Sosialisasi Minim, Banyak Pelanggaran Hari Pertama PSBB Surabaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

SURABAYA,– Pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dalam rangka memutus rantai penyebaran Covid-19 pada hari pertama di Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (28/4), dinilai masih banyak pelanggaran karena minimnya sosialisasi kepada masyarakat. Pada hari pertama diberlakukan PSBB di Surabaya, Selasa (28/4), sempat viral foto dan video kepadatan dan tumpukan kendaraan bermotor di check point Bundaran Waru ke arah Kota Surabaya.

”Sosialisasi aturan PSBB kepada masyarakat utamanya pengendara motor perlu terus dilakukan, agar tidak terjadi kepadatan lalu lintas,” kata Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti seperti dilansir dari Antara di Surabaya.

Dari informasi yang dihimpun, lanjut dia, beberapa penyebab kepadatan di antaranya masih banyak pengendara yang tidak memakai masker dan masih banyak kendaraan selain pelat L yang masuk ke Surabaya. Sehingga, harus dilakukan pengecekan dan melakukan sosialisasi.

”Banyaknya pengendara yang masuk ke Surabaya umumnya adalah para pekerja yang harus masuk kerja,” ujar Reni pada Rabu (29/4).

Menurut dia, sosialisasi aturan PSBB kepada masyarakat utamanya para pekerja dari luar Surabaya dinilai masih kurang. Begitu juga kepada tempat kerja yang harus tutup selama PSBB. ”Untuk sektor kerja yang dikecualikan juga tutup, perlu diatur sif kerja agar jumlah pekerja berkurang,” tutur Reni.

Selain itu, dia meminta jalur pengecekan juga perlu diperbanyak untuk menghindari penumpukan serta sarana prasarana lain yang menunjang kelancaran. Meski demikian, Reni tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada para petugas dari kepolisian, TNI, Dishub, Linmas, dan Satpol PP yang telah bekerja keras selama pelaksanaan PSBB pada Ramadan ini.

”Kami berharap apa yang terjadi pada hari pertama ini, bisa berjalan lebih baik pada hari-hari selanjutnya selama PSBB. Tidak ada lagi kepadatan kendaraan,” ujar Reni.

Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara menjelaskan, salah satu penyebab penumpukan kendaraan saat pemeriksaan lantaran banyak kendaraan roda dua yang melanggar dengan berboncengan namun identitas tidak satu alamat. Akibatnya, mereka diminta untuk putar balik. ”Karena memang banyak sekali kendaraaan roda dua itu berboncengan yang bukan dari keluarganya,” ujar Febria.

Selain itu, kata Febri, tidak sedikit pula pengendara yang bekerja tidak dilengkapi dengan ID card atau kartu identitas maupun surat tugas dari perusahaan. Padahal, kata dia, sebelum PSBB diberlakukan, Pemkot Surabaya sudah melakukan sosialisasi kepada perusahaan-perusahaan agar membekali karyawan dengan ID card. (jp)

  • Dipublish : 29 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami