Tingginya Kasus Positif Covid-19 Berdasarkan Data Real Time?

Rapid test Covid-19 masal pedagang di pasar rakyat Bantul. (Hery Sidik/Antara)
Rapid test Covid-19 masal pedagang di pasar rakyat Bantul. (Hery Sidik/Antara)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Setiap hari masyarakat selalu disuguhkan dengan angka pertambahan kasus baru Covid-19 yang selalu tinggi. Angkanya rata-rata di atas seribuan kasus. Sebagai orang awam, masyarakat merasa cemas dengan kondisi ini. Apakah gambaran ini menjadi tolak ukur bahwa kasus Covid-19 di Indonesia mengkhawatirkan? Atau justru sudah bisa dikendalikan karena tes uji spesimen semakin digenjot.

Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah menjelaskan tingginya angka kasus Covid-19 di suatu wilayah tak bisa menggambarkan bahwa penularan sudah pasti cepat di wilayah itu atai dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Sebab ada banyak faktor yang membuat angka kasus positif itu tinggi. Dalam istilah epidemiologi disebut dengan Positivity Rate.

“Setiap daerah angka Positivity Rate-nya berbeda. Daerah A, B, C, dan D misalnya punya sama-sama 60 kasus positif, tapi yang diuji bervariasi. Maka Positivity Rate-nya akan berbeda. Misalnya wilayah A ada 60 kasus positif dan yang diuji ada 100 orang, maka Positivity Rate adalah 60 persen. Lalu kota B ada 60 kasus positif, tapi yang diuji 300 orang, maka Positivity Rate hanya 20 persen. Jadi karena yang diuji banyak, seakan-akan positifnya banyak,” jelasnya dalam konferensi pers virtual, Rabu (1/7).

Maknanya, jika yang diperiksa lebih banyak, maka angka penularan akan jauh lebih rendah. Dia memberikan ilustrasi pada pertengahan Mei angka Positivity Rate Indonesia adalah 13 persen. Saat itu ada 3 ribu kasus positif dan spesimen yang diperiksa sebanyak 26 ribu.

“Nah sekarang sampai 28 Juni kan angka seribu terus per hari. Dalam sepekan ada 8 ribuan kasus. Tapi spesimen yang diperiksa 55 ribu spesimen. Maka Positivity Rate lebih rendah yakni 12 persen. Memberi gambaran lebih lambat penularan, dan semakin besar yang diuju maka Positivity Rate akan semakin rendah,” papar Dewi.

Dewi mengakui angka Positivity Rate ideal di suatu wilayah berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 5 persen. Dan angka Indonesia masih sekitar 12-13 persen. Diakuinya untuk mencapai standar WHO diperlukan usaha yang keras.

“Tapi sekali lagi, Indonesia berbeda karakternya di tiap kabupaten kota. Dari Sabang sampai Merauke berbeda. Pembandingnya seberapa besar?” tegasnya.

Maka ilustrasi lainnya adalah jika angka kasus dibandingkan dengan 100 ribu penduduk di kabupaten kota, maka bukan kota di Jawa Timur yang tertinggi Positivity Rate-nya. Ternyata justru Jakarta Pusat yang paling tinggi.

“Jika menghitungnya per 100 ribu penduduk dan jumlah penderita Covid-19, maka yang tertinggi justru pertama adalah Jakarta Pusat, kemudian, Makassar, Surabaya, Jayapura, dan Banjarmasin,” tegasnya.

Dan jika semakin kecil dijabarkam satu persatu, tak semua wilayah Jawa Timur memiliki zona merah. Tiga tertinggi adalah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.

Penjelasan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah diapresiasi oleh Presiden Komisaris Koran Jawa Pos Jati Hidayat. Dia mendorong Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 untuk menjelaskan kepada masyarakat trkait angka-angka detail tersebut secara rutin. Sehingga masyarakat tak hanya disuguhkan dengan angka-angka tinggi yang mengejutkan setiap hari dengan angka di atas seribu kasus.

“Jika data mentah saja, masyarakat tak akan mengerti. Mengambil kebijakan juga jadi sulit. Makanya penjelasan harus lebih luas. Sebab dunia publik dan pers ingin tahu, apakah Indonesia ini masih In Control, atau Out of Control. Harusnya diberitahu dalam konteks tren, positivity rate, dan moving average trend,” kata Jati Hidayat.

Langkah selanjutnya, kata dia, harus dipetakan apakah suatu wilayah sudah bagus atau jelek dalam mengendalikan Covid-19. Jika masih 13 persen dari banyaknya kasus tanpa gejala, lanjutnya, pemerintah harus memberi gambaran yang jelas bagaimana Indonesia posisi dan kondisi Indonesia sebenarnya.

“Sebab masyarakat jadi bingung. Dan data yang diumumkan pun kan berdasarkan spesimen yang diperiksa 3 hari lalu. Lalu apakah bukannya semakin sempit real time-nya akan semakin akurat? Indonesia ini membaik atau buruk sebenarnya,” tukasnya.

“Maka memang harus diumumkan rutin penjelasan seperti ini. Jangan hanya jumlah kasus saja,” kata Jati Hidayat. (jp)

  • Dipublish : 2 Juli 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami