Tidak Peduli Korona, Ratusan Warga Ambil Paksa Jenazah Covid-19

ILUSTRASI: Warga Dusun Erat Mate, Desa Mekar Sari, Gunungsari, Lombok Barat, ramai-ramai menggeruduk RSUD Kota Mataram tadi malam untuk memaksa membawa pulang jenazah pasien positif terinfeksi Covid-19. (Dok. Polres Mataram)
ILUSTRASI: Warga Dusun Erat Mate, Desa Mekar Sari, Gunungsari, Lombok Barat, ramai-ramai menggeruduk RSUD Kota Mataram tadi malam untuk memaksa membawa pulang jenazah pasien positif terinfeksi Covid-19. (Dok. Polres Mataram)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

MATARAM – Ratusan warga menggeruduk RSUD Kota Mataram, Senin (6/7) malam. Mereka datang menuntut agar pihak rumah sakit membolehkan jenazah perempuan 47 tahun berinisial M, Warga Dusun Erat Mate, Mekar Sari, Gunung Sari, Lombok Barat, dibawa pulang keluarga.

Seperti diberitakan Lombok Post (Jawa Pos Group), Ny M dinyatakan meninggal sekitar pukul 16.00 Wita. Satu jam kemudian, hasil uji laboratorium sampel swab yang telah diambil pada 4 Juli keluar. Ny M dipastikan telah terinfeksi Covid-19. Karena dinyatakan positif Covid-19, pihak rumah sakit hendak memakamkan Ny M sesui protokol Covid-19.

Namun, pihak keluarga menolak jika almarhumah dimakamkan dengan prosedur tersebut. Keluarga tidak percaya kalau jenazah positif Covid-19. Keluarga menganggap jenazah almarhumah diswab setelah meninggal dunia. Sekitar pukul 19.30 Wita, ratusan massa sudah berkumpul di depan RSUD Kota Mataram.

Mereka merangsek dan berupaya untuk mengambil jenazah almarhumah. Situasi tak terkendali. Tim keamanan dari jajaran TNI-Polri yang ada di lokasi tak mampu menghalau massa. Massa berhasil merangsek masuk ke dalam rumah sakit.

Berulangkali dilakukan negosiasi. Namun, tetap keluarga menolak. Pihak rumah sakit pun tak mau pasien dimakamkan tanpa prosedur Covid-19. Negosiasi dilanjutkan. Sementara jumlah massa yang berdatangan terus bertambah. Hasil negosiasi masih tetap buntu. Dan di tengah tekanan dan desakan massa, pihak RSUD Kota Mataram kemudian menyiapkan surat pernyataan melepas tanggung jawab terhadap jenazah.

Surat pernyataan itu ditandatangani keluarga almarhumah, kepala dusun, kepala desa, camat, dan perwakilan dari rumah sakit. Selanjutnya, massa membawa jenazah Ny M menggunakan taksi. Menuju rumah duka.

Kabagops Polresta Mataram Kompol Taufik mengatakan, aksi penjemputan paksa tersebut dilakukan oleh pihak keluarga korban yang datang bersama ratusan warganya ke Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram. ”Kami dari Polri bersama TNI, dan aparat desa dan camat sudah berupaya mengamankan terkait pengambilan paksa jenazah oleh warga,” kata Taufik.

Sebelumnya kata dia, pihak rumah sakit sudah menjalin komunikasi intensif dengan keluarga jenazah agar dimakamkan dengan protokol Covid-19. Namun, massa yang begitu banyak tetap ngotot untuk memakamkan jenazah tanpa menggunakan protokol. ”Upaya tersebut tidak dihiraukan oleh pihak keluarga dan warga yang datang bersama warga,” jelasnya.

Kerumunan massa yang datang melebih jumlah personel pengamanan akhirnya merangsek dan berhasil masuk area rumah sakit dan memadati halaman parkir RSUD Kota Mataram. ”Mereka yang datang kemudian memaksa pihak rumah sakit mengeluarkan jenazah untuk dibawa pulang dan dikuburkan oleh pihak keluarga,” pungkasnya.

Sementara itu, Camat Gunung Sari M Mudasir mengungkapkan, dirinya mendapatkan laporan meninggalnya almarhumah M pukul 16.00 Wita. Dia mencoba untuk memberikan pengertian kepada masyarakat. ”Namun, masyarakat tetap bersikukuh untuk membawa pulang jenazah dan dimakamkan oleh keluarga,” kata Mudasir.

Mudasir mengaku dirinya tak bisa berbuat banyak untuk membendung keinginan dan desakan warga. Bahkan dirinya yang menjadi ketua gugus tugas penanganan Covid-19 tingkat kecamatan di Gunungsari dipaksa warga untuk menandatangani surat pernyataan penolakan tindakaan prosedur penanganan Covid-19. ”Ya, tadi saya dipaksa menandatangani itu,” jelasnya.

Namun Mudasir masih belum hilang harapan. Dirinya mengaku masih akan mengimbau warga. Juga akan memastikan masyarakat yang terlibat memandikan jenazah Ny M menggunakan alat pelindung diri lengkap. Selanjutnya, orang yang memandikan juga terbatas. ”Maksimal 10 orang,” ujarnya.

Begitu juga saat salat jenazah harus menjaga jarak. Jangan sampai bertumpuk serta harus menggunakan masker. ”Itu yang akan kita imbau saat pemakaman nanti,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur RSUD Kota Mataram dr. HL Herman Mahaputra mengatakan, jenazah Ny M dilepas pihaknya setelah keluarga menandatangani surat pernyataan penolakan pemakaman jenazah menggunakan protokol Covid-19. “Diambil pihak keluarga langsung sekitar pukul 21.00 Wita,” tuturnya. (jp)

  • Dipublish : 8 Juli 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami