Sudah Siapkan Eko-Eko Berikutnya

KONSISTEN: EKo Yuli Irawan saat tampil dalam kelas 61 kg di Tokyo Internasional Forum, Tokyo, kemarin (25/7). (VICENZO PINTO/AFP)
KONSISTEN: EKo Yuli Irawan saat tampil dalam kelas 61 kg di Tokyo Internasional Forum, Tokyo, kemarin (25/7). (VICENZO PINTO/AFP)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Selain bulu tangkis, betapa Indonesia sangat berutang budi kepada angkat besi. Cabang olahraga (cabor) yang sepi perhatian dan tak banyak dilirik sponsor, tapi tiada henti membanggakan negeri di ajang-ajang prestisius.

Di Olimpiade Tokyo 2020 ini, misalnya, angkat besi sudah menyumbang dua medali. Sehari setelah lifter muda Windy Cantika Aisah merebut perunggu di kelas 49 kilogram putri, kemarin (25/7) giliran lifter senior Eko Yuli Wirawan mempersembahkan perak di kelas 61 kilogram putra.

Itu medali Olimpiade keempat bagi Eko. Masing-masing dua perak dan dua perunggu. Dia pun memecahkan rekor atlet pertama Indonesia yang bisa melakukannya.

Dan, Indonesia bisa menambah medali lagi dari cabor ini karena masih menyisakan Rahmat yang tampil Rabu lusa (28/7) di kelas 73 kilogram putra dan Nurul Akmal di kelas 87 kilogram putri pada Senin pekan depan (2/8).

Jadi, sewajarnya kalau angkat besi menjadi salah satu cabor prioritas pemerintah. Melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga, pemerintah menetapkan 14 cabor unggulan yang menjadi grand design dalam meningkatkan prestasi di tingkat internasional. Terutama pada Olimpiade.

Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto menuturkan, perhatian khusus tidak ada dan sama dengan cabor lain. ”Soal konsisten (meraih medali), saya kira sama seperti bulu tangkis. Toh bulu tangkis tidak menuntut hal yang sama kan. Bahkan, bulu tangkis sering meraih medali emas (Olimpiade),” ujarnya kepada Jawa Pos.

Angkat besi menjadi satu di antara total 14 cabor yang masuk Grand Design Olahraga Nasional 2021–2045. Selain angkat besi, ada bulu tangkis, panjat tebing, panahan, menembak, wushu, karate, taekwondo, balap sepeda, atletik, renang, dayung, senam artistik, dan pencak silat.

”Nanti mereka dapat special treatment. Baik anggaran maupun tempat khusus untuk latihan,” beber Gatot.

Dalam melakukan pembinaan, PB PABSI selektif. Setiap bulan mereka mengadakan tes angkatan. Jika angkatan lifter dinilai tidak progresif dan jeblok dalam kejuaraan, mereka langsung terdegradasi. Lifter-lifter baru pun siap mengisi posisi tersebut.

Selain dari kejuaraan-kejuaraan daerah, pihaknya memantau pembinaan di daerah. Hal yang sama terjadi pada kasus Windy Cantika Aisah. Dia baru masuk pelatnas pada Februari 2019 setelah beberapa lifter terdegradasi.

”Dari PPLP (pusat pendidikan dan latihan olahraga pelajar) daerah juga kami pantau. Seperti Windy dari PPLP Bandung. Kemudian, ada Rizky Juniansyah dari PPLP Banten yang sempat dapat gelar di Kejuaraan Dunia Junior 2021,” ujarnya.

menambahkan, selanjutnya pihaknya terus mencari dan membina Eko-Eko yang lain untuk melanjutkan prestasi tersebut. Maklum, pada Jumat lalu (23/7) Eko sudah genap 32 tahun.

  • Dipublish : 26 Juli 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami