Sulit Membangunkan Buah Hati untuk Sahur? Coba Kiat dari Psikolog Keluarga ini

Ilustrasi seorang anak digendong ibunya (Pixabay)
Ilustrasi seorang anak digendong ibunya (Pixabay)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JARINGAN MEDIA – Sebagian orang tua mungkin mengalami kesulitan membangunkan si buah hati untuk sahur selama Ramadan. Psikolog keluarga Ayoe Soetomo mengungkapkan kiat agar anak tidak sulit bangun untuk sahur. Ayoe menuturkan, orang tua sebaiknya memberi tahu soal seputar sahur dan Ramadan sejak jauh-jauh hari agar anak sudah mempersiapkan diri dan tahu harus bangun lebih pagi dari biasanya.

“Sebaiknya ajak anak mengetahui puasa Ramadan dari jauh-jauh hari atau beberapa hari sebelum puasa agar anak tidak sulit bangun sahur,” kata Ayoe dalam webinar kesehatan, ditulis Sabtu.

Coba jelang tidur bercerita tentang kisah-kisah agama seperti cerita para nabi. Berbincanglah dengan buah hati bahwa sebentar lagi umat Islam akan melaksanakan puasa Ramadan yang melibatkan aktivitas sahur.

Jelaskan apa kegunaan sahur, juga jam berapa dia harus bangun selama bulan puasa. Agar anak lebih tertarik dan bersemangat untuk belajar beribadah selama Ramadhan, libatkan juga anak dalam diskusi soal menu makan sahur.

“Biar tidak sulit, dari malam sudah ajak ngobrol, ‘besok kita sahur ya jadi harus bangun pagi’. Atau ajak bantu siapkan menu masakan, lalu tanya mau menu apa,” katanya.

Jika anak sudah siap dan bersemangat untuk puasa, aturlah jam tidur agar anak tidak lebih mudah dibangunkan pada dini hari. Dia menyarankan orang tua untuk mulai mengenalkan puasa pada anak sejak usia empat tahun.

Cara mengenalkannya bukan dengan mengharuskan dia berpuasa secara penuh, tapi mengetahui rutinitas puasa seperti sahur pada pagi hari, juga kewajiban untuk menahan haus dan lapar hingga waktunya berbuka puasa. Secara perlahan, seiring bertambahnya usia, ajak anak untuk belajar berpuasa mulai dari setengah hari hingga akhirnya bisa berpuasa hingga sehari penuh.

“Sesuaikan sama usia saja, jangan paksa anak yang masih terlalu kecil. Kalau dirasa kuat, tidak apa-apa dilanjutkan untuk berpuasa.” Ketika anak sedang belajar puasa, ada kalanya dia akan merasa tergoda untuk berbuka sebelum waktunya.

Untuk anak yang fisiknya sudah kuat untuk belajar puasa, anak bisa membuat mereka “lupa” dengan rasa lapar dan haus lewat aktivitas-aktivitas menarik dan menyenangkan seperti bermain. Satu hal lain yang tidak boleh dilupakan orangtua adalah mengasosiasikan puasa dan bulan Ramadhan sebagai kegiatan yang menyenangkan karena ada aktivitas seperti salat tarawih berjemaah di rumah atau buka puasa bersama di rumah bersama orangtua.

Dengan demikian, puasa tidak menjadi beban berat bagi anak dan mereka bisa menjalaninya dengan riang gembira. (antara/jpnn)

  • Dipublish : 17 April 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami