Takut Banjir Susulan, 173 Ribu Orang Masih Memilih Mengungsi

BERTAHAN DI PENGUNGSIAN: Warga bertahan di tenda pengungsian di bantaran rel kereta Pesing, Jakarta Barat, Jumat (2/1/2020). (DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)
BERTAHAN DI PENGUNGSIAN: Warga bertahan di tenda pengungsian di bantaran rel kereta Pesing, Jakarta Barat, Jumat (2/1/2020). (DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA,- Sebagian besar banjir di Jabodetabek telah surut kemarin (3/1). Namun, masih ada ribuan pengungsi yang butuh bantuan.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah pengungsi di Jabodetabek mencapai 173.064 orang. Jumlah tersebut tersebar di sedikitnya 107 titik. Sementara itu, korban meninggal dan hilang mencapai 47 orang.

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta sampai pukul 12.00 WIB kemarin, air masih menggenangi 53 kelurahan di 23 kecamatan se-Jakarta. Di Kabupaten Bekasi, ketinggian air tercatat masih 20 hingga 50 cm. Lalu, Kota Bekasi 20 hingga 300 cm, Kabupaten Bogor 20–30 cm, Kota Tangerang 30–50 cm, Kota Tangsel kurang dari 10 cm, Jakarta Timur 20–25 cm, Jakarta Barat 20–70 cm, Jakarta Selatan 20–200 cm, dan Jakarta Utara 20–70 cm.

Para korban banjir Jakarta masih bertahan di 84 titik pengungsian. Selama tinggal di pengungsian, warga berharap mendapat bantuan makanan dan perlengkapan mandi. ”Nggak sempat bawa apa-apa,” keluh Ida Fitriani, pengungsi di Gelanggang Remaja, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Saat diwawancarai Jawa Pos, Ida tengah menggendong Getfirta. Bocah 19 bulan itu adalah anak keduanya. Yang pertama, Nazwa, berusia 6 tahun. Saat mengungsi, Ida hanya sempat membawa satu tas berisi baju anak-anaknya dan minyak kayu putih. Meski rumahnya tak jauh dari tempat tersebut, Ida dan suaminya belum berani pulang. Sebab, air masih tinggi. Para pengungsi juga khawatir banjir susulan datang. Sebab, mereka mendengar kabar bahwa hujan besar akan datang lagi.

Sementara itu, Komisioner KPAI Susianah Affandy meminta agar tempat-tempat pengungsian dilengkapi pojok ASI untuk ibu menyusui. ”Bentuknya bisa sederhana dan portabel seperti ruang ganti baju di toko,” ujarnya. Selain itu, toilet harus bersih dan terpisah antara laki-laki dan perempuan. ”Anak dan remaja perempuan, apalagi yang sedang fase menstruasi, harus mendapat fasilitas toilet dan air bersih yang terjamin keamanannya,” paparnya.

Susi menerima pengaduan terkait distribusi bantuan sosial untuk anak-anak korban banjir yang tidak merata. Bantuan yang datang hanya berupa simbolis. ”Ada korban banjir yang mengaku hanya menerima barang bekas seperti pakaian bekas, sedangkan bantuan barang baru beli dimasukkan ke gudang,” tuturnya. Dia meminta BNPB berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan korban banjir, khususnya ibu dan anak.

Kepala Pusat Krisis Kemenkes Budi Sylvana menyatakan, harus ada perhatian bagi bayi dan lansia yang menjadi korban banjir. Sebab, mereka rentan terhadap penyakit. Dalam pengungsian, biasanya terjadi penyakit diare, gatal-gatal, hingga leptospirosis. ”Karena itu, lingkungan di lokasi pengungsian harus bersih,” ucapnya.

BPPT Mulai Jalankan Teknologi Modifikasi Cuaca

BERSIHKAN JALAN: Warga membersihkan jalan pascabanjir yang melanda kawasan Kampung Pulo, Jakarta, Jumat (3/1/2020). (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)

Dalam jangka pendek, pemerintah akan mengandalkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengurangi intensitas hujan. Kepala Balai Besar TMC Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto mengatakan, misi hujan buatan sudah resmi dijalankan. Dia berharap intensitas hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya bisa berkurang sekitar 40–50 persen. Tidak selebat atau sederas hujan pada 1 Januari lalu. ’’Harapannya, kalaupun hujan, intensitasnya normal,’’ tuturnya di kantor BPPT kemarin (3/1). Seto mengatakan, secara teknis, pelaksanaan TMC atau hujan buatan itu adalah menaburkan garam pada awan yang terbentuk di utara Jakarta. Harapannya, hujan turun sebelum awan sampai di langit ibu kota.

Untuk menjalankan misi itu, BPPT bekerja sama dengan TNI-AU. Pesawat yang dipakai jenis CASA 212-200 dari Skadron Udara 4 Abdurrachman Saleh, Malang, dan pesawat CN-295 dari Skadron Udara 2 Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Kepala BPPT Hammam Riza menuturkan, misi hujan buatan dilaksanakan sampai awal Maret. Dia menjelaskan, penanganan potensi hujan lebat di DKI Jakarta dan sekitarnya menjadi prioritas. Sebab, Jakarta adalah ibu kota negara yang juga pusat bisnis. TMC dijalankan untuk meminimalkan intensitas hujan. Caranya dengan menjatuhkan hujan sebelum memasuki Jakarta. Yakni, di Selat Sunda atau Laut Jawa.

Hammam menegaskan, menjatuhkan hujan di perairan atau lautan dipastikan aman. Namun, lanjut dia, kesuksesan bergantung pada kondisi atau ketersediaan awan. Karena itu, BPPT bersama BMKG memantau kondisi awan secara terus-menerus.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, hujan lebat yang memicu banjir merupakan siklus. Akibat pemanasan global, siklus hujan ekstrem datang lebih cepat. Dari yang biasanya sepuluh sampai lima tahun kini menjadi dua tahun atau bahkan lebih cepat.

Dia berharap pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat lebih memperhatikan informasi peringatan dini BMKG. Sebab, informasi itu hasil dari prakiraan cuaca. Dwikorita mengatakan, akurasi prakiraan BMKG saat ini 80–85 persen. ’’Memang bisa salah karena kami bukan Tuhan,’’ tuturnya.

Kebut Proyek Bendungan Sukamahi dan Ciawi

Sementara itu, Kementerian PUPR berjanji menyelesaikan Bendungan Sukamahi dan Ciawi yang berada di hulu Sungai Ciliwung pada tahun ini. Pembangunan bendungan itu merupakan bagian dari rencana induk (masterplan) untuk mengendalikan banjir dari hulu hingga hilir. ’’Saat ini progres pembangunan Bendungan Ciawi sudah 45 persen dan akan diselesaikan akhir tahun ini atau Desember 2020,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Progres konstruksi bendungan lebih cepat daripada jadwal yang seharusnya baru mencapai 38,9 persen. Bendungan Ciawi direncanakan memiliki volume tampung 6,05 juta meter kubik dan luas area genangan 39,40 hektare. Biaya pembangunannya mencapai Rp 798,7 miliar. Bendungan itu didesain untuk mengurangi debit banjir yang masuk Jakarta dengan menahan aliran air dari Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebelum sampai di Bendung Katulampa yang kemudian mengalir ke Sungai Ciliwung. ’’Terselesaikannya Bendungan Ciawi akan mereduksi banjir 111,75 meter kubik per detik,” jelas Basuki.

Selain Bendungan Ciawi, dibangun Bendungan Sukamahi dengan volume tampung 1,68 juta meter kubik dan luas area genangan 5,23 hektare. Saat ini progresnya telah mendekati 40 persen. Di hilir, kata Basuki, sudah dilakukan normalisasi Sungai Ciliwung. BBWS Ciliwung Cisadane di bawah Ditjen SDA juga telah menyelesaikan penambahan pintu air Manggarai dan Karet serta menuntaskan sudetan Sungai Ciliwung ke Kanal Banjir Timur. ’’Dengan dibangunnya Bendungan Ciawi (Cipayung) dan Bendungan Sukamahi, debit banjir di pintu air Manggarai diperkirakan menjadi 570 meter kubik/detik,” terangnya.

Basuki mengatakan, potensi banjir masih cukup besar. Apalagi, BMKG memprediksi puncak musim hujan terjadi pada pertengahan bulan ini. Basuki mengungkapkan, kemarin pagi pihaknya sudah memberangkatkan 287 pegawai Kementerian PUPR. Para pegawai tersebut akan disebar ke 180 titik untuk menyurvei penyebab banjir. Dia yakin upaya mengecek setiap titik akan efektif.

Sebagai contoh, saat banjir menerjang tol Jakarta–Cikampek awal pekan lalu, tim berhasil menemukan penyebabnya. ”Tol Jakarta–Cikampek kenapa banjir? Karena drainase tersumbat oleh kegiatan proyek. Kami bongkar dan sekarang selesai,” terangnya. (jp)

  • Dipublish : 4 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami