Terjebak Virus Korona di Kapal Pesiar, 270 WNI Terkatung-katung di Laut

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA,- Pemerintah terpaksa menambah rencana evakuasi warga negara Indonesia (WNI) yang tersangkut kasus virus korona. Sebab, bukan hanya kru kapal Diamond Princess di Jepang yang terjebak epidemi virus baru tersebut. Ada juga anak buah kapal pesiar The World Dream yang kondisinya lebih memprihatinkan.

Kapal yang berbendera Malaysia itu ditolak sandar di beberapa negara. Baik negara asal Malaysia maupun Singapura hingga Indonesia. Saat ini kapal tersebut terpaksa menurunkan jangkar di perairan internasional dekat Pulau Bintan, Kepulauan Riau.

Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto mengungkapkan, kapal ditolak sandar setelah diketahui adanya penumpang yang positif Covid-19. Penumpang itu terdeteksi sakit setelah turun di Hongkong. ”Jadi, semua penumpang sudah turun di Hongkong. Saat turun, otoritas Hongkong melakukan pemeriksaan. Ada yang positif,” ujarnya dalam temu media di kantor Kemenkes, Jakarta, kemarin (21/2).

Pemeriksaan serupa dengan menggunakan PCR (polymerase chain reaction) telah dilakukan terhadap 1.104 anak buah kapal (ABK), termasuk 270 ABK WNI. Hasilnya dinyatakan negatif. Kendati demikian, mereka tetap ditolak sandar. ”Mereka berlayar tanpa penumpang waktu itu ke Malaysia. Namun, begitu terdengar ada yang positif, semua negara menolak mereka,” jelasnya.

Saat ini, papar dia, pemerintah sudah merencanakan upaya evakuasi 270 WNI di kapal tersebut. Mereka akan dijemput dengan kapal TNI-AL, yakni KRI Banjarmasin, dari Surabaya.

Jika tiba di darat, mereka akan menjalani masa karantina selama 14 hari. Namun, belum ada keputusan soal lokasi yang bakal digunakan untuk karantina itu. ”Semua tempat disiapkan, termasuk yang sebelumnya (Natuna, Red), juga disiapkan kembali,” jelas pria yang biasa disapa Yuri tersebut.

Sementara itu, menyangkut WNI di Diamond Princess, Yuri mengabarkan bahwa saat ini kapal tersebut hanya dihuni ABK. Seluruh penumpang telah turun. Namun, yang menjadi catatan dan harus jadi kewaspadaan, kapal itu telah menjadi episentrum baru yang analog. Artinya, orang-orang di dalam kapal tersebut sangat mungkin tertular. Risikonya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang di Wuhan, Tiongkok. Karena itu, rencana pemulangan 74 WNI yang dinyatakan negatif Covid-19 baru dilakukan setelah seluruh pemeriksaan kesehatan rampung. Rencananya, hasilnya keluar hari ini (22/2). Apabila dinyatakan aman, mereka langsung dijemput untuk dipulangkan ke Indonesia.

Jika melihat risiko penularan yang tinggi, masa observasi bakal berbeda. Para WNI itu akan menjalani masa observasi lebih lama, yakni 2×14 hari. Yuri menyebutkan, adanya perubahan karakter klinis penyebaran virus tersebut turut menjadi salah satu alasan. Dari temuan terbaru pada pasien yang positif virus itu, gejalanya lebih ringan. ”Bahkan, ada yang tidak ada gejala. Nah, itu yang dikhawatirkan. Jangan-jangan virus itu sudah bermutasi. Maka dari itu, khusus kasus kapal tersebut, diberlakukan observasi dua kali masa inkubasi,” jelas Yuri.

Persiapan di KRI dr. Soeharso menyiapkan ruang karantina saat sandar di Dermaga Madura Ujung Koarmada II kemarin (20/2). KRI dr. Soeharso disiagakan mengevakuasi 74 WNI yang bekerja di kapal pesiar Diamond Princess yang kini berlabuh di Yokohama, Jepang. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)

Tiongkok Klaim Temukan Vaksin Virus Korona

Kemarin (21/2) Wakil Menteri Sains dan Teknologi Tiongkok Xu Nanping mengungkapkan bahwa vaksin untuk Covid-19 sudah ditemukan. Vaksin tersebut siap diuji coba secara klinis pada April nanti. Tidak diungkap secara pasti apa saja kandungan vaksin itu.

’’Beberapa tim peneliti mencoba teknik berbeda untuk menciptakan vaksin yang potensial,’’ ujarnya seperti dikutip Agence France-Presse.

Wakil Direktur Komisi Kesehatan Tiongkok Zeng Yixin menjelaskan, ada lima pendekatan untuk menciptakan vaksin yang bisa mencegah persebaran virus. Salah satunya dengan menggunakan virus korona yang dinonaktifkan untuk memproduksi vaksin.

Cara lain adalah menggunakan rekayasa genetik untuk memproduksi secara masal protein yang bisa menjadi antigen untuk Covid-19. Peneliti juga berusaha memodifikasi vaksin influenza yang kini ada di pasaran. ’’Saat ini beberapa proyek sudah memasuki tahap tes pada binatang,’’ katanya.

Hasil yang didapatkan peneliti Tiongkok itu lebih maju daripada penelitian negara lain. (jp)

  • Dipublish : 22 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami