Situasi Panas Papua, Warga Bermalam di Lantamal X Hamadi Jayapura

Ilustrasi/ist
Ilustrasi/ist
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Situasi panas di tanah Papua tak kunjung reda. Terbaru, kerusuhan terjadi di wilayah Deiyai, Jayapura. Insiden itu menewaskan beberapa orang. Dua warga sipil dan satu anggota TNI serta lima polisi luka-luka saat mengamankan aksi unjuk rasa. Sebagian masyarakat memilih bermalam di Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) X di Kawasan Hamadi, Jayapura.

Anggota Komisi I DPR RI Sukamta menilai pemerintah harus menyelesaikan persoalan di Papua dengan transparan. Karena setelah berjalan dua pekan, belum tampak menunjukkan perkembangan yang signifikan. “Saya kira persoalannya sangat serius. Hanya saja kita masih cukup gelap atas apa yang terjadi sesungguhnya. Mengapa sampai berlarut-larut,” kata Sukamtadi Jakarta, Kamis (29/8).

Dia mendorong pemerintah segera membuat langkah yang lebih substantif dan cermat membuat situasi di Papua kembali kondusif. Padahal, Presiden Joko Widodo terbilang cukup sering berkunjung ke Papua selama memimpin bangsa Indonesia. “Presiden sudah 13 kali mengunjungi Papua. Pemerintah juga mengklaim membangun banyak infrastruktur di Papua. Oleh sebab itu, perlu segera dirumuskan oleh pemerintah. Baik agenda jangka pendek untuk mengembalikan suasana yang kondusif. Juga agenda jangka panjang untuk mengatasi persoalan mendasar yang dirasakan oleh warga Papua,” beber Sukamta.

Politisi PKS ini meminta pemerintah menghentikan sejenak isu pemindahan ibu kota negara dan fokus menyelesaikan terlebih dahulu persoalan Papua. “Pemindahan ibu kota itu memang penting. Tetapi persoalan Papua jauh lebih penting untuk diselesaikan. Jangan sampai perhatian kita teralihkan oleh hal-hal yang tidak begitu mendesak,” tandasnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto, menyesalkan adanya aparat TNI-Polri yang tewas sebagai korban kerusuhan demonstrasi di Deiyai, Papua. Kata Wiranto, ada masyarakat sipil yang juga tewas akibat terkena anak panah. “Di Deiyai korban dari TNI ada 3 orang. Yang satu meninggal dunia, 2 luka dan sekarang masih kritis, yang satu kena luka parang dan panah. Sedangkan dari aparat kepolisian ada 4 yang luka-luka. Ada juga tewas karena kena panah dan senjata-senjata dari masyarakat sendiri,” tutur Wiranto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (29/8).

Dia pun menegaskan soal kabar pemberitaan yang menyebut enam orang warga sipil meninggal adalah tidak benar. Wiranto meminta semuanya tak mudah termakan berita hoaks yang sengaja untuk memprovokasi. “Saya mengharapkan masyarakat tidak hanya di Papua Papua Barat masyarakat Indonesia ya jangan sampai termakan hoax termakan isu yang tidak benar,” paparnya.

KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa mengatakan, kondisi Papua sedang ditangani. Dia mengharapkan situasi kembali normal pasca terjadinya gejolak dari masyarakat Papua beberapa waktu lalu. “Keterangan sudah dikeluarkan oleh Kodam XVII/Cenderawasih, Papua. Merekalah yang lebih tahu situasi di sana,” ujar Andika, Kamis (29/8).

Terpisah, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyebut telah mengirim 300 anggota Brimob untuk menjaga keamanan di Deiyai, Paniai, dan Jayapura. Tito berharap peristiwa serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari. Mantan Kepala Kapolda Papua ini menyesalkan terjadinya aksi demonstrasi yang berakhir ricuh di Deiyai, Papua, Rabu (28/8). Sementara, saat ini juga terjadi aksi massa di Jayapura. “Peristiwa di Deiyai ini sehingga akhirnya ada rekan satu anggota TNI gugur. Sangat kami sesalkan. Dia gugur saat sedang menjaga senjata yang disimpan dalam kendaraan. Akhirnya dibacok dengan panah dan gugur. Senjatanya dirampas,” jelas Tito.

Dalam kericuhan itu massa juga menyerang polisi dan TNI lainnya sehingga lima polisi dan TNI terluka. Tito menduga penyerang bukanlah massa demonstran. Namun kelompok asal Paniai yang menunggangi aksi demo. “Ini kelompok yang berasal dari Paniai. Rupanya mereka sembunyi di balik massa ini dan menyerang petugas,” paparnya.

Sejumlah masyarakat akhirnya bermalam di Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) X di Kawasan Hamadi, Jayapura. Ini setelah terjadi unjuk rasa rusuh di kawasan tersebut. Mereka yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak itu berasal dari kawasan sekitar Entrop, Hamadi. Sementara pria dewasa tetap tinggal menjaga rumah.

Unjuk rasa tersebut menimbulkan kerusakan material di berbagai tempat dari Sentani, Abepura, Kotaraja hingga Jayapura. Massa pengunjuk rasa sebelumnya sempat melakukan pembakaran beberapa gedung dan pertokoan sepanjang Abepura, Entrop dan Jayapura, Kemudian bangunan Kantor Telkomsel dan Pos Jayapura. Bangunan Kantor Bank Indonesia Perwakilan Papua, RS Provita Jayapura, Mall Jayapura, dan pertokoan yang berada di sekitarnya juga dilempari dan dirusak massa pengunjuk rasa. (yah/fin/rh)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 30 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami