Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Global 2020 Naik Tipis Menjadi 2,5 Persen dari Tahun 2019

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. (Romys Binekasri/JawaPos.com)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA,- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengaku, melihat kondisi global saat ini masih dalam situasi ketidakpastian seperti tahun 2018 dan 2019. Bahkan menurutnya, kondisi global tahun ini akan bersifat sistemik seiring dengan Bank Dunia (World Bank) yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 naik tipis menjadi 2,5 persen dari tahun 2019 yang diperkirakan berkisar 2,4 persen.

“Saya rasa kita semua menyikapi. kalau dari awal selalu dengan pemikiran optimisme kita juga, tapi kita lihat seperti 2018 dan 2019, ketidakpastian global masih akan bersistem,” ujarnya seperti diberitakan Jumat (10/1).

Menurutnya, pemerintah akan terus mencermati perkembangan geopolitik global yang teris terjadi secara dinamis dan mewaspadai perkiraan dampak yang akan berimbas ke Indonesia.

“Global environment ini tadinya diharapkan 2020 lebih positif, dibuka dengan, belum ada dua minggu, terjadinya perang yang memang tadi malam Trump buat statement tidak akan eksalasi. Tapi dengan pattern selama ini kita lihat ketidakpastian akan muncul terus. Jadi kita harus tetap waspada terhadap itu. Artinya warning 2020, resiko yang muncul di 2020 akan tetap dinamis seperti di 2019,” jelasnya.

Sri Mulyani melanjutkan lebih jauh, selain menyoroti terjadinya konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, pemerintah juga mencermati pemulihan umum (pemilu) yang akan terjadi di negara Paman Sam tersebut.

“Amerika dalam siklus pemilu sehingga akan banyak faktor-faktor politik. kedua banyak negara dalam kondisi fiskal room dan monetary room cukup terbatas jadi mereeka belum bisa meningkatkan ekonomi secara lebih signifikan lah dan itu harus jadi perhatian kita,” tuturnya.

Sehingga, pemerintah akan terus menjaga kondisi ekonomi domesti. Salah satunya terus menggunakan instrumen fiskal yang ada di APBN 2020. “Kita gunakan instrumen fiskalnya karena Indonesia suatu negara untuk memperbaiki ekonominya,” tutupnya. (jp)

  • Dipublish : 10 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami