas insiden tersebut. Namun, Iran membantah klaim tersebut, dan menunjukkan insiden itu kemungkinan merupakan operasi “bendera palsu” yang dilakukan AS.

Insiden 13 Juni itu terjadi sebulan setelah empat tanker komersial lainnya rusak karena serangan misterius. AS juga menyalahkan Iran atas hal itu, yang kembali dibantah oleh Iran dengan keras.

Iran menuding AS memulai perang psikologis di kawasan, sedangkan Donald Trump mengecam republik Islam itu sebagai negara teror paling top di dunia.

3. Ketegangan Timur Tengah: Serangan di Fasilitas Minyak Saudi

Dua fasilitas minyak Aramco milik Arab Saudi diserang menggunakan drone pada Sabtu, 14 September 2019. Serangan itu memicu memicu reaksi global dan menyebabkan pasokan minyak mentah dunia berkurang 6 persen.

Serangan ini juga memicu reaksi keras dari yang menuduh dalang serangan adalah pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran. Iran diduga menyuplai persenjataan, termasuk drone yang digunakan untuk menyerang Aramco.

Serangan di kilang minyak terbesar dunia asal Arab Saudi itu berdampak cukup signifikan terhadap kenaikan harga minyak dunia. Akibat serangan, harga minyak dunia melonjak 10 persen dalam perdagangan awal Asia pada Senin (16/8). Di saat yang sama, Arab Saudi fokus untuk memulihkan produksi di fasilitas yang diserang.

Setelah adanya serangan ini, Trump kembali mengirim ke Arab Saudi, yang kian memicu ketegangan di Timur Tengah.

4. Konflik Rusia-Ukraina

Sekitar 13.000 orang tewas dalam konflik di Ukraina timur yang meletus pada 2014 setelah pemberontakan rakyat yang berujung penggulingan presiden pro-Kremlin, Viktor Yanukovych. Rusia lalu menanggapi dengan mencaplok Krimea.

Ukraina dan pendukungnya, negara Barat, menuduh Rusia menyalurkan pasukan dan memasok senjata kepada para pemberontak melintasi perbatasan untuk mengobarkan api konflik. Namun Rusia membantah hal itu, sehingga memicu ketegangan antara kedua negara.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, sempat mengancam Rusia agar tak membuang-buang waktu membujuk warga Ukraina dengan paspor Rusia.

Hal ini dia katakan setelah Presiden Vladimir Putin mengatakan Rusia akan mempermudah proses pemberian paspor Rusia kepada warga Ukraina.

5. Krisis Perubahan Iklim

Perubahan iklim menjadi salah satu masalah penting yang diharapkan dalam sidang PBB. Isu ini semakin mencuat sejak kebakaran hutan Amazon dan perbaikan reaksi global.

Paru-paru dunia itu dilalap api dan pemimpin dunia sekarang khawatir akan nasib Bumi. Aksi protes perubahan tantangan pun terjadi di sejumlha negara.

Ribuan pengunjuk rasa berkumpul dan melakukan unjuk rasa di berbagai wilayah di dunia sejak pekan lalu untuk menyerukan aksi nyata terkait perubahan iklim menjelang Sidang Majelis Umum PBB.

Aksi ini digelar di Australia, AS, Jerman, Swedia, dan negara lain. Protes ini sebagian besar terinspirasi oleh aktivis remaja Swedia Greta Thunberg, yang melakukan demonstrasi setiap pekan di bawah tema “Jumat untuk Masa Depan” selama tahun lalu.

Thunberg menyerukan, para pemimpin dunia untuk meningkatkan upaya mereka melawan perubahan iklim.

Jusuf Kalla (JK) Wakili Jokowi di Sidang PBB

Wakil Presiden (Wapres) RI Jusuf Kalla (JK) tiba di New York, Amerika Serikat (AS), Sabtu (21/9/2019) malam. Wapres JK dijadwalkan menghadiri Sidang Umum PBB yang digelar Selasa (24/9/2019).

Dalam keterangan resminya, seperti dikutip Anadolu, Minggu (22/9/2019), kehadiran Wapres JK disambut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignatius Jonan, serta Duta Besar untuk AS Mahendra Siregar.

Dalam lawatannya ke negeri Paman Sam ini, Wapres JK mewakili Presiden Joko Widodo, untuk memimpin delegasi Indonesia berbicara di forum sidang umum PBB ke-74 yang bertajuk “Galvanizing Multilateral Effort for Poverty Eradication, Quality Education, Climate Action and Inclusion”.

Di sela-sela Sidang Umum, Jusuf Kalla akan melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah pemimpin negara dan akan menghadiri undangan jamuan santap malam Presiden AS Donald Trump di Latte New York Palace Hotel.

“Di sela perundingan umum PBB, JK perunding melakukan pertemuan bilateral dengan perunding negara dan akan menerima jamuan santap malam undangan Presiden Donald Trump di Latte New York Palace Hotel,” kata Juru bicara JK, Husain Abdullah. (der/fin).

Sebanyak 193 negara anggota PBB akan menghadiri Sidang Umum Majelis PBB ke-74 kali ini yang diwakili oleh 100 kepala negara, tiga Wakil Presiden, 47 Perdana Menteri, 36 Menteri, serta 2 Chairman of Delegation. (fin)

 

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 24 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami