Sri Mulyani Geliatkan Ekonomi di Tengah Penurunan Suku Bunga Dunia

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memanfaatkan momentum dengan menggeliatkan perekonomian nasional atas penurunan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve AS (The Fed).

The Fed menurunkan suku bungan acuan sebesar 25 poin. Penurunan suku bunga ini merupakan terjadi ketiga kalinya dalam tahun ini.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengakui dampak penurunan suku bungan itu berdampak pada banyak negara dan mau tidak mau harus menghadapinya serta harus menerima dengan konsekuensinya.

“Jadi penurunan ini memberikan space kepada kita semuanya termasuk indonesia untuk bisa gunakan momentum ini dalam rangka meningkatkan kegiatan ekonomi,” ujar Sri Mulyani di Jakarta, Kamis (31/10).

Di sisi lain, menurut Sri, dampak penurunan suku bunga acuan ini memberikan dampak yang positif bagi investasi Indonesia. Kenapa demikian, karena dengan penurunan suku bunga cost o money-nya menjadi lebih rendah.

“Kita berharap momen ini akan muncul pada tahun 2019 akhir ini dan akan terus dijaga di tahun 2020. Kalau kita lihat dari sisi kemungkinan policy dari pemerintah RRT dengan AS bisa sepakat tentu kita berharap momentum positif ini menguat,” kata Sri Mulyani.

Terpisah, Direktur Riset Centre of Economics Reform (Core), Piter Abdullah menilai bahwa banyak faktor yang berpengaruhi terhadap investasi domestik.

“Pengaruh penurunan suku bunga The Fed terhadap investasi saya kira bersifat tidak langsung dan tidak signifikan. banyak faktor lain yang berperan lebih signifikan,” ujar Piter Kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Kamis (31/10).

Lanjut Piter, pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih baik tergantung kebijakan lainnya salah satunya regulasi yang tidak menyusahkan investor asing. Dia menyambut baik dengan kebijakan penggabungan undang-udang atau Omnibus Law.

“Pertumbuhan ekonomi banyak faktor seperti kebijakan fiskal khususnya perpajakan, kebijakan moneter Bank Indonesia, dan kebijakan sektor riil terkait regulasi dan sebagainya,” tukas Piter.

Sebelumnya, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), badan penetapan suku bunga Fed, memangkas target suku bunga dana federal menjadi ke kisaran 1,5 persen hingga 1,75 persen.

Keputusan ini diambil untuk membantu menjaga ekonomi AS tetap kuat dalam menghadapi perkembangan global dan untuk menyediakan beberapa jaminan terhadap risiko yang sedang berlangsung.

(din/fin)

  • Dipublish : 1 November 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami