Tugas Berat Menanti, Kesehatan Calon Menteri Perlu Diperiksa

Foto: Raka Denny/Jawa Pos
Foto: Raka Denny/Jawa Pos
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA,- Presiden Joko Widodo segera mengumumkan nama menteri atau susunan kabinet untuk masa jabatan lima tahun ke depan periode kedua ini. Seorang menteri memikul tugas yang berat dan harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Karena itu butuh fisik dan mental yang sehat.

“Untuk menjadi calon rektor saja perlu pemeriksaan kesehatan yang lengkap baik fisik maupun psikis. Tugas seorang menteri ke depan merupakan tugas yang cukup berat,” kata Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr.dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB kepada JawaPos.com, Senin (21/10).

Untuk itu, diperlukan pemeriksaan kesehatan. Bahkan, kata dia, sistem pemeriksaan kepada calon presiden yang telah rutin dilakukan sejak Pilpres sebelumnya juga diterapkan kepada calon menteri yang akan datang.

“Jangan sampai para menteri jatuh sakit di tengah perjalanan,” sambungnya.

Menurutnya, calon menteri bisa saja untuk menyertakan hasil check-up kesehatan yang terbaru dari rumah sakit yang ditunjuk. Menurut dr. Ari, beberapa alasan pemeriksaan kesehatan tersebut menjadi penting. Salah satunya, banyak penyakit yang awalnya hanya dapat diketahui dengan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan penunjang lain baik pemeriksaan rontgen maupun pemeriksaan USG.

Kadar gula darah yang tinggi, kadar kolesterol yang tinggi serta kadar asam urat tinggi pada awalnya hanya diketahui dengan pemeriksaan laboratorium. Tekanan darah yang tinggipun diketahui hanya dengan pemeriksaan tekanan darah.

Gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi hati hanya diketahui dengan pemeriksaan laboratorium. Jantung yang bengkak dan kelainan paru dapat diketahui dengan pemeriksaan foto thoraks. Melalui pemeriksaan USG abdomen dapat diketahui adanya kelainan pada liver, kandung empedu, pankreas, limpa serta kedua ginjal dan organ-organ abdomen lainnya. Terjadinya serangan jantung atau stroke merupakan kelainan yang paling sering dialami oleh para eksekutif termasuk para menteri maupun pejabat eselon 1.

“Adanya kelainan yang ditemukan belum tentu menggugurkan seseorang menjadi menteri. Tapi paling tidak, deteksi adanya kelainan yang diketahui lebih awal pada calon menteri akan lebih baik untuk upaya pencegahan dan terapi awal. Sehingga tim dokter menteri atau dokter yang ditunjuk untuk menjaga kesehatan menteri sudah tahu kondisi sakitnya,” tuturnya. (jp)

  • Dipublish : 21 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami