Teror Medan Lalu Bali

Sourche (Facebook)
Sourche (Facebook)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Tentu ada fakta-fakta baru setelah operasi gelap yang dilakukan Densus 88 Antiteror. Sosok Rabbial Muslim Nasution (RMN) hanya kunci untuk membongkar skenario lain. Terbukti ada desain untuk melancarkan aksi di Bali, setelah bom Medan.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyatakan, dari komunikasi di media sosial itu, tercium adanya rencana teror di Bali. Polisi kini tengah melacak siapa eksekutor dan lokasi target.

Indikasi ini, juga terendus dari DA, istri RMN. ”DA cukup intens mengunjungi narapidana teroris (napiter) di Lapas Wanita Kelas II Medan. DA sendiri telah kita amankan Rabu (13/11) malam,” jelasnya.

Dalam pemeriksaan diketahui bahwa DA lebih dulu terpapar paham radikal dibanding suaminya. ”DA ini yang diduga membuat suaminya memiliki paham radikal,” ungkapnya.

Petugas sudah menggeledah rumah DA. Sayangnya, belum ditemukan adanya bahan peledak. Hanya ada senjata tajam dan sejumlah buku catatan. ”Dari mendsos kita bisa melacak aktivitas DA. Ya seperti disampaikan tadi, ia (DA, red) cukup aktif,” jelasnya.

Nah, nerdasar hasil pemeriksaan, DA sering mengunjungi napiter berinisial I. Dia menjelaskan, densus masih mencari bukti terkait jaringan pelaku bom bunuh diri itu. ”Ya, apakah memang pelaku ini lone wolf atau terhubung dengan kelompok teroris. Semua masih didalami,” ungkapnya.

Hingga kemarin, jenis dan perakit bom yang meledak di Mapolrestabes Medan belum diketahui. Dedi mengakui daya ledaknya lumayan besar. Namun, belum bisa dipastikan apakah bom tersebut masuk kategori high atau low explosive. ’’Nanti, ya tunggu dari labfor,’’ katanya.

Hingga kemarin, jumlah terduga teroris yang ditangkap bertambah dari delapan menjadi sepuluh orang. Yakni, lima orang di Riau, tiga orang di Banten, satu orang di Bekasi, dan satu orang di Jawa Tengah. ’’Masih diteliti hubungannya dengan aksi di Medan,’’ ungkapnya.

Diakui Dedi, setelah peristiwa itu polisi berhasil menangkap sejumlah terduga teroris. Mereka ditangkap diduga sebagai anggota jaringan RMN, pelaku bom bunuh diri di Polresta Medan. ”Tiga diamankan di Banten, dan satu di Jawa Tengah. Dugaan sementara keterlibatan tiga orang di Banten adalah dugaan JAD Banten,” jelasnya.

Sedangkan, seorang yang diamankan di Jawa Tengah hingga kini masih dikembangkan. Dedi menjelaskan, keempat orang tersebut adalah tersangka yang telah mengikuti latihan militer dan ada juga mengikuti perang.

“Keempat tersangka tersebut adalah tersangka yang telah mengikuti latihan militer dan ada juga mengikuti perang bersama ISIS di Suriah, selanjutnya dikembangkan oleh tim 88,” paparnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardy mengatakan terduga teroris ditangkap pada Rabu (13/11). Salah satu terduga teroris yang telah diamankan di Kota Serang berinisial QK. Dia bekerja di salah satu perusahaan BUMN di Banten.

Dijelaskan, Edy, empat terduga teroris yang ditangkap berinisial DA (pria) berusia 28 tahun, QK (pria) usia 54 tahun, AP (pria) usia 45 tahun, MA (pria) usia 45 tahun. “Tidak menutup kemungkinan ada orang lain (teroris) di sana (perusahaan milik negara). Salah satu (yang diamankan) karyawan di BUMN,” katanya.

Penangkapan terduga teroris kabarnya juga terjadi di wilayah Cianjur, Jawa Barat dan Binjai, Sumatera Utara. Sepasang suami-istri berinisial DS dan DK ditangkap Tim Densus 88 di Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Cianjur, Jawa Barat. Keduanya diamankan di dua lokasi berbeda.

“DS (24) diamankan di sebuah sekolah tempatnya mengajar di Kampung Cibanteng, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, sedangkan DK (25) istrinya diamankan di rumah kontrakan,” kata Ure Suryadi Ketua RT setempat.

Warga sekitar sempat terkejut dengan kedatangan puluhan anggota polisi berseragam dan berpakaian preman dengan senjata laras panjang yang langsung menggeledah rumah kontrakan dan langsung mengamankan pemiliknya.

“Proses penangkapan sangat singkat, petugas juga membawa sejumlah barang menggunakan kantong plastik berukuran besar. Kami tidak tahu apa isi di dalamnya. Masih Ada barang yang ditinggalkan di dalam kontrakan,” katanya.

Sayangnya, Kapolres Cianjur, AKBP Juang Andi Supriyatno menolak memberikan keterangan terkait penangkapan terduga teroris tersebut.”Saya tidak bisa memberikan keterangan, nanti Humas Polda Jabar saja,” katanya singkat.

Selain di Cianjur, Densus juga mengamankan seorang wanita terduga teroris berinisial S. Dia diamankan di Jalan Gumba, Lingkungan X, Kecamatan Binjai Utara, Kota Binjai, Sumut, pada Kamis (14/11) siang, sekira pukul 12.30 WIB.

Camat Binjai Utara Adri Rivanto membenarkan penangkapan itu.”Siang tadi mendapat laporan dari Kepala Lingkungan X, bahwa di Jalan Gumba telah terjadi penangkapan terduga teroris,” katanya.

Terkait penangkapan sejumlah terduga teroris, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD mengatakan bahwa jaringan pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara, sudah diketahui.

“Sudah. Sudah dapat laporan biar dijelaskan oleh Polri. Sudah ada yang ditangkap delapan orang,” kata Mahfud di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis.

Mahfud pun tidak merinci pelaku bom bunuh diri itu dari jaringan mana. Dia menyebut pernyataan lebih perinci, termasuk jaringan yang melibatkan terduga pelaku bom bunuh diri akan disampaikan secara resmi oleh kepolisian. Namun, dia menegaskan bahwa pihaknya akan langsung menindak, termasuk mencari jaringan pelaku teroris itu.

(gw/fin/ful)

  • Dipublish : 15 November 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami