Terkait Hepatitis Akut, Kelanjutan PTM Masih Tunggu Hasil Penelitian

ilustrasi. Pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen di SDN Pondok Labu 01, Jakarta Selatan,  (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
ilustrasi. Pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen di SDN Pondok Labu 01, Jakarta Selatan, (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jaringanmedia.co.id – Investigasi pada 15 anak yang diduga terpapar hepatitis akut misterius masih berlangsung. Hingga kemarin belum diketahui penyebab penyakit yang telah menyebar ke sejumlah negara itu.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta masyarakat untuk terus melakukan pencegahan penularan dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Ketua Umum IDAI Piprim Basarah Yanuarso SpA(K) kemarin (10/5) menyatakan, pihaknya bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masih menyelidiki penyebab hepatitis akut. Yang dilakukan adalah surveilans untuk mendeteksi secara dini. ”Setiap Senin kami lakukan koordinasi dengan IDAI cabang di seluruh daerah,” ungkapnya kemarin.

Hasil koordinasi dengan IDAI cabang pada Senin lalu (9/5), belum banyak laporan tentang penularan hepatitis akut. Kasus di Tulungagung dan Sumatera Barat juga belum masuk kriteria probable hepatitis akut. Piprim pun meminta masyarakat tetap tenang dan melakukan PHBS.

Dia telah memberi tahu seluruh dokter anak untuk cepat merespons jika ada gejala hepatitis akut. Misalnya, BAB berwarna pucat dan tubuh kuning. Langkah yang harus dilakukan adalah tes fungsi hati. Dia minta agar setiap gejala direspons sehingga dapat tertangani secara dini.

Ketua UKK Gastro-Hepatologi IDAI dr Muzal Kadim SpA(K) menyatakan, adenovirus yang selama ini diduga menjadi penyebab hepatitis akut sebenarnya memberikan efek ringan. Misalnya, diare dan muntah yang bisa sembuh dalam dua atau tiga hari. ”Namun, WHO sudah umumkan KLB (kejadian luar biasa, Red). Jadi, kita harus waspada,” ujarnya.

Karena penyebab penyakit belum diketahui, Kemenkes belum memberikan rekomendasi penundaan pembelajaran tatap muka (PTM). ”Bukan berarti kita menunggu kasus berat dulu. Tapi, hanya menunggu bukti karena harus teliti,” ujarnya. Kebijakan tersebut bisa berubah sewaktu-waktu jika diperlukan.

Anggota Komisi IX DPR Okky Asokawati mengatakan, pemerintah harus bertindak cepat dalam merespons persoalan kasus hepatitis akut. Respons cepat dibutuhkan untuk memberikan ketenangan kepada masyarakat dan menjadi tindakan preventif atas munculnya penyakit tersebut.

Menurut dia, komunikasi publik pemerintah dalam menanggapi hepatitis akut harus satu narasi yang solid, sistemis, dan terukur. ”Mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah,” kata ketua DPP Bidang Kesehatan Partai Nasdem itu.

Menurut Okky, selain persoalan komunikasi, langkah edukasi yang bersifat preventif dapat ditingkatkan dengan menggandeng berbagai stakeholder di masyarakat. Langkah itu bisa dilakukan sembari menunggu perkembangan terkini mengenai hepatitis akut di Indonesia.

Pemerintah juga harus segera melakukan konsolidasi dengan melibatkan dokter spesialis anak, dokter spesialis penyakit dalam, serta unit pendidikan dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga SMA. Tentu juga melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meningkatkan aspek pencegahan.

Okky menyebutkan, dalam menangani kasus persebaran hepatitis akut, pemerintah dapat belajar dari penanganan kasus Covid-19. ”Semua dilakukan agar lebih mengedepankan aspek preventif,” tuturnya. (jpc/jm)

  • Dipublish : 11 Mei 2022
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami