Stok Blangko e-KTP Kembali Kosong

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

MURA – Sejak sepekan terakhir, stok blangko Kartu Tanda Penduduk elektronik atau dikenal dengan e-KTP di Kabupaten Musi Rawas (Mura) kembali kosong. Hal itu disebabkan jumlah blangko e-KTP yang dibatasi hanya 500 lembar setiap bulannya dari Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri).

“Sebulan hanya dijatah 500 lembar, dan setiap bulannya hanya boleh sekali mengajukan permintaan blangko,” demikian diungkapkan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dissukcapil) Mura, M Mori, melalui Sekretaris Disdukcapil, Edi Rosidi, di ruang keranya, Rabu (23/10).

Menurut Edi, akibat kekosongan blangko terebut pihaknya harus mengeluarkan surat keterangan (suket), bagi warga yang membutuhkan. Ada dua jenis suket yakni suket untuk pemula, artinya warga yang memang sudah masuk daftar tunggu dan memang belum pernah mencetak e-KTP. Kedua suket perubahan data, yakni warga yang ingin mengganti datanya, misalnya ganti alamat karena pindah domisili dan lainnya.

“Setiap hari permintaan suket rata-rata 60 lembar sampai 100 lembar suket,” ujarnya.

Sementara itu berdasarkan data Disdukcapil Mura hingga 28 September 2019, terdapat 284.914 warga wajib e-KTP. Dari jumlah itu yang telah melakukan perekaman dan cetak KTP 276.223 warga. Selebihnya 8.691warga belum melakukan perekaman. Sementara yang sudah melakukan perekaman dan siap cetak 1.544 warga.

Mereka yang belum melakukan perekaman dikatakan Edi, diperkirakan disebabkan beberapa faktor. Diantaranya yang beesangkutan tidak ada ditempat atau berada diluar daerah. “Entah itu bekerja atau menempuh pendidikan,” ujarnya.

Faktor lain, tempat tinggal warga yang jauh dari jangkauan, misalnya di rompok-rompok (ladang). Sehingga mereka malas untuk keluar (meninggalkan ladang).

Sementara pelayanan yang diberikan Disdukcapil Mura ada dua bentuk pelayanan yakni, pelayanan statis dan pelayanan dinamis. “Pelayanan statis ini pelayanan yang dilakukan setiap hari di kantor dan pada jam kerja, sedangkan yang dinamis, pelayanan jemput bola,” jelas Edi.

Dicontohkan Edi, pelayanan jemput bola pelayanan yang mobiler, dimana petugas capil dan peralatannya mendatangi warga di dalam suatu acara. “Misalnya besok (hari ini) kita diundang di Desa Campur Sari dan sekitarnya, ini atas permintaan desa untuk melakukan perekaman disana,” terangnya.

(yat/fin)

  • Dipublish : 24 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami