Tidak Ada Realisasi, Jusuf Kalla Marah

Foto : Iwan Tri wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK : Wapres Jusuf Kalla menyampaikan pidato dalam Peringatan Hari Konstitusi di Gedung MPR, Jakarta, Minggu (18/8). Peringatan Hari Konstitusi akan dilanjutkan dengan seminar bertema 'Evaluasi Pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945'. Acara ini juga diikuti perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Foto : Iwan Tri wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK : Wapres Jusuf Kalla menyampaikan pidato dalam Peringatan Hari Konstitusi di Gedung MPR, Jakarta, Minggu (18/8). Peringatan Hari Konstitusi akan dilanjutkan dengan seminar bertema 'Evaluasi Pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945'. Acara ini juga diikuti perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Kesabaran Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah tak terbendung. Kali ini, pria yang biasa disapa JK itu meluapkan pernyataan di luar kebiasaannya. Ia berang terhadap seorang pengusaha yang dinilai ingkar janji membantu rekonstruksi pemulihan pascabencana khususnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Palu, Sulawesi Tengah.

“Kemana-mana karena isu hebat menderma, yang janji kiri-kanan tapi tidak ada realisasinya. Ini tokoh pengusaha yang sudah dapat Bintang (Mahaputera Naraya, red). Sudah janji (bangun) 1.500 rumah, yang diakuinya cuma 100,” kata JK di Kantor Wapres Jakarta, kemarin (27/8).

Kali ini, Wapres membuka perangai buruk pengusaha itu karena mendapat surat dari Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mengeluhkan rekonstruksi pascabencana terhambat karena ada pengusaha yang tidak memenuhi janjinya membantu pembangunan. Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola juga mengeluhkan hal serupa.

“Di NTB lebih parah lagi, orang yang sudah dielu-elukan karena merasa hebat menyumbang kiri-kanan, mau ajukan (bangun) rumah, ajukan apa, disambut oleh gubernur, panglima. Aduh, itu bohong semuanya, merasa hebat tapi tidak ada buktinya,” tambahnya.

Oleh karena itu, Wapres mengingatkan kepada jajarannya dan juga kepala daerah terdampak bencana untuk tidak mudah percaya kepada pengusaha yang obral janji memberi bantuan pembangunan. Wapres juga memperingatkan kepada para pengusaha untuk tidak mengumbar janji memberi bantuan hanya demi mendapatkan penghargaan dari Presiden.

“Peringatan juga pada pengusaha yang suka janji kiri-kanan, merasa langsung dikasih (Bintang) Mahaputra, padahal tidak ada hasilnya nol,” tegasnya.

Berdasarkan catatan yang ada, sejumlah pengusaha yang pernah mendapatkan penghargaan Tanda Kehormatan Mahaputera Naraya antara lain Dato Sri Tahir (diberikan pada 15 Agustus 2018), Arifin Panigoro dan Sofjan Wanandi (diberikan pada 15 Agustus 2019).

Dalam beberapa pemberitaan media, Dato Sri Tahir tercatat akan membantu proses pembangunan dan perbaikan rumah terdampak bencana di Kabupaten Lombok Utara, NTB, untuk 1.500 kepala keluarga. Pendiri dan CEO Grup Mayapada itu mengatakan akan menyumbang Rp45 miliar untuk pembangunan dan perbaikan 1.500 rumah, dengan asumsi satu rumah mendapat alokasi Rp30 juta.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan pemerintah tidah hanya melakukan renovasi rumah yang terkena musibah gempa. Pemerintah juga telah melatih warga untuk cara pembangunan rumah tahan gempa.

“Kementerian PUPR melibatkan para mahasiswa dari perguruan tinggi dan TNI untuk mengawasi pembangunan rumah. Secara bersamaan Kementerian PUPR juga memperbaiki infrastruktur, pembangunan pasar dan sekolah,” ujarnya.Sedangkan 43 sekolah dari 500 lebih sekolah rusak, tambah Menteri PUPR, sudah dibangun. (fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 28 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami