Tagihan Listrik Melonjak, Jubir Jokowi Bela PLN

Petugas PLN sedang mengecek meteran listrik di Rusun Benhil, di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Petugas PLN sedang mengecek meteran listrik di Rusun Benhil, di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Juru Bicara Presiden Bidang Sosial Angkie Yudistia mengatakan, tidak ada kenaikan tarif listrik seperti dikeluhkan warga beberapa waktu terakhir. Meskipun banyak warga yang sampai mendatangi kantor PLN karena tagihan listrik bulanannya yang naik dengan tak wajar.

Menurut Angke adanya kenaikan listrik tersebut karena tingginya konsumsi yang dilakukan oleh masyarakat karena di masa pendemi virus Korona atau Covid-19 masyarakat lebih banyak beraktifitas di rumah.

“Lonjakan tarif listrik yang tinggi disebabkan oleh konsumsi yang jauh lebih banyak saat kita lebih sering beraktifitas di rumah,” ujar Angkie kepada wartawan, Selasa (9/6).

“Masa pandemi yang mendorong diberlakukannya kebijakan PSBB menjadikan kegiatan kita lebih intens di rumah dan mengakibatkan penggunaan listrik yang juga turut mengalami peningkatan,” katanya.

Secara teknis, lanjut Angkie, PLN juga telah menjelaskan faktor yang menyebabkan tarif listrik menjadi tinggi selama PSBB. Ada sistem angsuran carry over selama tiga bulan untuk menjaga lonjakan tagihan akibat pemakaian yang lebih banyak dibanding sebelum PSBB.

Sebelumnya, PT PLN (Persero) memberikan penjelasan terkait banyaknya keluhan masyarakat soal tingginya kenaikan tagihan listrik. Banyak pelanggan listrik pasca bayar mengeluh, tiba-tiba tagihan listrik mereka melonjak signifikan.

Senior Executive Vice President Bisnis & Pelayanan Pelanggan PLN Yuddy Setyo Wicaksono menjelaskan, ada tiga penyebab tagihan listrik pelanggan tiba-tiba bengkak. Hal itu tak terlepas dari berubahnya kebiasaan masyarakat karena penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga membuat perusahaan terpaksa menerapkan pekerjanya bekerja dari rumah.

Menurutnya, kebijakan Work From Home (WFH) membuat konsumsi lebih tinggi dari biasanya, karena banyaknya anggota keluarga berada di rumah. Sebab, selain pekerja, kegiatan belajar-mengajar juga terpaksa menerapkan kebijakan belajar secara online. Sehingga, semua aktivitas dikerjakan di rumah.

Dia menjelaskan, segala aktivitas bekerja yang terjadi sejak Maret tagihannya akan dibayarkan pada rekening April dan Mei. Tak heran, catatan penggunaan pada masa WFH tersebut menyebabkan peningkatan tagihan yang mestinya dibayarkan pada April dan Mei.

Lebih lanjut dia menjelaskan, memasuki bulan Ramadan, konsumsi listrik lebih meningkat karena aktivitas sahur yang membuat kebiasaan pemakaian berubah.

Dia juga menjelaskab, sejak WFH tagihan listrik dihitung berdasarkan rata-rata 3 bulan sebelumnya atau sebelum WFH. Sementara, pemakaian listrik pada bulan April dan Mei mengalami peningkatan karena WFH.

Kelebihan pemakaian listrik pada April dan Mei belum terhitung dan terbayarkan, karena penghitungan rata-rata 3 bulan sebelumnya tadi. Sementara, pada bulan Juni, penghitungan listrik dihitung dengan sesungguhnya ditambah peningkatan pemakaian listrik yang mestinya masuk tagihan April dan Mei.

Hal inilah yang menurutnya membuat tagihan listrik pada Juni tampak naik signifikan. “Waktu Juni dicatat sesungguhnya maka bulan Juni sudah naik WFH sebelum Covid, ditambah lagi kWh yang belum dicatat belum dibayar April-Mei ditumpukkan ke bulan Juni,” pungkasnya.‎ (jp)

  • Dipublish : 9 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami