Terkait Kehidupan New Normal, Begini Langkah Kemenristek

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek/BRIN) membuka kembali program pendanaan riset dan inovasi terkait penanganan wabah Covid-19. Pada tahap kedua, para peneliti dan perekayasa diminta lebih fokus pada tema new normal.

Sebagai informasi, new normal ini merupakan situasi normal baru sebagai upaya adaptasi terhadap pandemi Covid-19. Terdapat perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun tetap menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Dalam pengumuman pendanaan riset dan inovasi tahap I, Senin (18/5), Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro meminta agar peneliti dan perekayasa yang masih ingin menyampaikan proposal baru bisa diperkuat pada terapi pasien Covid-19. Dia menilai, penelitian di sektor terapi sangat penting sebagai alternatif penyembuhan selama vaksin belum ditemukan dan belum ada obat pasti untuk penyembuhan.

“Terapi plasma konvalesen sudah cukup banyak. Mungkin bisa dicoba di stem cell, mungkin,” ujarnya.

Kemudian, mengenai suplemen. Diakui banyak biodiversity yang diklaim bisa untuk Covid-19. Namun, dia meminta agar tetap mengedepankan prosedur yang ada. Terkait studinya, pengujiannya, hingga nanti disetujui BPOM. “Bahwa suplemen meningkatkan daya tahan tubuh iya, tapi apakah daya tahan untuk covid-19? Itu menarik digali,” Bambang.

Bambang menegaskan, seluruhnya akan sangat berguna dalam kondisi new normal nanti. Menurutnya, selama vaksin belum ditemukan dan obat yang pasti belum ada, maka mau tidak mau harus menyiapkan diri untuk hidup berdampingan dengan Covid-19. “Artinya kita bergerak pada paradigma normal baru atau new normal,” ungkapnya.

Bagi para peneliti yang masuk dalam pendanaan ini didorong untuk memulai penelitian berkaitan dengan new normal. Misalnya, peneliti di bidang sosial dan humaniora yang bisa melakukan penelitian mengenai bagaimana jika vaksin tidak ditemukan. Kemudian, bagaimana kesiapan masyarakat menghadapi new normal dan lainnya.

”Mereka yang bekerja di bidang kesehatan tahu persis, ada beberapa penyakit sampai sekarang yang belum ditemukan vaksinya. Tapi kita bisa hidup berdampingan,” sebut Bambang.

Dia mencontohkan untuk penyakit DBD dan HIV. “Kita bisa hidup dengan DBD dan HIV. Kenapa? Karena DBD ada terapinya transfusi darah misalnya. HIV ada obat yang ditemukan di Amerika,” sambungnya.

Oleh karena itu, menjadi sangat penting ditemukan riset dan inovasi untuk terapi bagi pasien Covid-19. Bukan lagi persoalan dampak PSBB yang dibuka. Menristek berpendapat, ke depan, semua protokol dalam new normal harus memasukkan pertimbangan dari pakar epidemiologi. Hal itu karena aturan harus lebih spesifik lagi, tidak hanya sekadar cuci tangan dan pakai masker.

“Misal untuk naik pesawat bagaimana, nonton bioskop bagaimana. Detilnya harus luar biasa,” ungkap mantan Dekan FE-UI tersebut.

Bukan hanya terapi, dalam skrining juga turut ditekankan. Bambang menegaskan bahwa nantinya rapid test sangat krusial perannya. Sebab, pengecekan pasien positif Covid-19 tidak cukup hanya mengandalkan suhu. Sehingga penelitian untuk menciptakan rapid test yang lebih cepat, lebih mudah, dan lebih akurat sangat ditekankan.

”Jadi nanti dalam setiap event, rapid test bisa dijadikan syarat untuk siapa saja yang boleh masuk dan tidak,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Ali Ghufron Mukti menambahkan, untuk tahap kedua nanti, Kementerian bersama dengan LPDP masih memiliki dana sekitar Rp 30 miliar. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan kuliatas produk penelitian dan substitusi impor bisa dilakukan. Tahap kedua bakal dibuka hingga 2 Juni 2020.

”Dana masih cukup. Kita persilakan pada para peneliti untuk menyampaikan percepatan inovasi yang berkualitas,” ujarnya.

Sebelumnya, pada tahap pertama, Panitia Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 berhasil menjaring 134 proposal riset di bidang pencegahan Covid-19, skrining, alat kesehatan, obat dan terapi, hingga public healt modeling. Pemerintah menyiapkan dana hingga Rp 60,6 miliar untuk pelaksanaan penelitian tersebut. (jp)

  • Dipublish : 19 Mei 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami