Stok Masker di Provinsi Jambi Kosong

FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.
FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAMBI – Belakangan ini, rupanya persediaan masker di Provinsi Jambi menipis. Bahkan kosong. Informasi yang didapat Jambi Independent, ada orang-orang yang memanfaatkan momen merebaknya virus corona ini, dengan sengaja membeli masker dalam jumlah besar.

Bahkan, aksi ini sudah mulai sejak bulan lalu. “Saya ditelpon orang dari luar Jambi. Mereka mau cari masker banyak,” kata sumber Jambi Independent, yang tak mau disebutkan namanya, saat dikonfirmasi.

Masker ini kata dia, rencananya akan dijual lagi untuk daerah pulau Jawa. “Soalnya di Jawa masker mulai habis. Makanya mulai cari di luar Jawa. Harga jualnya juga naik tinggi nanti,” kata dia.

Penelusuran Jambi Independent, Kemarin, hampir semua apotek atau minimarket di Provinsi Jambi, memang kehabisan stok. Di Kota Jambi misalnya, dari belasan apotek yang didatangi, hanya ada satu yang masih masih ada persediaan. Yakni, Apotek Meranti di kawasan Sipin.

Dini, penjaga Apotek Meranti mengatakan, persediaan di apoteknya hanya tinggal satu kotak. Pembelian pun terpaksa dibatasi. Satuan. Masker berwarna abu-abu dijualnya Rp2.500/pcs. “Karena banyak yang mencari, jadi pembelian kita batasi. Dari kemarin banyak yang nanya,” katanya.

Sementara Ningsih, karyawan Apotek KDA Sipin mengatakan, stok masker di apotek itu sudah kosong sejak sebulan lalu. Menurutnya, mungkin karena dikhususkannya pendistribusian masker kepada warga yang terdampak virus corona. Sehingga Jambi tak kebagian. Lanjutnya, dua hari ini banyak masyarakat yang menanyakan masker. “Pagi ini (kemarin, red) sudah 50 orang yang mencari,” ujarnya.

Menyikapi kosongnya ketersediaan masker, Wakil Wali Kota Jambi Maulana mengatakan, Pemkot Jambi telah menyiapkan stok. Apabila kondisi emergency, akan dibagikan kepada masyarakat secara gratis.

Kondisi sama juga terjadi di daerah lain. Di Kabupaten Bungo, stok masker dan antiseptik kosong sejak Januari. “Ada yang beli banyak,” kata apoteker di Apotek Kimia Farma. Kata dia, belakangan Kimia Farma hanya bisa menyimpan stok sedikit, lantaran distributor mulai membatasi pengiriman masker.

Harga jual pun naik. Yang sebelumnya satu kotak masker seharga Rp 35 ribu, kini naik menjadi Rp 75 – Rp 275 ribu.

Di Kabupaten Kerinci, juga tak jauh berbeda. Beberapa apotek di Kota Sungaipenuh, masker hilang di pasaran. Salah satu pemilik apotek mengatakan, semua masker diborong dan dibawa dengan truk. “Percuma saja dicari, semua habis,” kata sumber ini yang minta namanya tidak disebutkan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci, Hermendizal mengatakan pihaknya masih memiliki stok. “Di pasaran yang hilang bukan Sungaipenuh bae, tapi seluruh Indonesia . Dinkes punya stok sekitar 2.000 boks,” katanya.

Di Kabupaten Merangin, salah satu pemilik apotek juga mengatakan bahwa, masker di tempatnya juga telah diborong oleh seseorang. “Awalnya ngakunya untuk dibagi-bagikan,” kata dia. Praktis, saat ini sejumlah apotek tak memiliki masker. “Sudah lama kosong. Mungkin sekitar dua bulanan la kosong. Kalau tidak salah sejak virus corona boomimg,” kata Iyad, penjaga Apotek Taufik Farma.

Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Sarolangun. Di sini, stok masker terbilang aman. Di beberapa apotek, ketersediaan masker masih ada. Meski mengandalkan stok lama. “Penjualan masker masih terbilang normal. Belum begitu melonjak tinggi permintaannya. Namun untuk pemesanan baru, kabarnya terganggu lantaran stoknya kosong,” terang salah satu petugas Apotek Dini, Maria.

Senada disampaikan petugas Apotek Zahra, Elinda Putri. Kata dia, kebutuhan masker di Sarolangun terbilang normal. Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Sarolangun Bambang Hermanto saat dikonfirmasi mengatakan jika stok masker untuk Kabupaten Sarolangun masih aman. “Kalau stok aman. Jika kebutuhan meningkat, kita siap bagikan ke masyarakat secara gratis. Namun sejauh ini belum ada kebutuhan masker dalam jumlah besar,” terangnya. Sementara, di Kabupaten Tanjab Timur dan Tebo juga sama. Stok kosong.

Kapolda Jambi Irjen Pol Firman Shantyabudi, mengatakan pihaknya tetap memantau kondisi ini. “Jika ada permainan, akan kita pantau. Berusahalah dengan wajar dan jujur,” kata dia. Polda Jambi pun bergerak. Dia juga meminta masyarakat untuk sama-sama memantau hal ini. “Kita terbuka. Jika ada informasi, sampaikan,” kata dia.

Sekira pukul 16.00 kemarin, Dirresnarkoba Polda Jambi Kombes Pol Eka Wahyudianta, bersama tim memantau peredaran dan penjualan masker. Kemarin mereka mengawasi Kecamatan Jambi Selatan dan Jelutung.

“Hasilnya, delapan apotek yang didatangi, semua tak lagi memiliki stok masker dan antiseptik,” kata dia. Lanjutnya, dari hasil pengakuan pemilik dan penanggungjawab tiap apotek, kondisi ini sudah terjadi sejak satu bulan.

“Harga biasa sebelum terjadi kekosongan stok masker hanya Rp 35 ribu per boks, dengan isi tiap bok 50 masker. Harga sekarang sekitar Rp 250 ribu sampai Rp 500 ribu per boks,” kata dia. Selain itu, tak ada lagi pengiriman masker maupun antiseptik dari agen maupun distributor. (fin/jm)

  • Dipublish : 5 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami