Tim Teknis Polri Resmi Bertugas Ungkap Kasus Novel

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah menandatangani surat perintah (Sprin) sejumlah anggota yang masuk dalam tim untuk mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Tim dibentuk berdasarkan hasil rekomendasi Tim Gabungan pencari Fakta (TGPF).

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo membenarkan Sprin untuk nama-nama personel di tim teknis lapangan sudah ditandatangani Kapolri.

“Ya, jadi hari ini (kemarin) proses pendistribusian sprin kepada seluruh personel yang terlibat dalam tim teknis pengungkapan kasus saudara NB (bukan new balance) sudah diberikan. Kemudian, untuk besok (hari ini) tim teknis pun sudah langsung bekerja,” kata Dedi di Mabes Polri, Rabu (31/7).

Menurut Dedi, sprin kepada personel berdasarkan dengan pelaksanaan tugas masing-masing anggota sesuai kompetensi, kemudian sesuai juga dengan teknis kemampuan yang dibagi dalam sprin tersebut.

“Jadi, fokus tim ini dengan kemampuan teknis terbaik yang dimiliki masing-masing personel Polri tersebut. Dan sesuai dari sprin tim ini bekerja enam bulan, sementara kemarin ada perintah 3 bulan dari presiden yang jelas tim akan bekerja secara maksimal,” tutur Dedi.

Dedi menuturkan, dalam tugasnya, nanti pertama-pertama timakan melakukan analisa tempat kejadian perkara (TKP). Kenapa harus TKP? Karena proses ini merupakan titik tolak dari pekerjaan awal tim. Sesuai teori, pembuktian setiap peristiwa pidana, selalu bermula dari lokasi kejadian.

“Jadi, dengan olah TKP yang baik dan didukung dengan sebuah peralatan, serta proses pembuktian secara ilmiah, maka tingkat presentase pengungkapan kasus bisa 60-70 persen. Lagi pula triangle accident itu juga ada di situ, seperti TKP, barang bukti, dan tersangka,” jelasnya.

“Dan segitiga (TKP, barang bukti, tersangka) ini akan kembali diolah lagi oleh tim teknis dengan melibatkan Labfor, Inafis dan tim IT. Selain itu juga, ada tim pemeriksa lainnya dari TKP,” sambung Dedi. Langkah kedua, lanjut Dedi, tim nanti akan mendalami hasil pemeriksaan saksi yang sudah diperiksa penyidik Polda Metro Jaya terdahulu. Total saksi yang sudah diperiksa kurang lebih 70 orang. Hasil pemeriksaan akan diklaster sesuai waktu, dan apa yang diketahui guna dikerucutkan petunjuknya.

“Dan sesuai rekomendasi TGPF, ada enam kasus high profile yang diduga kuat menjadi motif aksi tersebut. Dan enam kasus ini menjadi salah satu materi pemeriksaan saksi-saksi,” ucapnya.

“Adapun setelah tahap itu, kata Dedi, tim kemudian akan fokus menganalisa lebih dari puluhan CCTV, baik di TKP, sekitar TKP dan keterkaitan dengan TKP. Tentunya, dikaitkan dari tkp, pemeriksaan saksi dan cctv. “Setiap petunjuk yang ditemukan itu akan dianalisa,” ujarnya.

Dedi menyebut, kalau tim teknis yang terdiri dari 90 orang lebih anggota Polri terbaik ini juga bakal kembali mendalami sketsa wajah dan menganalisa. Selain itu juga akan mempertajam kearah penyidikan wajah dari diduga pelaku penyiraman air keras ke wajah Novel. “Proses ini jelas bertujuan, agar bisa mengarah kepada konstruksi wajah yang semakin sempurna terhadap sosok diduga pelakunya. Tim ini sendiri akan bekerja sama dengan Dukcapil Kemendagri, sehingga sketsa wajahnya semakin akurat lagi,” jelasnya.

“Untuk tahap ini, leading sektornya dari Pusinafis, dan kerja sama dengan Dukcapil Kemendagri itu penting. Karena setelah hasil identifikasi Inafis akan dikaitkan dengan data base Dukcapil, sehingga nanti bisa ketemu orang yang diduga tersebut. Minimal, dari situ minimal dapat mengerucut untuk mengetahui peristiwa pidana tersebut,” imbuhnya Terakhir, Dedi meyakini, kalau tim teknis yang dipimpin Kabareskrim Polri Irjen Pol Idham Aziz ini dapat mengungkap kasus Novel. “Saya punya keyakinan tim berisi anggota Polri terbaik ini mampu mengungkap kasus tersebut. Tim juga kan sudah mempelajari dari tim TPF, untuk lebih jelasnya besok perkembangannya akan kami disampaikan secara lengkap, seperti siapa saja yang terlibat dan kemampuan tim ini,” tuturnya. “Dan perlu disampaikan, jika dalam waktu yang telah ditargetkan tim ini belum berhasil ungkap kasus ini, maka bisa diperpanjang lagi enam bulan. Tapi, tetap targetnya itu 6 bulan, dan jika kurang dari 6 bulan bagus,” tambahnya. (Mhf/gw/fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 1 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami